Headline.co.id, Jogja ~ Dugaan kasus kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, viral di media sosial pada Jumat (24/4/2026) malam. Seiring mencuatnya kasus tersebut, sejumlah kanal digital milik daycare, mulai dari Google Maps, akun media sosial hingga website, dilaporkan tidak dapat diakses. Peristiwa ini bermula dari unggahan di platform Threads yang memicu perhatian luas publik. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengelola maupun kepolisian terkait dugaan tersebut.
Unggahan awal berasal dari akun Threads @veronicarosita_ sekitar pukul 20.00 WIB yang menyebut adanya keramaian dan pemasangan garis polisi di sebuah daycare di kawasan Sorosutan. Dalam waktu singkat, unggahan tersebut mendapat respons besar dari warganet dengan lebih dari 1.000 tanda suka dan ratusan komentar.
Sejumlah pengguna kemudian membagikan tautan Google Maps Daycare Little Aresha. Saat itu, kolom ulasan dipenuhi berbagai komentar, termasuk yang menyertakan foto pemasangan garis polisi di lokasi. Namun, tidak lama kemudian, halaman Google Maps tersebut tidak lagi dapat diakses.
Berdasarkan penelusuran Headline.co.id, tidak hanya Google Maps yang terdampak. Akun media sosial seperti Instagram dan Facebook, serta situs web resmi daycare tersebut juga dilaporkan menghilang dan tidak bisa diakses. Hingga kini, belum diketahui secara pasti penyebab hilangnya seluruh kanal digital tersebut.
Di lokasi kejadian, daycare yang berada di Jalan Pakel Baru Utara tampak telah dipasangi garis polisi sejak Jumat sore. Sejumlah warga dan wali murid terlihat mendatangi area tersebut untuk mencari informasi lebih lanjut.
Salah seorang wali murid yang ditemui di lokasi mengungkapkan perubahan perilaku anaknya yang menunjukkan ketakutan saat hendak dititipkan.
“Anaknya takut untuk masuk (dititipkan) di daycare tersebut. Mukanya takut. Sempat bilang, miss-nya galak-galak,” ujarnya, Jumat (24/4/2026) sekitar pukul 22.30 WIB.
Keterangan lain disampaikan wali murid berinisial HF. Ia menuturkan keponakannya yang baru satu hari dititipkan di daycare tersebut langsung menunjukkan ketakutan berlebih.
“Baru masuk satu hari, di hari kedua anak sudah ketakutan. Setiap mau berangkat selalu bilang tidak mau, enggak mau. Intinya dia takut sekali untuk masuk ke sana,” katanya.
HF menambahkan, keluarga sempat menganggap hal tersebut sebagai proses adaptasi. Namun, ketakutan yang tidak wajar membuat keluarga curiga.
“Katanya miss-nya (guru) galak-galak. Awalnya kami pikir karena belum penyesuaian saja, tapi ketakutannya tidak wajar,” lanjutnya.
Meski tidak ditemukan luka fisik, HF menyebut keponakannya mengalami trauma secara psikis. Keluarga kemudian memutuskan memindahkan anak tersebut ke tempat lain demi keamanan.
Sementara itu, seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengaku mendengar dugaan perlakuan tidak layak terhadap anak-anak di daycare tersebut.
“Katanya anak-anak ditali dan ditelanjangi sampai kedinginan. Saya tadi gak boleh masuk, hanya Pak RT yang masuk,” ujarnya.
Berbagai informasi lain juga beredar di media sosial, termasuk dugaan praktik pengikatan dan perlakuan tidak manusiawi terhadap anak. Namun, seluruh informasi tersebut masih berstatus dugaan dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak berwenang.
Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi kejadian maupun pihak yang bertanggung jawab. Pengelola Daycare Little Aresha juga belum memberikan klarifikasi atas isu yang berkembang.
Kasus ini menjadi perhatian serius masyarakat, khususnya para orang tua, di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap layanan penitipan anak. Publik kini menunggu kejelasan dari aparat penegak hukum untuk memastikan kebenaran informasi sekaligus menjamin perlindungan anak.





















