Headline.co.id, Jakarta ~ Nilai tukar rupiah Indonesia hari ini ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (1/9/2026), berada di level Rp17.744 per dolar AS. Rupiah turun 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.722 per dolar AS. Pelemahan terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik AS-Iran serta tekanan dari data inflasi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pergerakan rupiah Indonesia hari ini memperpanjang pelemahan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin (31/8/2026), rupiah di pasar spot berdasarkan data Bloomberg ditutup pada Rp17.722 per dolar AS, melemah 0,15 persen dari posisi akhir pekan sebelumnya sebesar Rp17.693 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah Indonesia hari ini juga berlangsung ketika sejumlah mata uang Asia dan mata uang utama negara maju bergerak melemah terhadap dolar AS. Di dalam negeri, pasar turut mencermati data inflasi yang menurut analis dapat meningkatkan tekanan terhadap Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Harga Minyak Dunia Tekan Rupiah
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah terutama dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia yang mencapai sekitar 91 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak berlangsung ketika eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” ujar Rully.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pelaku pasar karena konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Tekanan dari faktor eksternal tersebut juga telah terlihat pada perdagangan Senin. Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan dolar AS menguat setelah muncul pernyataan hawkish dari Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh.
“Eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak yang kembali naik ikut membebani,” ujar Lukman, Senin (31/8).
Inflasi Indonesia Ikut Membebani Rupiah
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari dalam negeri. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan data inflasi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan memberikan tekanan kepada Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.
Menurut Lukman, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada Selasa.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memberikan tekanan pada BI untuk menaikkan suku bunga. Namun, data perdagangan yang lebih kuat dari perkiraan menahan pelemahan yang lebih besar,” ujar Lukman, Selasa (1/9).
Pernyataan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, tetapi juga berasal dari perkembangan indikator ekonomi domestik.
Meski demikian, data perdagangan Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan membantu membatasi tekanan sehingga pelemahan rupiah tidak berlangsung lebih dalam.
Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi
Pergerakan rupiah terjadi di tengah kinerja mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS.
Yuan China melemah 0,06 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,27 persen, dolar Singapura turun 0,19 persen, yen Jepang melemah 0,14 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,40 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen.
Sementara itu, peso Filipina tercatat bergerak datar terhadap dolar AS.
Tekanan dolar AS juga terlihat terhadap mata uang utama negara maju. Euro Eropa melemah 0,20 persen, poundsterling Inggris turun 0,08 persen, dolar Australia terkoreksi 0,29 persen, dolar Kanada melemah 0,13 persen, dan franc Swiss turun 0,22 persen.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan penguatan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap rupiah, tetapi juga dialami sejumlah mata uang regional dan global.
Rupiah Sebelumnya Ditutup di Rp17.722 per Dolar AS
Pada perdagangan Senin (31/8), rupiah di pasar spot ditutup pada Rp17.722 per dolar AS atau melemah 0,15 persen dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya sebesar Rp17.693 per dolar AS.
Sementara berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia, rupiah pada perdagangan tersebut terkoreksi 0,24 persen menjadi Rp17.746 per dolar AS.
Dengan penutupan Selasa di level Rp17.744 per dolar AS, rupiah kembali mengalami pelemahan sebesar 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan nilai tukar dalam dua hari perdagangan tersebut berlangsung ketika pasar menghadapi kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta perkembangan data ekonomi domestik.
Bank Indonesia Terus Perkuat Keamanan Uang Rupiah
Di luar perkembangan nilai tukar, Bank Indonesia juga terus memperkuat keamanan uang rupiah yang beredar di masyarakat.
Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Budi Sudaryono menyebut tingkat peredaran uang palsu di Indonesia relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain. Australia disebut berada pada angka enam PPM, sedangkan Filipina mencapai 10 PPM.
Meski tingkat peredaran uang palsu relatif rendah, Bank Indonesia tetap meningkatkan fitur keamanan rupiah melalui pembaruan bahan uang, tinta, fitur pengamanan, hingga teknik pencetakan.
Salah satu pengamanan pada uang emisi 2022 adalah dynamic motion effect. Berbeda dengan uang emisi 2016 yang memiliki fitur perubahan warna, fitur pada emisi 2022 menghasilkan efek perubahan warna sekaligus gerakan ketika uang digerakkan.
Peningkatan juga dilakukan pada benang pengaman. Pada uang emisi 2022, benang pengaman tidak hanya menampilkan perubahan warna, tetapi juga memiliki motif batik yang berubah ketika uang digerakkan.
Fitur lainnya adalah rectoverso atau motif saling mengisi. Menurut Bank Indonesia, fitur keamanan uang emisi 2022 jauh lebih kompleks dibandingkan emisi 2016.
Bank Indonesia juga memiliki mekanisme evaluasi serta pembaruan desain dan fitur keamanan rupiah. Untuk setiap tahun emisi, evaluasi dilakukan maksimal enam tahun.
Data Bank Indonesia menunjukkan proporsi uang palsu yang beredar terus menurun. Jumlahnya tercatat dari lima lembar per satu juta lembar pada 2023 menjadi satu lembar per satu juta lembar pada 2026.
Bank Indonesia tetap memperbarui fitur keamanan rupiah untuk membuat mata uang Indonesia semakin sulit ditiru dan dipalsukan.




















