Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mendorong lulusan pendidikan vokasi memperkuat keahlian, pengalaman kerja, dan portofolio agar mampu bersaing di pasar kerja yang terus berubah. Pesan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi saat memberikan kuliah umum di Politeknik Penerbangan Makassar, Jumat (30/10/2026). Menurut Cris, perusahaan kini lebih mempertimbangkan kompetensi yang sesuai kebutuhan pekerjaan daripada sekadar latar belakang pendidikan. Karena itu, lulusan vokasi perlu membuktikan kemampuan melalui pengalaman praktik, sertifikasi, penguasaan teknologi digital, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Cris mengatakan, kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis menuntut lulusan memiliki keterampilan yang dapat ditunjukkan secara konkret. Kemampuan tersebut tidak cukup hanya dibuktikan melalui capaian akademik, tetapi juga lewat proyek yang berhasil diselesaikan, portofolio karya, pengalaman langsung di lapangan, serta sertifikasi resmi sesuai bidang keahlian.
“Karena sekarang di dunia kerja itu yang ditanya bukan school saja, tetapi lebih kepada skill. Perusahaan merekrut bukan untuk melihat lulusan dari mana, tetapi kompetensinya yang benar-benar dibutuhkan. Maka kompetensi ini menjadi sesuatu yang harus kita siapkan,” tegas Cris.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Empat Bekal Lulusan Vokasi
Dalam kesempatan itu, Cris menyebut empat bekal utama yang perlu dibangun taruna-taruni sebelum memasuki dunia kerja, yakni kompetensi, karakter, pengalaman, dan kolaborasi. Keempat aspek tersebut dinilai saling melengkapi dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang profesional dan mampu berkontribusi di lingkungan kerja.
Kompetensi menjadi dasar bagi lulusan untuk menjalankan tugas sesuai bidangnya. Namun, kemampuan teknis tersebut perlu diperkuat karakter, pengalaman, dan kemampuan bekerja sama agar lulusan dapat beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan.
Cris menjelaskan, bukti kompetensi membantu calon tenaga kerja menunjukkan kemampuan secara lebih konkret kepada dunia usaha dan industri. Proyek, portofolio, pengalaman lapangan, dan sertifikasi dapat menjadi rekam jejak yang memperlihatkan kesiapan lulusan menghadapi pekerjaan.
Dengan bukti tersebut, lulusan tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga memiliki hasil kerja dan pengalaman yang dapat dinilai sesuai kebutuhan perusahaan.
Literasi Digital dan AI Jadi Bekal
Perkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam persiapan lulusan vokasi. Cris menekankan pentingnya literasi digital dan pemanfaatan AI sebagai bagian dari pengembangan kompetensi.
Menurut dia, kemampuan beradaptasi dengan teknologi diperlukan agar lulusan dapat mengikuti perubahan cara kerja dan kebutuhan industri. Penguasaan teknologi digital dan AI disebut menjadi bekal tambahan yang penting di tengah perubahan lingkungan kerja.
Untuk mendukung persiapan memasuki dunia kerja, Kemnaker memperkenalkan ekosistem layanan digital ketenagakerjaan SIAPKerja. Ekosistem tersebut mencakup SkillHub, MagangHub, SertiHub, KarirHub, BizHub, dan Talent Innovation Hub.
Layanan itu diperkenalkan untuk mendukung pengembangan keterampilan dan persiapan karier tenaga kerja. Masyarakat juga dapat memanfaatkannya sebagai salah satu jalur untuk mengakses informasi serta layanan ketenagakerjaan sesuai kebutuhan.
Karakter dan Integritas Tetap Ditekankan
Selain keterampilan teknis, Cris mengingatkan taruna-taruni agar menjaga integritas, membangun karakter, dan memiliki semangat pantang menyerah. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi juga dibentuk melalui sikap dan tindakan setiap individu.
Karakter tersebut dinilai penting untuk mendukung kemampuan profesional di lingkungan kerja. Dengan integritas dan sikap pantang menyerah, lulusan diharapkan mampu menghadapi tantangan sekaligus terus mengembangkan diri.
Direktur Politeknik Penerbangan Makassar Sukarwoto mengatakan, penyiapan SDM transportasi yang unggul, kompeten, dan berdaya saing global merupakan bagian penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Menurut Sukarwoto, pencapaian tujuan tersebut membutuhkan sinergi pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha. Kolaborasi diperlukan agar pendidikan vokasi dapat menghasilkan lulusan dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia profesional.
Penguatan kompetensi, pengalaman praktik, karakter, dan literasi digital menjadi langkah untuk memperkecil kesenjangan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Dengan bekal itu, lulusan vokasi diharapkan tidak hanya siap memasuki pasar kerja, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang mengikuti perubahan industri.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















