Headline.co.id, Jogja ~ Kepolisian Resor Kota Yogyakarta telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus kekerasan terhadap anak di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha, Yogyakarta. Para tersangka tersebut terdiri dari kepala yayasan, kepala sekolah, dan 11 pengasuh yang dikenakan pasal berlapis terkait perlindungan anak. Kasus ini menarik perhatian publik karena lembaga pengasuhan tersebut telah beroperasi selama sekitar empat tahun.
Diana Setiyawati, S.Psi., M.H.Sc., Ph.D., dosen Fakultas Psikologi UGM, menilai kasus ini sebagai peringatan serius bagi semua pihak, termasuk keluarga yang memiliki pengalaman serupa dan para pembuat kebijakan. Diana menjelaskan bahwa kekerasan di daycare ini diduga dipicu oleh motif ekonomi dan sistem kerja yang tidak sehat. Posisi pengasuh sering kali rentan di bawah tekanan aturan dan tuntutan dari atasan. Dalam kondisi tertentu, beberapa orang mungkin menormalisasi tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan demi efisiensi kerja. “Motifnya bisa jadi karena ekonomi, agar lebih mudah mengatur anak sekaligus bisa ‘merawat’ banyak anak,” ujarnya pada Senin (11/5).
Kekerasan memiliki dampak signifikan pada psikologis manusia, terutama jika korbannya adalah bayi yang masih sangat muda. Diana menjelaskan bahwa bayi belum mampu mengekspresikan ketakutan atau ketidaknyamanan mereka dengan cara lain selain menangis. Jika orang dewasa tidak memahami atau malah membungkam emosi bayi, maka bayi berpotensi memendam perasaan tersebut. “Misalnya respons bayi saat dipukul menangis, ia bisa jadi akan menyembunyikan emosinya di hari kemudian. Padahal itu caranya menunjukkan apa yang ia rasakan,” jelasnya.
Diana juga menekankan bahwa dampak psikologis pada bayi sangat bergantung pada bentuk kekerasan dan kronologi kejadian, sehingga memahami kronologi menjadi penting. Bagi bayi yang pernah mengalami kekerasan maupun yang secara psikis sehat, lingkungan yang hangat, aman, dan penuh kasih sayang sangatlah penting. Menurut Diana, bayi membutuhkan lingkungan yang aman agar rasa takut yang sempat dirasakan tidak menimbulkan trauma permanen. Dukungan dari orang tua dan pengasuh yang responsif adalah faktor penting dalam proses pemulihan. Relasi emosional yang sehat sejak dini akan membantu anak membangun kepercayaan diri dan kestabilan emosi. “Bayi perlu diberikan lingkungan yang hangat, dipeluk, disayangi, dan diberikan rasa aman untuk membantu menyembuhkan trauma,” katanya.
Diana juga membagikan pengalamannya saat bekerja paruh waktu di daycare di Australia, yang menekankan pentingnya penciptaan ruang daycare yang aman bagi anak dan bayi. “Saat bekerja paruh waktu di daycare dulu, pemerintah secara rutin melakukan inspeksi terhadap layanan pengasuhan anak. Normalisasi perilaku kasar di lembaga pengasuhan dapat terjadi apabila tidak ada sistem pengawasan yang kuat,” ungkapnya.
Ia menilai bahwa tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada lembaga pengasuhan. Pemerintah perlu terlibat aktif dalam supervisi dan sertifikasi tenaga pengasuh anak. Kasus Little Aresha ini menjadi pengingat bahwa keamanan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap lembaga pengasuhan, termasuk dengan menciptakan ekosistem yang aman bagi anak dari berbagai pihak.



















