Headline.co.id, Nilai Tukar Rupiah Mengalami Tekanan Yang Semakin Kuat Akibat Konflik Yang Memanas Di Timur Tengah ~ menimbulkan ketidakpastian global. Situasi ini dikhawatirkan akan mempercepat dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian dalam negeri. Selama 28 tahun terakhir, tren pergerakan kurs rupiah menunjukkan kecenderungan melemah, meskipun dipicu oleh faktor dan pola yang berbeda. Saat ini, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.400 per satu dolar Amerika Serikat.
Rijadh Djatu Winardi, S.E., M.Sc., Ph.D., akademisi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, menyatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini merupakan hasil dari akumulasi berbagai tekanan yang terjadi bersamaan, sering disebut sebagai “perfect storm.” Dari sisi global, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia meningkatkan permintaan terhadap dolar AS, menjadikannya aset aman utama bagi investor.
Di sisi ekonomi domestik, Rijadh menyebut faktor musiman dan struktural turut memperbesar tekanan terhadap nilai rupiah, seperti periode pembayaran dividen kepada investor asing yang meningkatkan kebutuhan valuta asing. Kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal yang semakin terbatas atau defisit yang mendekati batas juga meningkatkan persepsi risiko terhadap perekonomian domestik. “Kombinasi dari sisi global dan domestik inilah yang membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam,” jelasnya pada Minggu (10/5).
Pelemahan nilai tukar rupiah berdampak langsung pada harga barang yang dikonsumsi masyarakat. Rijadh menjelaskan bahwa fenomena ini dikenal sebagai inflasi impor, di mana pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya barang impor dalam denominasi rupiah. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi. Meski masih memiliki stok lama, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari dan umumnya diteruskan kepada konsumen dalam beberapa bulan. “Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujarnya.
Pelemahan rupiah juga memberi tekanan besar terhadap sejumlah pos dalam anggaran negara, terutama pada belanja yang sensitif terhadap pergerakan kurs. Rijadh menyebut subsidi energi sebagai salah satu sektor yang paling terdampak, mengingat ketergantungan pada komponen impor yang membuat beban subsidi meningkat saat rupiah melemah.
Selain itu, beban utang luar negeri menjadi faktor signifikan karena nilai pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah ikut membengkak meskipun kewajiban dalam dolar tidak berubah. “Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelasnya.
Rijadh menjelaskan bahwa upaya meredam gejolak nilai tukar rupiah menempatkan Bank Indonesia pada posisi dilematis menjaga stabilitas dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, menjaga suku bunga tetap rendah penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan menjaga biaya kredit tetap terjangkau, sementara stabilitas nilai tukar juga harus dijaga.
Pendekatan yang dapat diambil bersifat kombinasi, mulai dari intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga volatilitas rupiah hingga pemanfaatan instrumen keuangan seperti surat berharga guna menarik aliran modal. “Pendekatan ini cukup rasional, karena mencoba menjaga keseimbangan stabilitas makro dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik,” katanya.
Rijadh menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal melalui disiplin belanja negara dan memperkuat sektor domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada pangan dan energi. Ia menilai momentum pelemahan rupiah saat ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong ekspor. “Yang tidak kalah penting adalah menjaga daya tahan masyarakat rentan. Program perlindungan sosial harus tetap kuat dan adaptif, karena kelompok inilah yang biasanya paling cepat merasakan dampak dari kenaikan harga,” tutupnya.





















