Headline.co.id, Batang ~ Santri di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, meraih sejumlah prestasi nasional dan internasional dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026. Salah satu prestasi itu diraih Fadhirrahman Azri dari Pondok Modern Tazakka melalui inovasi robot prototype humanoid berbasis kecerdasan buatan atau AI dalam Kompetisi Internasional Science Invention Fair (ISIF) 2026 di Universitas Indonesia. Ia meraih juara dua setelah bersaing dengan 700 peserta dari pondok pesantren di seluruh Indonesia. Prestasi tersebut mendapat apresiasi dari Baznas melalui Unit Pengumpul Zakat Kantor Kemenag Batang karena dinilai menunjukkan pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung pendidikan santri.
Fadhirrahman merancang robot prototype humanoid yang dapat membantu santri mempelajari bahasa Inggris dan Arab. Robot itu dirancang untuk ditempatkan di sudut-sudut ruang representatif di lingkungan pondok sehingga santri dapat berinteraksi menggunakan dua bahasa tersebut.
“Bisa diletakkan di sudut-sudut ruang representatif di pondok, lalu santri bisa mengajak ngobrol robot prototype humanoid itu, menggunakan dua bahasa tersebut, sehingga bisa mengasah kemampuan berbahasa asing,” kata Fadhirrahman setelah menerima apresiasi di halaman Kantor Kemenag Batang, Kabupaten Batang, Kamis (22/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Santri Batang Manfaatkan AI untuk Pendidikan
Fadhirrahman mengatakan, dirinya meraih predikat silver atau juara dua setelah menjalani latihan intensif bersama pembimbing di pondok selama dua bulan. Ia menyebut persaingan dalam kompetisi tersebut cukup ketat karena diikuti peserta dari berbagai pondok pesantren di Indonesia.
“Ada 700 peserta, persaingannya kompetitif, Alhamdulillah kami bisa meraih predikat silver atau juara dua, berkat latihan intensif dengan pembimbing di pondok selama dua bulan,” ujarnya.
Menurut dia, perkembangan kecerdasan buatan perlu disikapi berdasarkan tujuan penggunaannya. AI, kata dia, dapat memberikan manfaat apabila digunakan untuk mendukung kepentingan umat, termasuk dalam bidang pendidikan.
“Tergantung cara menggunakannya, kalau dipakainya untuk kebaikan, misal untuk membantu dunia pendidikan seperti melatih santri berbahasa asing, itu positif, begitu juga sebaliknya,” tegasnya.
Fadhirrahman menilai santri pada momentum Hari Santri Nasional tidak hanya perlu mempelajari ilmu agama untuk meningkatkan iman dan takwa. Santri juga perlu menguasai teknik dan ilmu alam agar memiliki pengetahuan yang berimbang.
Selain prestasi di bidang teknologi, santri dari Pondok Pesantren Jlamprang, Bawang, Tri Nidhom Aziz, meraih juara dalam Lomba Film Dokumenter Hari Santri Nasional Tingkat Nasional. Film yang dibuatnya menceritakan kiprah santri di Pondok Pesantren Jlamprang sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk menempuh pendidikan.
Tri Nidhom mengatakan proses produksi film dokumenter tersebut dilakukan dalam waktu yang cukup singkat. Ia juga menilai penguasaan teknologi informasi penting bagi santri di tengah kehidupan yang semakin digital.
“Santri itu jangan sampai ketinggalan, karena banyak orang di luar sana yang mempelajarinya untuk berbagai kepentingan, makanya kita jangan mau kalah, salah satunya dengan bikin film dokumenter,” tuturnya.
Pemanfaatan AI Tetap Perlu Pengawasan
Tri Nidhom mengakui teknologi kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Namun, ia mengingatkan agar teknologi tersebut digunakan secara bijak karena dampaknya bergantung pada tujuan penggunanya.
“Asalkan bisa memanfaatkan secara bijak manfaatnya besar, kalau digunakan untuk kedzaliman dampaknya sangat buruk, makanya tergantung manusianya mau buat kebaikan atau sebaliknya,” jelasnya.
Kasubag Tata Usaha Kantor Kemenag Batang, Sodikin, mengapresiasi prestasi para santri di bidang teknologi, olahraga, dan bidang lainnya. Menurut dia, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa santri mampu berperan di tingkat nasional hingga internasional.
“Itu sangat luar biasa karena pesantren sekarang itu mulai berkembang dan tidak kalah dalam teknologi informasi berbasis kecerdasan buatan. Itu kabar gembira buat mereka dan menyambutnya dengan menekuninya, untuk membantu dunia pendidikan, di dalam pondok,” terangnya.
Sodikin menyebut kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk literasi kajian kitab secara digital sehingga memudahkan santri. Namun, penggunaan AI tidak boleh membuat santri meninggalkan tradisi belajar secara tatap muka.
Kecerdasan buatan, menurut dia, tidak dapat menanamkan akhlakul karimah seperti yang diajarkan para kiai atau guru. Karena itu, pemanfaatan teknologi tetap perlu berjalan berdampingan dengan tradisi “nyantri”.
Daftar Santri Berprestasi dari Batang
Dari Pondok Modern Tazakka, empat santri menyandang juara teknologi, yakni Musyaffa Taufiqul Hakim, Ahmed Rheyzi Dealova, Fadhirrahman Azri, dan Muhammad Hamzah Falah.
Prestasi lainnya diraih Arfa Virza Saputra melalui lomba pidato bahasa Jawa, Queena Luwes dalam lomba lari, Aflakhul Manan melalui pidato bahasa Arab, Husna Farah pada badminton putri, Audhy Abdul pada badminton putra, serta Khanza pada tenis meja.
Sementara itu, pada Olimpiade Madrasah Indonesia, Zahra Firdaus dari MAN Batang meraih juara untuk mata pelajaran Biologi. Akmalia Fitriana dari MA Sunan Kalijaga meraih juara untuk mata pelajaran Geografi.
Apresiasi terhadap para santri berprestasi tersebut diberikan Baznas melalui Unit Pengumpul Zakat Kantor Kemenag Batang. Pencapaian itu menjadi bagian dari semarak peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Batang, terutama melalui karya dan prestasi di bidang teknologi, pendidikan, olahraga, serta kompetisi lainnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















