Headline.co.id, Jogja ~ Kenaikan harga sapi impor dari Australia terjadi akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan peningkatan persaingan ekspor Australia di pasar global. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan hewani di Indonesia. Meskipun kenaikan harga ini menguntungkan peternak lokal karena harga sapi domestik ikut naik, ketergantungan pada impor tetap membuat harga daging sapi nasional rentan terhadap perubahan eksternal.
Prof. Ir. Panjono, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, menyatakan bahwa kenaikan harga sapi impor memberikan dampak positif bagi peternak lokal. “Kalau harga sapi impor naik, bagi peternak sebagai pelaku usaha justru menguntungkan karena otomatis harga ternak sapi domestik juga akan ikut naik,” ujarnya pada Selasa (12/5).
Namun, dari sudut pandang nasional, Panjono menilai bahwa ketahanan pangan Indonesia, khususnya daging sapi, masih rentan terhadap gejolak eksternal seperti nilai tukar rupiah, kondisi geopolitik, dan dinamika pasar global. Jika harga sapi impor tetap tinggi, volume impor bisa menurun, yang akan meningkatkan pemotongan sapi lokal untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dalam jangka panjang, ini dapat mengurangi populasi sapi nasional. “Kalau impor turun, tingkat pemotongan domestik akan meningkat. Kalau terus seperti itu, populasi sapi kita bisa menurun dan pada akhirnya terjadi kelangkaan,” jelasnya.
Pemerintah menargetkan populasi sapi nasional mencapai 19,9 juta ekor pada 2026, sementara populasi pada 2025 baru sekitar 13,5 juta ekor. Panjono menyebutkan bahwa selisih ini menunjukkan perlunya langkah luar biasa untuk meningkatkan populasi, seperti percepatan program pembiakan, peningkatan produktivitas indukan, dan pengendalian pemotongan ternak produktif. “Artinya masih ada kekurangan lebih dari enam juta ekor. Kalau pemotongan meningkat, target itu tentu akan semakin sulit dicapai,” ujarnya.
Fluktuasi kurs yang tajam juga menyulitkan pelaku usaha sapi potong dalam menghitung biaya pembelian, harga jual, dan proyeksi keuntungan. Menurut Panjono, kestabilan nilai tukar lebih dibutuhkan oleh pelaku usaha sapi potong. “Yang utama bagi pelaku usaha sapi potong sebenarnya bukan hanya dolar turun, tetapi nilai tukar rupiah terhadap dolar harus stabil. Kalau stabil, mereka bisa menghitung biaya dan harga jual dengan lebih pasti,” tuturnya.
Panjono menegaskan bahwa tingginya harga sapi impor tidak dapat diatasi dengan satu kebijakan tunggal. Pemerintah perlu menerapkan strategi bertahap yang mencakup langkah jangka pendek, menengah, dan panjang. Dalam jangka pendek, impor daging sapi dan sapi bakalan masih diperlukan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan menahan lonjakan harga di pasar. “Di saat yang sama, masyarakat dapat didorong untuk memanfaatkan sumber protein alternatif seperti daging ayam, telur, ikan, dan tempe guna mengurangi tekanan permintaan terhadap daging sapi,” imbuhnya.
Untuk jangka menengah, pemerintah perlu memastikan industri penggemukan hewan (feedlot) tetap berjalan melalui kemudahan akses impor, kepastian regulasi, serta stabilitas nilai tukar rupiah. Keberlangsungan usaha penggemukan penting karena sektor ini menambah nilai ekonomi, menyerap tenaga kerja, dan menjaga kesinambungan pasokan. “Kalau memang tidak turun, setidaknya nilai tukar harus stabil sehingga pelaku usaha bisa menghitung biaya usahanya dengan pasti,” ungkapnya.
Strategi jangka panjang harus difokuskan pada peningkatan populasi sapi nasional melalui program pembiakan secara masif. Salah satu pendekatan yang dinilai realistis adalah memanfaatkan lahan perkebunan sawit, kelapa, maupun hutan tanaman industri. “Strategi jangka panjangnya yaitu dengan meningkatkan populasi melalui program breeding serta integrasi sapi dengan perkebunan dan kehutanan. Dengan cara ini, suatu saat industri penggemukan hewan (feedlot) tidak perlu lagi bergantung pada sapi bakalan impor dari Australia,” katanya.
Pelemahan nilai tukar rupiah dan kondisi geopolitik global dapat menjadi momentum untuk mempercepat langkah menuju swasembada daging sapi melalui peningkatan populasi ternak, penguatan program breeding, serta pemanfaatan lahan perkebunan dan kehutanan melalui sistem integrasi. Dengan strategi yang konsisten dan dukungan kebijakan jangka panjang, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk membangun industri peternakan yang lebih mandiri. “Ketahanan pangan, khususnya daging sapi, hanya bisa benar-benar kuat jika kita mampu meningkatkan populasi dan mengurangi ketergantungan pada impor,” tutup Panjono.






















