Pemerintah mendorong pemanfaatan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja dan merancang kebijakan ketenagakerjaan yang lebih tepat sasaran. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan hal itu dalam Webinar Optimalisasi Pemanfaatan Data Sakernas untuk Kebijakan Ketenagakerjaan pada Rabu (9/9/2026). Menurut dia, data Sakernas diperlukan untuk membaca dinamika pasar kerja, mengidentifikasi kesenjangan keterampilan, serta menentukan bentuk intervensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Yassierli menilai data yang akurat dapat membantu pemerintah memahami kondisi pasar kerja sebelum menetapkan program. Pemanfaatan data tersebut juga diarahkan untuk memperkuat keterhubungan ketersediaan tenaga kerja, kompetensi lulusan, dan kebutuhan dunia industri.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Data Sakernas Memiliki Empat Fungsi Strategis
Yassierli menjelaskan, pemanfaatan Sakernas setidaknya memiliki empat fungsi strategis. Pertama, data digunakan untuk memantau kondisi pasar kerja secara lebih terintegrasi dengan platform SIAPkerja.
Kedua, Sakernas menjadi instrumen untuk mendiagnosis persoalan ketenagakerjaan, termasuk mengidentifikasi ketidaksesuaian keterampilan atau skill mismatch kualifikasi tenaga kerja dan kebutuhan industri.
Persoalan tersebut dinilai penting karena kebutuhan industri berubah dengan cepat. Ketika keterampilan lulusan tidak sesuai dengan pekerjaan yang tersedia, pemerintah membutuhkan informasi yang kuat untuk menentukan pelatihan dan program peningkatan kompetensi yang tepat.
Ketiga, data Sakernas digunakan untuk merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan menentukan intervensi secara lebih presisi. Keempat, data tersebut berfungsi memperkuat basis argumentasi pemerintah dalam menyusun kebijakan sekaligus mendukung koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Ini suatu kenyataan bahwa data adalah komoditas yang sangat mahal dan bernilai tinggi,” ujar Yassierli.
Data Sakernas Dukung Transisi Pendidikan ke Dunia Kerja
Menurut Yassierli, penggunaan data yang akurat memungkinkan pemerintah merancang kebijakan yang lebih spesifik untuk memperkuat transisi dari pendidikan menuju dunia kerja.
“Dengan data yang akurat, kita dapat merancang kebijakan spesifik berupa School-to-Work Transition atau transisi dari pendidikan ke dunia kerja melalui Program Magang Nasional dan Pelatihan Vokasi,” kata Yassierli.
Ia juga meminta Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) lebih responsif dalam mengelola dan memanfaatkan data yang tersedia. Pemanfaatan data, kata dia, harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan kebijakan secara konkret.
Dengan pendekatan tersebut, data Sakernas tidak hanya berfungsi sebagai statistik mengenai kondisi angkatan kerja. Data itu diharapkan dapat diterjemahkan menjadi informasi untuk menentukan prioritas program, meningkatkan kualitas intervensi, serta mengantisipasi perubahan kebutuhan pasar kerja.
BPS Perkuat Statistik Ketenagakerjaan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan BPS berkomitmen menyediakan statistik ketenagakerjaan yang berkualitas sebagai dasar pengambilan keputusan. BPS juga memperkuat kolaborasi dengan kementerian/lembaga dan ILO Jakarta untuk menghasilkan gambaran kondisi ketenagakerjaan yang lebih utuh dan akuntabel.
“Data statistik bukan sekadar deretan angka, melainkan fondasi utama untuk memahami persoalan, mengidentifikasi tantangan, sekaligus merumuskan arah kebijakan yang tepat sasaran,” ujar Amalia.
Kolaborasi penyedia data dan kementerian/lembaga pengguna data dinilai penting agar informasi ketenagakerjaan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang responsif terhadap perubahan pasar kerja.
Pemanfaatan data Sakernas secara lebih optimal diharapkan membantu pemerintah menjembatani kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja. Selain itu, data tersebut diharapkan memperkuat transisi lulusan menuju dunia kerja dan memastikan program ketenagakerjaan dirancang berdasarkan kondisi serta kebutuhan yang terukur.





















