Headline.co.id ~ Pasangan para bulu tangkis Indonesia, Leani Ratri Oktila/Hikmat Ramdani, meraih medali emas ganda campuran klasifikasi SL3-SU5 pada Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang, Jumat (23/10/2026). Leani Ratri dan Hikmat mengalahkan pasangan India, Thulasimathi Murugesan/Nitesh Kumar, melalui pertandingan tiga gim dengan skor 11-21, 21-19, dan 21-14. Kemenangan dalam laga berdurasi 51 menit itu diraih setelah pasangan Indonesia bangkit dari kekalahan pada gim pertama. Hasil tersebut sekaligus menjadi emas ganda campuran keempat Ratri secara beruntun sejak Asian Para Games Incheon 2014.
Medali emas di Nagoya juga menjadi emas ke-11 bagi kontingen Indonesia pada Asian Para Games 2026 berdasarkan data Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Bagi Ratri, keberhasilan itu memperpanjang catatan emas pada nomor ganda campuran dalam empat edisi berturut-turut, yakni Incheon 2014, Jakarta 2018, Hangzhou 2022, dan Nagoya 2026.
Leani Ratri/Hikmat Bangkit setelah Kalah di Gim Pertama
Ratri/Hikmat mengawali final dengan tekanan besar. Mereka kehilangan gim pertama 11-21 setelah permainan pasangan India lebih dominan. Namun, pasangan Indonesia mampu memperbaiki penampilan dan merebut gim kedua dengan skor 21-19.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pada gim penentuan, Ratri/Hikmat menjaga momentum hingga menang 21-14. Ratri mengakui medali emas memang menjadi target yang telah mereka tetapkan, tetapi tekanan di pertandingan lebih besar daripada perkiraan.
“Sebenarnya hasil emas ini, kalau saya sama Hikmat secara pribadi sudah menargetkan emas. Cuma saya tidak expect kalau tekanan di dalam lapangan sebesar ini,” ujar Ratri.
Menurut Ratri, ketegangan sempat memengaruhi permainannya sejak awal laga. Ia mengatakan, dirinya belum tenang dan masih merasakan beban pertandingan, meskipun sebelumnya beberapa kali menghadapi pasangan India tersebut dengan permainan yang lebih nyaman.
“Saya hanya tegang, di belakang juga belum tenang, masih ada beban di lapangan yang berat. Dan untuk set kedua saya mencoba tenang. Alhamdulillah,” ungkapnya.
“Padahal sebelum-sebelumnya kita cukup mudah, cukup enjoy melawan pasangan India ini,” tambah Ratri.
Tantangan mental Ratri semakin besar karena pada hari yang sama ia lebih dahulu tampil di final tunggal putri dan meraih medali perak. Ia mengaku harus mengatur kembali fokus sebelum bertanding di nomor ganda campuran.
“Saya barusan juga final di single dan kalah tadi. Mungkin kalau saya bangkit dari situ, memulai dari awal lagi kan sulit. Tapi kalau untuk mixed double, saya sebenarnya selalu percaya diri,” tuturnya.
Kepercayaan diri itu membantu Ratri/Hikmat mengubah jalannya pertandingan. Setelah tertinggal pada gim pembuka, keduanya berusaha lebih tenang, memperbaiki komunikasi, dan fokus pada setiap poin.
Dukungan Penonton Bantu Ratri/Hikmat Menjaga Momentum
Hikmat mengatakan, dukungan penonton Indonesia di tribun turut menjaga semangat mereka ketika pertandingan berlangsung sulit. Saat pasangan Indonesia tertinggal cukup jauh pada gim pertama, suasana sempat hening sebelum sorakan kembali terdengar.
“Di poin-poin awal saja, ketika senyap, saya tahu penonton Indonesia banyak. Tapi ketika senyap, saya tahu mereka mungkin belum dapat menerima kami, karena kami memang ketinggalan jauh. Tapi ketika ada suara itu, tetap menambah motivasi,” ujar Hikmat.
Ia menyebut ketenangan dan komunikasi menjadi kunci kebangkitan mereka. Kedua hal tersebut membantu pasangan Indonesia memperbaiki permainan setelah kehilangan gim pertama.
“Saya mencoba tenang. Komunikasi lebih lagi di lapangan, saya tenang, tenang, tenang untuk mencari kemenangan kita,” katanya.
Bagi Ratri, ganda campuran merupakan nomor yang paling ia tekuni bersama Hikmat dalam latihan sehari-hari. Karena itu, emas pada nomor tersebut telah menjadi sasaran utama sejak awal kompetisi.
“Karena memang mixed double nomor favorit saya, nomor yang memang saya latihan setiap hari. Saya sama Hikmat itu latihannya setiap hari untuk mixed double. Jadi kalau emas di mixed double, saya sudah mengira akan emas. Cuma nggak mengira kalau bakalan seramai ini aja mainnya,” ungkapnya.
Ratri mempersembahkan medali emas tersebut untuk orang-orang terdekatnya, terutama keluarga. “Tetap orang tua,” ucap Ratri singkat.
Koleksi Ratri Capai 12 Medali Asian Para Games
Berdasarkan catatan Kemenpora, Ratri kini mengoleksi 12 medali Asian Para Games yang terdiri atas enam emas, empat perak, dan dua perunggu.
Pada Incheon 2014, Ratri meraih emas ganda campuran, perak ganda putri, dan perunggu tunggal putri. Di Jakarta 2018, ia memperoleh emas ganda campuran dan ganda putri serta perak tunggal putri.
Pada Asian Para Games Hangzhou 2022, Ratri kembali meraih emas ganda campuran dan ganda putri serta perak tunggal putri. Sementara di Nagoya 2026, ia meraih emas ganda campuran, perak tunggal putri, dan perunggu ganda putri.
Dengan hasil di Nagoya, Ratri melengkapi raihan tiga warna medali pada Asian Para Games 2026, yakni emas, perak, dan perunggu.
Ratri/Hikmat Bidik Paralimpiade Los Angeles 2028
Setelah menyelesaikan perjuangan di Nagoya, Ratri dan Hikmat mengarahkan perhatian pada target berikutnya, yakni tampil di Paralimpiade Los Angeles 2028. Ratri berharap dapat menjaga kesehatan agar tetap mampu bersaing di tingkat internasional.
“Semoga saya sehat, lebih kesehatan untuk bisa tampil di LA. Target otomatis saya sekarang untuk bisa tampil di LA,” tegas Ratri.
Ratri/Hikmat sebelumnya meraih medali emas ganda campuran pada Paralimpiade Paris 2024 serta Kejuaraan Dunia BWF Para Badminton 2024 di Pattaya dan 2026 di Manama. Mereka juga meraih emas pada tiga edisi ASEAN Para Games berturut-turut serta sejumlah gelar sirkuit internasional pada 2026.
Raihan emas Asian Para Games 2026 menjadi tambahan penting bagi perjalanan keduanya menuju Los Angeles. Keberhasilan bangkit setelah kehilangan gim pertama juga menegaskan pentingnya ketenangan, komunikasi, dan konsistensi dalam pertandingan tingkat tinggi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















