Headline.co.id, Palangka Raya ~ Lomba Mangaruhi menjadi salah satu acara yang menarik perhatian dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 di Kalimantan Tengah. Acara ini berlangsung di Stadion Tuah Pahoe, Palangka Raya, pada Jumat (22/5/2026). Peserta lomba terlihat antusias memasuki kolam berlumpur, berusaha menangkap ikan dengan tangan kosong, sebuah tradisi khas masyarakat Dayak.
Lilik Margiatsih, Koordinator Lomba Keterampilan Tradisional Mangaruhi FBIM 2026, menjelaskan bahwa Mangaruhi adalah tradisi turun-temurun masyarakat Dayak. Tradisi ini melibatkan menangkap ikan dengan tangan kosong setelah mengeruhkan air, yang kali ini dilakukan di kolam berlumpur. “Mangaruhi berasal dari kata ngaruh, yaitu mengeruhkan air agar ikan lebih mudah ditangkap,” jelas Lilik.
Kolam yang digunakan dalam lomba ini berukuran 10 x 6 meter dengan kedalaman air sekitar 50 sentimeter. Sebelum lomba dimulai, panitia memasukkan ikan seperti gabus dan lele ke dalam kolam. Lilik menambahkan, lomba ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya tradisional Kalimantan Tengah kepada generasi muda agar tidak punah seiring perkembangan zaman. “Generasi muda sekarang banyak yang belum mengenal Mangaruhi. Melalui lomba ini, kami ingin mengenalkan budaya khas Kalimantan Tengah agar tetap lestari,” ujarnya.
Lomba Mangaruhi tahun ini diikuti oleh peserta dari kategori putra dan putri dari 12 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, termasuk Kota Palangka Raya, Katingan, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Sukamara, Seruyan, Kapuas, Pulang Pisau, Lamandau, dan Kotawaringin Barat. Yermin Redi, peserta dari Kabupaten Katingan, menyambut baik pelaksanaan lomba ini. Menurutnya, Mangaruhi bukan sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Dayak dalam memanfaatkan alam secara bijak.
“Ini bagian dari budaya masyarakat Dayak untuk lebih arif terhadap lingkungan, sehingga aktivitas mencari ikan tidak mengganggu ekosistem,” ujar Yermin. Ia menambahkan bahwa menangkap ikan secara tradisional sudah menjadi kebiasaan masyarakat Dayak, terutama saat musim kemarau panjang ketika warga bersama-sama mencari ikan di perairan yang mulai surut.
Melalui kegiatan ini, diharapkan warisan budaya Dayak dapat terus dikenal, dipelajari, dan dilestarikan oleh generasi muda. (MC Kota Palangka Raya/Usep/eyv)




















