Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Serangkaian ledakan di lokasi penyimpanan senjata dan amunisi di Suriah sepanjang September 2026 menyoroti persoalan keamanan gudang militer ketika angkatan bersenjata negara itu sedang menjalani restrukturisasi besar. Ledakan terbaru terjadi pada Senin dini hari di depot senjata al-Eis, selatan Aleppo, dan melukai sedikitnya empat orang. Insiden tersebut menjadi bagian dari rangkaian ledakan yang terjadi di sejumlah wilayah dalam waktu berdekatan, sementara penyebab pastinya masih diselidiki. Kondisi penyimpanan yang buruk menjadi salah satu kemungkinan yang disoroti, sedangkan dugaan sabotase belum didukung bukti keras. Reuters +1
Rangkaian insiden itu terjadi ketika militer Suriah berupaya membangun kembali struktur angkatan bersenjata setelah lebih dari satu dekade perang. Proses tersebut mencakup konsolidasi persenjataan dari berbagai sumber, penggabungan kekuatan yang sebelumnya terpisah, serta pengelolaan stok senjata dalam jumlah besar dengan infrastruktur penyimpanan yang telah lama mengalami tekanan.
Empat Ledakan Terjadi Sepanjang September
Sebelum ledakan di al-Eis, insiden di Ayyash, sebelah barat Deir Az Zor, pada Jumat menewaskan 11 tentara. Ledakan lain pada 9 September di Sarmada, Idlib, menewaskan 14 personel Kementerian Pertahanan. Pada 1 September, lima orang juga tewas setelah kendaraan yang membawa amunisi meledak di Kota Binnish, Idlib.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sedikitnya 16 ledakan serupa tercatat menghantam fasilitas penyimpanan senjata sejak jatuhnya Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024 setelah serangan oposisi. Sejumlah insiden sebelumnya dikaitkan dengan kondisi penyimpanan yang buruk, kebakaran, maupun amunisi yang telah mengalami penurunan kualitas, meskipun penyebab beberapa kejadian lainnya belum diketahui secara pasti. Reuters
Restrukturisasi Militer Menambah Tekanan Penyimpanan
Omer Ozkizilcik, nonresident senior fellow untuk Syria Project di Middle East Programmes Atlantic Council, menilai militer Suriah sedang mengalami perubahan besar. Tentara yang ada pada masa al-Assad telah dibubarkan, sementara para petempur dari kelompok oposisi bersenjata kemudian diintegrasikan ke dalam struktur militer baru.
'Ledakan-ledakan itu bisa saja terjadi karena kelalaian. Tentara Suriah menerima bantuan militer jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Mereka menguasai persediaan senjata bekas rezim dan bekas Pasukan Demokratik Suriah yang didukung Amerika Serikat. Peningkatan jumlah senjata, ditambah kebutuhan melindunginya dari kemungkinan serangan udara Israel, mungkin mendorong tentara Suriah menyimpan senjata di tempat yang tidak memadai,' kata Ozkizilcik.
Menurut Ozkizilcik, militer Suriah masih berada dalam fase transisi menuju struktur yang lebih profesional. Pemerintah di Damaskus juga bekerja untuk mengintegrasikan wilayah dan pasukan yang sebelumnya berada di bawah kendali Pasukan Demokratik Suriah atau SDF yang dipimpin kelompok Kurdi.
'Tentara Suriah masih belum menjadi tentara profesional. Ledakan seperti ini bukan pertama kali terjadi di Suriah. Sebelum jatuhnya al-Assad, kejadian serupa juga terjadi berkali-kali. Saya tidak berpikir ledakan ini akan memengaruhi kemampuan militer Suriah secara terlihat. Ini hanya kehilangan sebagian persediaan yang dapat diganti,' ujar Ozkizilcik.
Senjata dan amunisi membutuhkan prosedur penanganan serta penyimpanan yang ketat. Amunisi dalam jumlah besar yang telah berusia lama dapat mengalami penurunan kualitas apabila disimpan selama bertahun-tahun pada lingkungan dengan suhu tinggi atau kelembapan yang tidak terkendali. Kondisi tersebut dapat membuat material menjadi semakin tidak stabil.
'Infrastruktur gudang yang ada mengalami penuaan parah. Sebagian besar sudah berusia puluhan tahun dan tidak memenuhi standar internasional untuk penyimpanan yang aman,' kata pakar keamanan Ismat al-Absi.
Al-Absi menjelaskan bahwa penyimpanan amunisi tua di lingkungan terbuka atau semi tertutup tanpa sistem pendinginan dan pengendalian kelembapan dapat menciptakan kondisi yang disebut sebagai reaksi berantai akibat peningkatan panas. Risiko itu semakin penting diperhatikan ketika stok persenjataan dalam jumlah besar harus dipindahkan dan dikonsolidasikan dalam masa restrukturisasi.
Kemungkinan Sabotase Belum Didukung Bukti
Frekuensi ledakan yang berulang juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan sabotase. Kekhawatiran tersebut muncul dengan latar belakang serangan Israel yang berulang terhadap wilayah Suriah sejak jatuhnya al-Assad, termasuk serangan terhadap sasaran militer. Namun, hingga kini belum terdapat bukti keras yang menunjukkan bahwa ledakan gudang senjata tersebut merupakan hasil sabotase atau memiliki hubungan langsung dengan Israel. Al Jazeera
'Tidak ada informasi publik mengenai kemungkinan sabotase' di balik ledakan depot senjata tersebut, kata Ozkizilcik. Ia menambahkan bahwa belum ada bukti mengenai hubungan langsung dengan Israel.
Al-Absi menilai luasnya wilayah tempat insiden terjadi tetap membuat kemungkinan campur tangan yang disengaja perlu diperiksa dalam proses penyelidikan. Menurut dia, kelemahan sistem pengawasan, keamanan jalur pengangkutan, dan fragmentasi administrasi dapat menjadi celah keamanan pada masa restrukturisasi institusi militer.
'Celah utama yang bisa memungkinkan operasi sabotase adalah tidak adanya pengawasan cerdas, ketergantungan pada penjagaan manusia tradisional dibandingkan sensor jarak jauh dan deteksi pergerakan termal, lemahnya pengamanan jalur transportasi, serta fragmentasi administrasi,' kata al-Absi.
Kementerian Pertahanan Suriah Selidiki Ledakan
Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan penyebab rangkaian ledakan sedang diselidiki untuk mencegah insiden serupa pada masa mendatang. Belum adanya kesimpulan resmi membuat kemungkinan penyebab tetap terbuka, terutama antara persoalan teknis penyimpanan, kondisi amunisi yang menua, kelalaian dalam pengelolaan, dan kemungkinan gangguan keamanan yang masih harus dibuktikan.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi Suriah dalam mengelola persenjataan ketika membangun kembali angkatan bersenjatanya. Di tengah perubahan struktur militer dan konsolidasi senjata dari berbagai sumber, keselamatan fasilitas penyimpanan menjadi persoalan penting karena kesalahan pengelolaan dapat menimbulkan korban sekaligus menambah risiko keamanan di sekitar lokasi militer.
Dukung beri centang Headline.co.id di icon G (Gratis) atau Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















