HEADLINE.CO.ID, YOGYAKARTA ~ Mitos Alun-alun Kidul Yogyakarta yang dipercaya dapat mengabulkan keinginan masih menjadi magnet bagi wisatawan. Atraksi Masangin atau Masuk Antara Dua Beringin terus ramai diminati pengunjung yang datang ke kawasan Alun-alun Kidul, terutama pada malam hari. Tradisi yang telah lama dikenal masyarakat ini tidak hanya menjadi hiburan wisata, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang diwariskan dari masa Keraton Yogyakarta. Dengan biaya Rp 5.000 untuk menyewa penutup mata, wisatawan dapat mencoba tantangan berjalan lurus melewati dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup.
Atraksi Masangin menjadi salah satu kegiatan yang paling banyak dicari wisatawan di tengah beragam kuliner dan hiburan yang tersedia di Alun-alun Kidul Yogyakarta.
Masangin Jadi Ikon Wisata Malam Alun-alun Kidul
Berdasarkan pantauan di Alun-alun Kidul, banyak wisatawan antre untuk mencoba tantangan yang telah lama melekat dengan kawasan tersebut. Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, seseorang yang berhasil berjalan tepat di antara dua pohon beringin dengan mata tertutup diyakini memiliki keinginan yang dapat terkabul.
Pak Jumadi (68), pemandu Masangin yang telah lama mendampingi wisatawan, mengatakan minat pengunjung terhadap atraksi ini tetap tinggi.
“Semakin malam semakin ramai,” ujar Jumadi.
Menurutnya, dalam satu sesi terdapat sekitar lima orang yang mencoba tantangan tersebut. Tidak semua peserta berhasil mencapai titik tujuan.
“Banyak yang berhasil, tak sedikit yang gagal,” katanya.
Wisatawan yang ingin mencoba hanya perlu menyewa penutup mata dengan biaya Rp 5.000 dan akan mendapatkan arahan selama proses berjalan menuju celah di antara dua pohon beringin.
Berawal dari Tradisi Keraton
Di balik popularitasnya sebagai atraksi wisata, Masangin memiliki sejarah yang berkaitan dengan tradisi Keraton Yogyakarta.
Jumadi menjelaskan bahwa pada masa lalu, kegiatan melewati dua beringin menjadi salah satu ujian bagi calon Abdi Dalem Keraton. Keberhasilan melewati jalur tersebut dianggap sebagai simbol ketulusan seseorang dalam mengabdi kepada Sultan.
“Ada tiga kesempatan, ini menguji ketulusan. Konon, mitosnya kalau berhasil melewati Beringin maka keinginan orang tersebut akan terwujud,” ungkapnya.
Penjelasan serupa disampaikan Mbah Panggih (80), tokoh yang telah lama terlibat dalam pelestarian tradisi Masangin dan penyewaan penutup mata bagi wisatawan.
“Dulu itu budaya melewati Beringin mulainya memang malam, sekitar jam 5 sore,” jelasnya.
Menurutnya, tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun dan kini berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang dikenal luas oleh wisatawan domestik maupun luar daerah.
Pengalaman Wisatawan yang Berhasil Menaklukkan Masangin
Sejumlah wisatawan mengaku memiliki pengalaman unik saat mencoba tantangan Masangin.
Rosa (30) menjadi salah satu pengunjung yang berhasil melewati dua beringin hanya dalam satu kali percobaan. Ia mengaku tidak memikirkan keinginan apa pun ketika menjalani tantangan tersebut.
“Waktu jalan nggak mikir apa-apa, terus pas udah mau dekat Beringin terasa seperti ada tembok,” ceritanya.
Rosa mengaku terkejut karena mampu menyelesaikan tantangan itu pada percobaan pertama.
Pengalaman serupa juga dirasakan Ibu Marsel yang datang dari Jakarta bersama keluarganya untuk berlibur di Yogyakarta.
“Saya berhasil tadi, suami juga berhasil. Saya nggak ada keinginan apa-apa, hanya dilakukan saja,” ucapnya.
Gagal Dua Kali, Berhasil di Percobaan Ketiga
Tidak semua peserta langsung berhasil. Apri (35), wisatawan asal Jakarta, harus melalui tiga kali percobaan sebelum akhirnya mampu melewati dua beringin tersebut.
Ia menceritakan bahwa pada percobaan pertama dirinya berjalan terlalu ke kiri, sementara pada percobaan kedua justru mengarah ke kanan.
“Pertama belok ke kiri, kedua ke kanan dan terakhir lurus. Jujur awal-awal ragu banget, tapi pas yang ketiga udah mulai tenang dan enggak mikirin apa-apa. Eh malah berhasil,” kenangnya.
Pengalaman para wisatawan tersebut semakin memperkuat daya tarik Masangin sebagai aktivitas yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga pengalaman unik yang sarat dengan cerita dan kepercayaan masyarakat.
Mitos Alun-alun Kidul Tetap Menarik Wisatawan
Hingga kini, mitos Alun-alun Kidul Yogyakarta masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman wisata di kawasan tersebut. Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan mengenai terkabulnya keinginan, Masangin tetap menjadi simbol budaya yang terus dilestarikan.
Atraksi ini beroperasi mulai pukul 15.00 WIB hingga tengah malam dan menjadi salah satu aktivitas favorit wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Kehadiran pemandu, pelestari budaya, serta antusiasme pengunjung menunjukkan bahwa tradisi Masangin masih memiliki tempat khusus di hati masyarakat dan wisatawan yang ingin merasakan langsung sensasi berjalan di antara dua beringin kembar Alun-alun Kidul.
FAQ: Mitos Alun-alun Kidul dan Atraksi Masangin di Yogyakarta
1. Apa itu Masangin di Alun-alun Kidul Yogyakarta?
Masangin adalah singkatan dari “Masuk Antara Dua Beringin”, yaitu atraksi wisata yang mengharuskan peserta berjalan melewati dua pohon beringin kembar di Alun-alun Kidul dengan mata tertutup.
2. Mengapa Masangin menjadi daya tarik wisata di Yogyakarta?
Masangin menjadi daya tarik karena memiliki unsur budaya, sejarah, dan mitos yang unik. Banyak wisatawan tertarik mencoba tantangan ini untuk membuktikan apakah mereka dapat berjalan lurus melewati dua pohon beringin saat mata ditutup.
3. Apa mitos yang berkembang tentang Masangin?
Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, seseorang yang berhasil melewati dua pohon beringin dengan mata tertutup dipercaya akan mendapatkan keberuntungan atau keinginannya dapat terwujud.
4. Apakah Masangin memiliki kaitan dengan sejarah Keraton Yogyakarta?
Ya. Menurut para pelestari budaya, pada masa lalu Masangin digunakan sebagai salah satu ujian bagi calon Abdi Dalem Keraton. Keberhasilan melewati dua beringin dianggap sebagai simbol ketulusan dalam mengabdi kepada Sultan.
5. Berapa biaya untuk mencoba atraksi Masangin?
Wisatawan hanya perlu membayar sekitar Rp5.000 untuk menyewa penutup mata dan mendapatkan panduan selama mengikuti atraksi.
6. Di mana lokasi atraksi Masangin?
Atraksi Masangin berada di kawasan Alun-alun Kidul (Alkid), Kota Yogyakarta, tepatnya di area dua pohon beringin kembar yang menjadi ikon lokasi tersebut.
7. Kapan waktu terbaik untuk mencoba Masangin?
Masangin biasanya mulai ramai pada sore hingga malam hari. Atraksi ini beroperasi mulai sekitar pukul 15.00 WIB hingga tengah malam.
8. Apakah semua peserta berhasil melewati dua beringin?
Tidak. Banyak peserta yang gagal karena tanpa sadar berjalan ke arah kiri atau kanan. Namun, ada juga yang berhasil pada percobaan pertama maupun setelah beberapa kali mencoba.
9. Apakah ada batas jumlah percobaan dalam Masangin?
Menurut penjelasan pemandu, secara tradisi terdapat tiga kesempatan untuk mencoba melewati dua beringin tersebut.
10. Apa yang dirasakan peserta saat mencoba Masangin?
Pengalaman setiap orang berbeda. Beberapa peserta mengaku merasa seperti ada “tembok” atau hambatan saat mendekati pohon beringin, sementara yang lain merasa lebih mudah berhasil ketika berjalan dengan tenang dan fokus.
11. Apakah Masangin hanya untuk wisatawan?
Tidak. Masangin dapat diikuti oleh siapa saja, baik wisatawan maupun masyarakat lokal yang ingin mencoba pengalaman budaya khas Yogyakarta.
12. Selain Masangin, apa saja yang bisa dinikmati di Alun-alun Kidul?
Selain Masangin, pengunjung dapat menikmati berbagai kuliner khas, suasana wisata malam, serta beragam atraksi yang tersedia di kawasan Alun-alun Kidul Yogyakarta.
13. Benarkah keinginan akan terkabul jika berhasil Masangin?
Kepercayaan tersebut merupakan mitos yang berkembang di masyarakat. Tidak ada bukti ilmiah yang dapat memastikan bahwa keinginan seseorang akan terkabul setelah berhasil melewati dua pohon beringin.
14. Mengapa banyak orang gagal saat mencoba Masangin?
Saat mata ditutup, orientasi arah seseorang sering berubah tanpa disadari. Faktor keseimbangan tubuh, konsentrasi, dan sugesti juga dapat memengaruhi arah langkah peserta.
15. Mengapa Masangin masih populer hingga sekarang?
Karena atraksi ini memadukan unsur budaya, sejarah, tantangan, dan mitos yang menjadi ciri khas wisata Yogyakarta. Pengalaman unik tersebut membuat banyak wisatawan tertarik untuk mencobanya saat berkunjung ke Alun-alun Kidul.






















