Pertama di Indonesia, Jurnal Psikologi UIN Walisongo Tembus Scopus

Jurnal Psikohumaniora terindeks scopus
Jurnal Psikohumaniora terindeks scopus

Pertama di Indonesia, Jurnal Psikologi UIN Walisongo Tembus Scopus ~ Headline.co.id (Pendidikan). Jurnal Psikohumaniora yang diterbitkan UIN Walisongo kini sudah tembus scopus dan dengan sendirinya bertendeng terakreditasi Sinta 1. Jurnal yang berdiri sejak akhir 2016 ini terakrediitasi Sinta 3 tahun 2017. Dua tahun kemudian (2019), jurnal ini masuk akreditasi Sinta 2.

Baca juga: Mau Keluar Negeri? Ini Aturan Terbaru Perjalanan Luar Negeri Semasa Pandemi Covid-19

Maret 2022, Jurnal Psikohumaniora terindeks di pangkalan data jurnal bereputasi internasional, Scopus. Psikohumaniora menjadi satu-satunya Jurnal Psikologi di Indonesia yang bereputasi internasional dan itu merupakan binaan Kementerian Agama.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani, mengapresiasi capaian ini. “Kami patut bersyukur dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pimpinan UIN Walisongo dan pengelola Jurnal Psikohumaniora hingga tembus Scopus,” ungkap Dirjen Pendis.

Baca juga: Tinjau Stan Indonesia di Pameran Haji Dunia, Menag: Perlu Digitalisasi Layanan Jemaah

“Pencapaian ini adalah hal yang membanggakan, Psikohumaniora saat ini menjadi satu-satunya jurnal psikologi di Indonesia yang bereputasi internasional. Dengan demikian, produktivitas riset di lingkungan PTKI memiliki prestasi, reputasi, dan daya saing yang sangat tinggi,” sambung Dirjen Pendis.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Suyitno juga mengapresiasi pengelola Jurnal Psikohumaniora yang selama lima tahun mampu meningkatkan progres indeksasi dengan cepat hingga tembus Scopus. Menurut Suyitno, dengan tembusnya Psikohumaniora, Diktis kini telah memiliki 11 (sebelas) jurnal yang terindeks Scopus.

Kesebelas jurnal itu adalah sebagai berikut: [1] Journal of Indonesian Islam (JIIs), UIN Sunan Ampel, Surabaya Jawa Timur; [2] Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS), IAIN Salatiga Jawa Tengah; [3] Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS), IAIN Kudus, Jawa Tengah; [4] Al Jami’ah, UIN Sunan Kalijaga Daerah Istimewa Yogyakarta; [5] Studia Islamika, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; [6] Journal of Islamic Architecture, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur; [7] Jurnal Al-Ahkam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; [8] Jurnal Samara UIN Ar-Raniri Banda Aceh; [9] Islam Guidance and Counseling Journal IAIM-NU (Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama) Metro Lampung; [10] Al-Ihkam, IAIN Madura, Jawa Timur; dan [11] Jurnal Psikohumaniora, UIN Walisongo, Semarang, Jawa Tengah.

Baca juga: Mau Jadi Programmer? Ini Skill dan Tugas Yang Wajib Dikuasai

Rektor UIN Walisongo, Imam Taufiq, mengapresiasi, sekaligus memperhatikan perkembangan jurnal ini. “Prestasi ini sangat membanggakan dan merupakan hadiah dies natalis UIN Walisongo ke-52 yang istimewa. Pencapaian Psikohumaniora ini merupakan hasil sinergi dan kolaborasi yang membuahkan rekognisi bagi UIN Walisongo,” ungkap Imam Taufiq.

Koordinator Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis, Suwendi, menyatakan dalam beberapa tahun terakhir, Diktis terus melakukan pembinaan dalam peningkatan kualitas jurnal PTKI. Pembinaan itu antara lain dilakukan melalui shortcourse akselerasi jurnal terakreditasi, bantuan penguatan jurnal terakreditasi, dan pendampingan pengelolaan dan pendaftaran jurnal internasional bereputasi.

Baca juga: Bertemu Menteri Haji Saudi, Ada Kabar Baik Terkait Pemberangkatan Jamaah Indonesia

“Dengan meningkatnya jurnal internasional berreputasi, produktivitas dan kualitas riset diharapkan akan semakin tinggi. Sebab, salah satu indikator riset yang baik adalah mampu terpublikasi pada jurnal-jurnal internasional berreputasi dan terakreditasi dengan baik,” ungkap Suwendi.

Editor in Chief jurnal Psikohumaniora, Baidi Bukhori, mengaku masih “shock” dengan capaian ini. Dia terbengong seperti mimpi, karena jurnal Psikohumaniora telah tembus Scopus. “Saya masih bahagia nih, Mas. Semalem juga tak bisa tidur,” ungkap Baidi.

“Mengelola jurnal itu harus tahan banting. Tidak boleh putus asa, bahkan kadang harus “tombok” waktu, tenaga, pikiran, dan keikhlasan. Ibarat film kartun, dan digilas tandem roller (slender) harus bangkit hidup lagi,” sambung Baidi.

Baca juga: Menag dan Menteri Haji Saudi Bahas Sinergi Penguatan Layanan Jemaah

Beliau juga menegaskan bahwa wujud nyata implementasi motto Kementerian Agama “Ikhlas Beramal”, salah satunya adalah yang dilakukan oleh para pengelola jurnal.

Dengan capaian tersebut, segenap pengelola Jurnal Psikohumaniora mengucapkan terima kasih kepada Rektor dan Pimpinan UIN Walisongo, reviewer, support system, yang memberikan dukungan dan kerja kerasnya hingga pencapaian saat ini.

Baca juga: 100 Hari Erupsi Semeru, Bupati dan Masyarakat Lumajang Gelar Doa Bersama

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.