Hujan Beralih, Ancaman Hidrometeorologi Muncul
SLEMAN, Masyarakat Sleman diimbau mewaspadai risiko hidrometeorologi setelah hujan mulai mengguyur wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Hujan tersebut menandai berakhirnya krisis kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena Super El Nino, tetapi juga membawa ancaman baru berupa erosi, tanah longsor, dan banjir bandang. Imbauan itu disampaikan Dosen Ilmu Tanah UPN Veteran Yogyakarta, Muhamad Kundarto, untuk mendorong perubahan fokus mitigasi dari penanganan kekeringan menuju kesiapsiagaan menghadapi daya rusak air.
Curah hujan yang turun memang efektif meredam titik api kebakaran lahan. Namun, kondisi tanah yang sebelumnya kering membuat hujan dengan intensitas tinggi berpotensi menimbulkan persoalan baru di sejumlah wilayah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kundarto menjelaskan, air hujan yang menghantam tanah kering dapat memicu erosi dan tanah longsor. Selain itu, akumulasi debit aliran permukaan dari wilayah hulu sungai berpotensi menyebabkan luapan banjir bandang ketika aliran tersebut menemui hambatan alam di kawasan permukiman hilir.
Tanah Kering Berisiko Mengalami Erosi dan Longsor
Perubahan dari musim kemarau menuju musim penghujan perlu diikuti kesiapsiagaan terhadap risiko hidrometeorologi Sleman dan wilayah sekitarnya. Tingginya curah hujan setelah periode kering dapat meningkatkan aliran permukaan, terutama ketika air tidak segera meresap ke dalam tanah.
Dalam kondisi tersebut, tanah kering menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena hantaman hujan dapat memicu pengikisan. Aliran air dari kawasan hulu juga dapat bertambah dan bergerak menuju wilayah hilir.
Kondisi itu berpotensi menjadi lebih berbahaya apabila aliran air menghadapi hambatan alam di dekat permukiman. Akumulasi debit tersebut kemudian dapat memicu luapan banjir bandang.
Karena itu, masyarakat diminta mengalihkan perhatian mitigasi dari ancaman kebakaran lahan akibat kemarau menuju pengendalian air, erosi, longsor, dan banjir. Perubahan fokus tersebut dinilai penting di tengah pergeseran kondisi cuaca yang semakin ekstrem.
Pergeseran Musim Berdampak pada Jadwal Tanam
Anomali cuaca juga berdampak pada sektor ketahanan pangan perdesaan. Pergeseran kalender musim menyebabkan jadwal tanam mundur hingga satu bulan penuh.
Kondisi ini menghadirkan tantangan bagi petani dalam menentukan waktu tanam. Kesalahan dalam memprediksi perubahan musim dapat meningkatkan risiko gagal panen.
“Para petani yang salah memprediksi waktu tanam bisa mengalami ancaman gagal panen di mana hal ini akan memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga di awal tahun,” kata Kundarto.
Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil pertanian, tetapi juga dapat berdampak pada ketersediaan pasokan dan harga pada awal tahun. Oleh sebab itu, perubahan jadwal musim menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan dalam kegiatan pertanian perdesaan.
Mitigasi Perlu Beradaptasi dengan Perubahan Iklim
Kundarto menilai seluruh elemen masyarakat perlu mempercepat adaptasi terhadap perubahan pola musim. Menurut dia, batas antar-musim kini menjadi semakin ekstrem sehingga strategi penanganan bencana tidak dapat lagi hanya berfokus pada satu jenis ancaman.
“Perubahan iklim mendorong batas antar musim menjadi semakin ekstrem, sehingga butuh kecepatan beradaptasi untuk menentukan strategi dari menghadapi kebakaran menuju pengendalian air, erosi, longsor, dan banjir,” tandasnya.
Dengan memasuki musim penghujan, kesiapsiagaan masyarakat Sleman perlu diarahkan untuk menghadapi daya rusak air. Ancaman yang perlu diantisipasi mencakup erosi dan tanah longsor akibat curah hujan tinggi, luapan banjir bandang dari aliran hulu, serta dampak pergeseran musim terhadap jadwal tanam dan ketahanan pangan perdesaan.
Sumber: /MC Kabupaten Sleman/KIM Berbah/Kusnadi
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















