Headline.co.id, Jakarta ~ Polri mengembangkan SMART-HAC (Smart Hybrid Assessment Center Polri) untuk mentransformasi penyelenggaraan Assessment Center menjadi lebih efektif, fleksibel, dan terukur. Inovasi tersebut dikembangkan AKBP Dr. Basuki, S.H., M.H., melalui Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Tahun 2026. Pengembangan SMART-HAC disampaikan pada 26 Oktober 2026 di Jakarta sebagai respons terhadap keterbatasan waktu, jarak geografis, mobilitas asesor, serta kebutuhan penugasan asesor yang juga memiliki tanggung jawab struktural.
SMART-HAC memanfaatkan teknologi konferensi video agar penilaian kompetensi dapat dilakukan secara tatap muka atau onsite, daring atau online, maupun kombinasi keduanya atau hybrid. Skema pelaksanaan akan disesuaikan dengan karakteristik metode penilaian dan kebutuhan organisasi Polri.
Assessment Center Polri Hadapi Tantangan Waktu dan Jarak
Assessment Center menjadi salah satu instrumen penting dalam pengelolaan karier dan pengembangan sumber daya manusia Polri. Penilaian kompetensi melalui mekanisme ini diarahkan untuk mendukung proses yang objektif, transparan, dan akuntabel dalam membangun organisasi kepolisian yang profesional, modern, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Namun, penyelenggaraan Assessment Center masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan waktu, jarak geografis antarlokasi, serta tingginya mobilitas asesor dapat memengaruhi efisiensi biaya dan kecepatan pelayanan. Selain itu, sebagian asesor juga mengemban tanggung jawab struktural sehingga penugasannya memerlukan fleksibilitas lebih besar.
Melalui SMART-HAC, asesor yang berada di lokasi berbeda diharapkan tetap dapat berpartisipasi dalam proses assessment tanpa selalu melakukan perjalanan dinas. Pendekatan ini diarahkan untuk mengurangi kebutuhan mobilitas asesor, meningkatkan efisiensi waktu dan biaya, serta memperluas fleksibilitas pelayanan penilaian kompetensi di lingkungan Polri.
Teknologi Mendukung Peran Asesor
Penggunaan teknologi digital dalam SMART-HAC tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran asesor. Teknologi ditempatkan sebagai sarana pendukung agar pelaksanaan tugas asesor dapat berlangsung lebih efektif, dengan tetap mempertahankan objektivitas, profesionalisme, integritas, dan kualitas penilaian.
Untuk memastikan inovasi berjalan secara terarah dan dapat dipertanggungjawabkan, pengembangan SMART-HAC mencakup sejumlah perangkat pengendalian. Perangkat tersebut meliputi Standar Operasional Prosedur (SOP), Matriks Pemilihan Mode Assessment, instrumen pemeriksaan kesiapan atau Readiness Assessment, daftar pengendalian risiko atau Risk Register, serta instrumen penjaminan mutu atau Quality Assurance.
Matriks Pemilihan Mode Assessment akan menjadi bagian dari pengaturan mengenai pilihan pelaksanaan onsite, online, atau hybrid. Sementara itu, instrumen kesiapan, pengendalian risiko, dan penjaminan mutu disiapkan untuk mendukung kesesuaian prosedur, keandalan teknologi, serta kualitas hasil assessment.
Implementasi Dilakukan Bertahap
Implementasi SMART-HAC dirancang melalui beberapa tahapan, yakni Bimbingan Teknis (Bimtek), simulasi, pelaksanaan pilot, serta monitoring dan evaluasi. Rangkaian ini ditujukan untuk menguji kesiapan sumber daya manusia, keandalan teknologi, kesesuaian prosedur, dan kualitas hasil assessment sebelum inovasi diterapkan secara lebih luas.
Keberhasilan inovasi tersebut membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Pihak yang terlibat lain pimpinan Bagpenkompeten, Kasubbagkompeten Bagbinkar Ro SDM Polda, para asesor, asesi, unsur Div TIK Polri, serta Bid TIK Polda.
Keterlibatan para pemangku kepentingan dinilai penting untuk membangun komitmen bersama dan memastikan keberlanjutan SMART-HAC. Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja yang lebih adaptif, kolaboratif, efisien, dan berbasis teknologi.
Efektivitas SMART-HAC Akan Diukur
SMART-HAC tidak hanya diarahkan sebagai perubahan teknis dalam pelaksanaan Assessment Center. Inovasi ini diharapkan dapat mempercepat pelayanan penilaian kompetensi sekaligus meningkatkan kapasitas organisasi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya manusia berbasis kompetensi.
Keberhasilannya perlu dibuktikan melalui pengukuran kondisi sebelum dan sesudah implementasi atau before and after. Indikator yang digunakan lain efisiensi biaya, efektivitas waktu, mobilitas asesor, kapasitas pelayanan, kualitas assessment, serta kepuasan pemangku kepentingan.
Dengan demikian, SMART-HAC Polri diarahkan bukan sekadar menjadi digitalisasi kegiatan Assessment Center, melainkan transformasi cara kerja dalam penyelenggaraan penilaian kompetensi. Melalui kepemimpinan yang adaptif, kolaborasi pemangku kepentingan, dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, inovasi ini diharapkan memperkuat manajemen sumber daya manusia Polri yang profesional dan berbasis kompetensi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















