by

Jokowi Tekankan Tiga Hal ini untuk Naikan Peringkat Kemudahan Berusaha Indonesia ke Posisi 40

Headline.co.id (Jakarta) ~ Saat memimpin rapat terbatas dengan topik “Akselerasi Peningkatan Peringkat Kemudahan Berusaha” yang digelar di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (12/2), Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ingin peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business/EoDB) Indonesia naik dari posisi 73 ke posisi 40.

Jokowi menyampaikan, saat ini berada di peringkat 73, dibandingkan dengan tahun 2014 posisi Indonesia berada di peringkat 120. Hal itu merupakan lompatan yang baik, namun dirinya meminta agar berada di posisi 40.

baca juga: 62 Suspect Virus Corona di Indonesia Negatif, Jokowi Bersyukur dan Beri Apresiasi

Untuk mencapai peringkat tersebut, dirinya menekankan menekankan beberapa hal kepada jajarannya. Pertama, Presiden meminta jajarannya fokus memperbaiki indikator yang masih berada di posisi di atas 100 dan indikator yang justru naik peringkat.

Presiden merinci, dari 10 komponen terdapat 4 komponen yang berada pada peringkat di atas 100, yaitu starting a business di peringkat 140, dealing with construction permit di peringkat 110, registering property di peringkat 106, dan trading accross border yang stagnan di peringkat 116.

“Juga dua komponen yang sudah di bawah 100 tapi justru naik peringkat lagi, dari 44 ke 48 ini getting credit. Kemudian masalah yang berkaitan dengan resolving insolvency dari 36 ke 38. Sudah 36 kok naik lagi, ini urusan yang berkaitan dengan kebangkrutan,” imbuhnya.

Kedua, Presiden meminta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) membuat dashboard monitoring dan evaluasi secara berkala. Menurutnya, hal tersebut guna memastikan perbaikan di beberapa komponen yang masih bermasalah.

baca juga: Mahfud MD: Pemerintah Putuskan Tak Akan Pulangkan 689 WNI Eks ISIS

Menurutnya masalah utama yang harus dibenahi adalah prosedur dan waktu yang harus disederhanakan. Sebagai contoh, terkait dengan waktu memulai usaha, di negara ini membutuhkan 11 prosedur, waktunya 13 hari. Kalau kita bandingkan mungkin dengan Tiongkok misalnya, prosedurnya hanya 4, waktunya hanya 9 hari. Artinya kita harus lebih baik dari mereka.

Ketiga, Presiden meminta agar perhatian kemudahan berusaha tersebut tidak hanya ditujukan untuk pelaku-pelaku usaha menengah dan besar. Presiden ingin agar usaha mikro dan usaha kecil juga diberikan sejumlah kemudahan dalam berusaha.

“Agar fasilitas kemudahan berusaha ini diberikan kemudahan-kemudahan, baik dalam penyederhanaan, maupun mungkin tidak usah izin, tapi hanya registrasi biasa,” tandasnya.

baca juga: PLN Manfaatkan Pelet Sampah Untuk Kembangkan PLTU Jeranjang

Comment

News Feed