Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan menegaskan pentingnya solidaritas internasional dan akses perawatan yang setara dalam peringatan Hari Parkinson Sedunia yang bertema “United for Progress, Hope for All” pada 11 April. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyatakan bahwa penyakit Parkinson, yang pertama kali dijelaskan oleh Dr. James Parkinson pada 1817, tetap menjadi tantangan besar dalam kesehatan global karena sifatnya yang progresif dan dampaknya yang luas terhadap kualitas hidup.
Imran Pambudi menjelaskan bahwa penyakit ini mencerminkan realitas penuaan masyarakat dan meningkatnya beban penyakit degeneratif. Tokoh dunia seperti Muhammad Ali, Michael J. Fox, dan Neil Diamond menjadi pengingat bahwa Parkinson tidak mengenal batas profesi atau status sosial, dan perjalanan mereka terus menginspirasi ketangguhan. Gejala Parkinson biasanya muncul secara bertahap, dengan tremor yang khas, gerakan tubuh yang melambat, kekakuan otot, dan gangguan keseimbangan sebagai tanda utama. Dampaknya tidak hanya pada aspek motorik, tetapi juga menyebabkan depresi, gangguan tidur, dan penurunan fungsi kognitif, bahkan komplikasi seperti pneumonia.
Meskipun penyebab pasti Parkinson belum sepenuhnya dipahami, sejumlah faktor risiko telah diidentifikasi, termasuk genetik, paparan racun lingkungan, dan trauma kepala. Upaya pencegahan masih bersifat umum, seperti menjaga pola hidup sehat dengan olahraga teratur, konsumsi makanan kaya antioksidan, tidur cukup, serta mengelola stres. “Perawatan Parkinson hingga kini berfokus pada pengelolaan gejala,” kata Direktur Imran. Levodopa tetap menjadi obat utama untuk meningkatkan kadar dopamin, sementara terapi fisik dan wicara membantu penderita mempertahankan mobilitas dan kemampuan komunikasi.
Stimulasi otak dalam telah menjadi pilihan operasi yang efektif untuk mengurangi gejala motorik. Selain itu, terapi komplementer seperti akupunktur, yoga, pijat, meditasi, aromaterapi, dan musik semakin banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup, meski tetap perlu pengawasan medis. Di luar aspek medis, peran keluarga menjadi sangat penting dan tidak tergantikan. Keluarga memberikan dukungan emosional yang membantu penderita menghadapi kecemasan dan depresi, serta memastikan pasien mengikuti jadwal terapi dan mendapatkan perhatian medis yang tepat.
Di Indonesia, pemerintah melalui PERDOSNI telah menerbitkan panduan tatalaksana Parkinson dan memperluas akses layanan kesehatan. Komunitas seperti Parkinson Indonesia dan Bali Parkinson Warriors (BAPARWA) aktif memberikan edukasi dan dukungan, meski kampanye kesadaran yang lebih luas, dukungan finansial, serta investasi penelitian masih sangat dibutuhkan. Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat sistem kesehatan, memperluas cakupan BPJS untuk penyakit degeneratif, dan membangun masyarakat yang lebih peduli serta inklusif. “Ini adalah kesempatan untuk memperkuat sistem kesehatan kita,” ujar Direktur Imran.





















