Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau seluruh pemerintah daerah untuk mempercepat penemuan kasus Tuberkulosis (TB) dan memastikan setiap pasien menyelesaikan pengobatan hingga sembuh. Langkah ini merupakan bagian dari upaya percepatan eliminasi TB di Indonesia. Ketua Tim Kerja Tuberkulosis Kemenkes, Triya Novita Dinihari, menyatakan bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan beban kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Berdasarkan data terbaru, estimasi beban kasus TB untuk tahun 2026 mencapai 1.080.000 kasus.
Triya mengungkapkan bahwa meskipun terjadi penurunan dibandingkan estimasi tahun sebelumnya yang mencapai 1.090.000 kasus pada 2025, kondisi ini belum cukup memuaskan. Upaya penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan harus terus ditingkatkan agar target eliminasi TB dapat tercapai. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) per 7 Juni 2026, capaian notifikasi kasus nasional baru mencapai 322.745 kasus atau sekitar 30 persen dari target pemerintah sebesar 90 persen pada 2026.
Triya juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak terlena apabila angka laporan kasus di wilayahnya terlihat rendah. Menurutnya, rendahnya angka notifikasi justru dapat menjadi indikasi bahwa sistem penemuan kasus belum berjalan optimal. Untuk mempercepat eliminasi TB, Kemenkes terus mendorong implementasi strategi Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS). Namun, Triya menyoroti masih rendahnya angka inisiasi pengobatan yang baru mencapai 86 persen, sementara target minimal yang harus dicapai adalah 95 persen.
Ia juga mengingatkan bahaya munculnya Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO) apabila pasien tidak menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Dalam kesempatan tersebut, Triya memberikan apresiasi kepada sejumlah daerah yang dinilai konsisten menunjukkan capaian baik dalam penemuan kasus TB. Salah satunya adalah Kota Sukabumi yang tercatat sebagai daerah dengan angka notifikasi tertinggi secara nasional, yakni mencapai 71 persen.
Selain Kota Sukabumi, sejumlah daerah lain juga menunjukkan kinerja yang baik, lain Kota Cirebon, Kota Bogor, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kota Tangerang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lamongan, dan Kota Probolinggo. Sementara itu, daerah dengan capaian notifikasi yang masih rendah, seperti Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Agam, dan Kota Sabang, didorong untuk memperbaiki sistem deteksi kasus dengan mempelajari praktik baik dari daerah yang lebih berhasil.
Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat upaya pencegahan melalui pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi individu yang memiliki kontak erat dengan pasien TB. Inovasi terbaru dilakukan dengan mengintegrasikan pemberian TPT langsung saat pelacakan kontak di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Strategi tersebut diharapkan dapat mempercepat eliminasi TB, khususnya di 18 provinsi prioritas dengan estimasi kasus tinggi, sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia bebas TB.





















