Headline.co.id, Jogja ~ Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 pada Rabu (1/7) menjadi momen penting bagi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk memperkuat komitmen dalam meningkatkan kepercayaan publik. Dengan tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat”, Polri bertekad meningkatkan kualitas pelayanan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Namun, tantangan besar masih dihadapi dalam memulihkan kepercayaan publik di tengah sorotan terhadap kinerja institusi ini.
Prof. Dr. Armaidy Armawi, M.Si., Guru Besar Filsafat UGM dan Ketua Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Ketahanan Nasional, menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap jati diri dan budaya institusi Polri. “Momentum 80 tahun Polri seharusnya menjadi kesempatan untuk evaluasi diri secara total,” ujar Armaidy saat ditemui di Gedung Pusat Antar Universitas (PAU) UGM, Selasa (7/7).
Pentingnya Kembali ke Nilai Dasar
Armaidy menegaskan bahwa pembenahan Polri harus dimulai dari kembali ke nilai-nilai dasar institusi, bukan sekadar pembaruan kelembagaan atau perbaikan regulasi. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai Pancasila yang diterjemahkan melalui Tribrata dan Catur Prasetya harus menjadi landasan moral utama bagi setiap anggota Polri. “Kalau dasar itu masih kuat, baru kita berbicara mengenai reformasi,” tegasnya.
Budaya Institusi dan Tantangan Diskresi
Menurut Armaidy, persoalan yang dihadapi Polri tidak hanya terkait perilaku individu, tetapi juga budaya institusi. Diskresi yang besar dalam tugas Polri harus diimbangi dengan pegangan nilai yang kuat. “Diskresi yang sangat besar harus diimbangi dengan pegangan nilai (Tribrata dan Catur Prasetya) yang sangat kuat,” jelasnya.
Refleksi dan Pembenahan Budaya
Armaidy menilai bahwa refleksi terbesar pada Hari Bhayangkara ke-80 adalah membangun kembali budaya institusi yang berakar pada nilai-nilai Tribrata, Catur Prasetya, dan Pancasila. “Kalau budayanya benar, perilakunya akan mengikuti,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam penempatan anggota Polri aktif pada jabatan sipil di kementerian atau lembaga negara.
Di akhir, Armaidy berharap peringatan ini menjadi momentum refleksi mendalam bagi Polri untuk kembali pada nilai-nilai dasar yang menjadi jati dirinya. “Kalau fondasinya benar, budaya akan berubah. Kalau budaya berubah, perilaku institusi juga akan berubah. Setelahnya, barulah kepercayaan publik akan tumbuh,” tutupnya.

















