Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mempercepat transformasi tata kelola kepemudaan dan olahraga dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Langkah tersebut dilakukan melalui penyederhanaan 191 Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) menjadi empat regulasi, penguatan pembinaan atlet, serta penyusunan kebijakan pembangunan karakter pemuda. Dalam keterangan tertulis Kemenpora pada Selasa (20/10/2026), Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyebut transformasi itu ditujukan untuk menyederhanakan birokrasi, memperkuat kolaborasi pusat dan daerah, serta memperluas keterlibatan sektor swasta. Capaian tersebut berjalan bersamaan dengan sejumlah prestasi Indonesia di kompetisi olahraga internasional.
Erick mengatakan, reformasi tata kelola menjadi dasar untuk membangun sistem kepemudaan dan olahraga yang lebih efektif. Menurut dia, birokrasi harus berperan sebagai penggerak, bukan penghambat, dalam pengembangan olahraga nasional.
“Sejalan dengan arahan Bapak Presiden Prabowo, kita ingin birokrasi menjadi penggerak, bukan penghambat. Dari 191 peraturan menjadi empat, ini bukan sekadar memangkas aturan, tetapi mengubah cara pemerintah bekerja,” ujar Erick.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
191 Permenpora Disederhanakan Menjadi Empat
Dalam proses deregulasi, Kemenpora memangkas 191 Permenpora menjadi empat regulasi. Jumlah pasal dalam regulasi tersebut juga berkurang sekitar 60 persen, dari 1.500 pasal menjadi sekitar 600 pasal.
Keempat regulasi itu mencakup pelayanan kepemudaan, pembudayaan olahraga, pembinaan olahraga prestasi, dan industri olahraga. Penyederhanaan tersebut ditujukan untuk mengurangi tumpang tindih aturan, mempercepat koordinasi pemerintah pusat dan daerah, serta memberikan kepastian bagi para pemangku kepentingan.
Kemenpora juga mengarahkan reformasi regulasi untuk memperluas partisipasi dunia usaha dalam membangun ekosistem olahraga nasional. Selain menjadi sarana pencapaian prestasi, olahraga dinilai memiliki potensi untuk berkontribusi terhadap perekonomian melalui pengembangan industri olahraga dan wisata olahraga.
Pengembangan sektor tersebut diharapkan membuka peluang usaha dan menciptakan lapangan kerja. Karena itu, reformasi tata kelola ditempatkan sebagai salah satu fondasi untuk memperkuat pembinaan atlet sekaligus mengembangkan olahraga sebagai bagian dari kegiatan ekonomi.
Prestasi Indonesia di SEA Games hingga Asian Games
Di bidang prestasi, Indonesia menempati peringkat kedua pada SEA Games Thailand 2025 dengan raihan 91 medali emas, 111 perak, dan 131 perunggu. Capaian itu menjadi keberhasilan Indonesia kembali berada di posisi kedua ketika tidak menjadi tuan rumah, setelah terakhir kali meraihnya pada SEA Games Thailand 1995.
Lifter Rizki Juniansyah mencatatkan dua rekor dunia angkat besi kelas 79 kilogram melalui angkatan clean and jerk 205 kilogram dan total angkatan 365 kilogram. Atlet lompat galah Diva Renata Jayadi juga membukukan rekor SEA Games sekaligus rekor nasional dengan lompatan setinggi 4,35 meter.
Pada ASEAN Para Games Thailand 2025 yang berlangsung pada Januari 2026, Indonesia kembali menempati peringkat kedua. Kontingen Indonesia meraih 135 medali emas dan total 393 medali.
Sejumlah atlet juga mencatatkan rekor baru. Taufik Abdul Karim menorehkannya pada nomor lari 100 meter dan 200 meter T11, sedangkan Harsanto Mutiara Cantik mencatatkan rekor pada nomor renang 100 meter gaya dada SB9.
Indonesia juga melampaui target pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Kontingen Indonesia membawa pulang lima medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu, melebihi target awal empat medali emas.
Lima medali emas itu berasal dari cabang olahraga bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan yang juga dipertandingkan di Olimpiade. Selain medali, atlet Indonesia menghasilkan sembilan catatan rekor dunia, Asia, dan Asian Games.
Rahmat Erwin Abdullah membukukan enam catatan rekor melalui dua jenis angkatan. Sementara itu, atlet panjat tebing Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Aditya Tri Syahri mencatatkan tiga rekor. Dari cabang panahan, Nurisa Dian Ashrifah mempersembahkan medali emas pertama Indonesia sepanjang keikutsertaan di Asian Games.
Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Pada cabang sepak bola, Indonesia mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026 yang untuk pertama kalinya digelar. Pertandingan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, dan Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.
Kemenpora menyebut Timnas Indonesia menjuarai turnamen tersebut setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti pada pertandingan final di SUGBK, Jakarta, 5 Oktober 2026.
Menurut Kemenpora, capaian itu menjadi momentum bagi perkembangan sepak bola nasional. Penyelenggaraan kompetisi internasional juga disebut memperlihatkan pentingnya pembinaan prestasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Erick mengatakan, berbagai capaian olahraga tersebut perlu menjadi dasar untuk memperkuat sistem pembinaan atlet dari pembibitan hingga kompetisi internasional.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa ketika pembinaan dilakukan dengan fokus, target yang terukur, dan kolaborasi yang kuat, atlet kita mampu bersaing dan menciptakan sejarah. Kita tidak ingin keberhasilan hanya datang sesekali,” kata Erick.
Cetak Biru Kepemudaan Disiapkan
Selain pembinaan olahraga, Kemenpora menyiapkan transformasi kebijakan kepemudaan menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. Kemenpora tengah menyusun cetak biru kepemudaan nasional dan Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia.
Kebijakan tersebut bertumpu pada tiga nilai utama, yaitu patriotik, gigih, dan empatik. Nilai patriotik diarahkan untuk memperkuat kecintaan dan tanggung jawab terhadap bangsa. Nilai gigih menekankan ketangguhan generasi muda dalam menghadapi perubahan dan persaingan global, sedangkan nilai empatik mendorong kepedulian sosial.
Pelaksanaan kebijakan itu direncanakan melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, serta sektor industri. Pelibatan berbagai pihak tersebut ditujukan agar pembangunan karakter pemuda menjadi gerakan yang berkelanjutan.
“Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda, tantangan kita bukan hanya bagaimana mengenang sejarah para pemuda yang mempersatukan bangsa, tetapi bagaimana menyiapkan generasi yang mampu menentukan masa depan Indonesia,” ujar Erick.
Ia menegaskan, keberhasilan transformasi Kemenpora tidak cukup diukur dari jumlah medali yang diraih. Menurut Erick, ukuran lainnya adalah kekuatan sistem pembinaan dan kemampuan melahirkan atlet berprestasi serta generasi muda yang berkualitas.
“Ukuran keberhasilan bukan hanya berapa medali yang kita menangkan hari ini, melainkan seberapa kuat sistem yang kita bangun agar Indonesia terus melahirkan juara dan generasi muda yang mampu membawa bangsa ini maju,” pungkas Erick.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















