Headline.co.id, Jakarta ~ (Kemenag) — Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang jatuh pada 26 Agustus 2026, umat Islam Indonesia menerima anugerah istimewa berupa Ijazah Kubra untuk pembacaan kitab Dalā’il al-Khayrāt. Ijazah ini diberikan oleh Prof. Sidi Idris al-Fihri al-Fasi, Wakil Rektor Universitas Al-Qarawiyyin dan Muqaddam Zawiyah al-Fāsiyyah di Fez, Maroko, melalui pesan khusus dari kompleks makam Sayyidi Abdul Qadir al-Fasi. Pemberian ijazah ini menandai peluncuran Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan.
Dalam pesannya, Prof. Idris menekankan pentingnya selawat dan peran kitab Dalā’il al-Khayrāt dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan. Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menyatakan bahwa ijazah ini memperkuat hubungan keilmuan dan spiritual Indonesia dan Maroko. “Ijazah ini bukan sekadar izin membaca kitab, tetapi juga penghormatan terhadap tradisi kecintaan kepada Rasulullah saw.,” ujar Muchlis.
Prof. Idris menjelaskan bahwa selawat adalah karunia Allah yang berkelanjutan, sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Ahzab ayat 56. Ia menegaskan bahwa selawat bukan hanya amalan lisan, tetapi juga ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kitab Dalā’il al-Khayrāt, karya Imam Sidi Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli al-Hasani, merupakan salah satu kitab selawat yang paling banyak dibaca di dunia Islam.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Prof. Idris juga mengungkapkan bahwa ia menerima sanad pembacaan Dalā’il al-Khayrāt melalui beberapa jalur, termasuk dari Syekh Ahmad al-Kasrawi dan keluarga ulama al-Fasi. Dengan sanad tersebut, ia memberikan ijazah terbuka kepada umat Islam Indonesia. “Ijazah ini diharapkan menjadi pendorong untuk memperbanyak selawat dan zikir,” katanya. Muchlis menambahkan bahwa ijazah ini memperkuat nilai sanad dan kebersamaan dalam Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan.
Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan berlangsung dari 31 Agustus hingga 7 September 2026, melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti pesantren, majelis taklim, dan lembaga keagamaan. Dengan tema “Selawat untuk Negeri, Teladan Nabi untuk Indonesia,” gerakan ini bertujuan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw. dan menghadirkan keteladanannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Prof. Idris menutup pesannya dengan mengajak umat Islam untuk terus berzikir dan berselawat sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt.

















