Headline.co.id, Bandung ~ Ketua Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI), Irwan Iskandar, menegaskan bahwa industri air minum dalam kemasan (AMDK) memiliki tingkat penggunaan air tanah yang relatif kecil. Dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta pada Selasa (28/4/2026), Irwan, yang juga merupakan Dosen Program Studi Magister Teknik Airtanah di Institut Teknologi Bandung (ITB), mengungkapkan hasil riset singkat mengenai penggunaan air tanah di beberapa wilayah seperti Jawa, Jawa Barat, Daerah Khusus Jakarta, dan Banten.
Riset tersebut melibatkan pengambilan sampel di setiap daerah tersebut. “Hasilnya menunjukkan bahwa pengambilan air tanah terbanyak terjadi di Jawa,” ujar Irwan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Industri AMDK Komisi VII DPR RI bersama para pakar air tanah dan konservasi sumber daya air baru-baru ini.
Irwan menjelaskan bahwa di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, industri AMDK hanya mengambil sekitar 15 persen dari total pengambilan air tanah, yang setara dengan 65.097 meter kubik per hari. Sementara itu, industri makanan dan minuman menggunakan 32.761 meter kubik per hari atau 8 persen, dan industri lainnya mengambil 309.361 meter kubik per hari atau 72 persen.
Di Jawa Barat, penggunaan air tanah oleh industri AMDK mencapai 17 persen atau 62.057 meter kubik per hari, angka yang sama dengan industri tekstil. Di Jakarta, industri AMDK hanya menggunakan kurang dari satu persen air tanah, sekitar 35 meter kubik per hari. “Sementara itu, infrastruktur atau bangunan di Jakarta justru menggunakan 40 persen dari total penggunaan air tanah di wilayah ini,” tambahnya.
Irwan juga menyoroti bahwa kemungkinan manipulasi penggunaan air tanah oleh industri AMDK lebih kecil dibandingkan industri lainnya. Menurutnya, pencurian air tanah lebih mudah terdeteksi di industri AMDK. “Jika hukuman hanya ditujukan kepada industri AMDK, masalah pencurian air tanah tidak akan terselesaikan, karena pencurian lebih banyak terjadi di industri non-AMDK,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pencurian air tanah lebih mudah dilakukan untuk kebutuhan sanitasi, mandi, manufaktur, dan tekstil. Irwan juga mencontohkan industri perhotelan yang lebih berpotensi melakukan pencurian air tanah. “Industri AMDK mengambil air tanah dari kaki gunung karena air hujan yang meresap melalui lereng gunung menjadi bagian dari air tanah yang relatif murni dan kaya mineral,” jelasnya.


















