Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Misi Pencari Fakta Internasional Independen PBB untuk Iran menyatakan Amerika Serikat kemungkinan melakukan kejahatan perang dalam dua serangan udara di Iran yang menewaskan sedikitnya 178 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Temuan itu mencakup serangan terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab dan kawasan kompleks olahraga serta permukiman di Lamerd pada 28 Februari, hari ketika Amerika Serikat dan Israel memulai perang melawan Iran. Misi menilai pelaksanaan serangan tersebut perlu diperiksa dari sisi kewajiban membedakan sasaran militer dan objek sipil. Laporan yang diumumkan Kamis itu juga menuduh Iran melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam penanganan protes pada 2025 hingga awal 2026.
Temuan tersebut akan disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa. Pemeriksaan misi mencakup tindakan Amerika Serikat selama perang Iran serta respons pemerintah Iran terhadap gelombang kerusuhan nasional yang dimulai pada akhir Desember. Dalam kesimpulannya, misi meminta Iran dan Amerika Serikat segera menghentikan permusuhan, memberikan reparasi kepada para korban, dan mencari perdamaian permanen melalui jalur diplomatik.
Misi PBB Soroti Verifikasi Target Sipil di Minab
Salah satu fokus utama laporan adalah serangan terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab yang dilakukan menggunakan rudal Tomahawk. Serangan itu menewaskan lebih dari 150 orang, termasuk sekitar 120 anak. Misi PBB menyatakan sifat sipil bangunan sekolah tersebut terlihat jelas dan menilai Amerika Serikat tidak memenuhi kewajibannya untuk melakukan semua langkah yang memungkinkan guna memastikan sasaran yang dituju merupakan objek militer.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Misi menyimpulkan bahwa Amerika Serikat 'gagal dalam kewajibannya untuk melakukan segala yang memungkinkan guna memverifikasi bahwa sasaran itu merupakan objek militer'.
Menurut laporan, foto dan video sekolah sebelum serta sesudah serangan memperlihatkan sejumlah ciri yang mudah dikenali sebagai fasilitas pendidikan bagi anak-anak. Ciri itu antara lain mural berorientasi anak di dinding luar, papan nama sekolah, dan area bermain. Laporan juga menyebut pemberitaan publik mengenai citra satelit sebelum serangan tampak menunjukkan sosok-sosok yang dapat dikenali sebagai anak-anak berkumpul di halaman sekolah.
Setelah serangan, media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran menampilkan kerusakan luas di lokasi tersebut, termasuk tas sekolah dan buku yang berlumuran darah. Laporan menyatakan beberapa keluarga kehilangan lebih dari satu anak, yang menggambarkan dampak serangan terhadap keluarga dan masyarakat di sekitar sekolah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Juni mengatakan tidak ada pihak yang dengan sengaja menyerang sekolah perempuan di Iran pada Februari. Ia merujuk pada sebuah penyelidikan terkait insiden tersebut, sementara hasil penyelidikan Pentagon belum dipublikasikan dalam bahan laporan yang menjadi dasar temuan misi PBB.
Lamerd Jadi Bagian Kedua Temuan
Misi PBB juga memeriksa serangan udara di Lamerd pada hari yang sama. Dalam serangan itu, rudal presisi disebut menyebarkan serpihan tungsten dan menewaskan 22 warga sipil, laki-laki maupun perempuan, di kompleks olahraga dan kawasan permukiman. Misi menyebut kompleks olahraga yang terkena serangan dapat dikenali dengan jelas dan terlihat terpisah dari kompleks yang berdekatan milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan dalam pernyataan pada Maret bahwa pasukan Amerika Serikat tidak melancarkan serangan apa pun ke Kota Lamerd pada hari tersebut. Pernyataan itu menjadi bagian penting dari perbedaan posisi antara temuan misi PBB dan keterangan resmi militer Amerika Serikat mengenai kejadian di Lamerd.
Temuan Juga Menyoroti Penanganan Protes Iran
Selain menilai tindakan Amerika Serikat dalam perang Iran, misi PBB menuduh pemerintah Iran melakukan penindasan terhadap demonstran selama protes 2025-2026. Bentuk pelanggaran yang disebut dalam laporan mencakup pemutusan internet, pembunuhan melawan hukum, penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, serta pembatasan berat terhadap kebebasan berekspresi.
Misi menyatakan jumlah kematian dan korban luka akibat tindakan aparat negara kemungkinan jauh lebih tinggi dibanding angka yang dilaporkan pemerintah Iran. Pemerintah menyebut 3.038 orang tewas dan 25.000 orang terluka, tetapi misi PBB mengatakan tidak dapat memverifikasi jumlah pasti korban.
Teheran menyatakan sebagian besar kematian selama protes terjadi akibat tindakan pihak yang disebut sebagai perusuh. Pemerintah Iran juga mengklaim protes tersebut didukung kelompok oposisi di pengasingan serta Amerika Serikat dan Israel. Laporan misi PBB memuat klaim itu sebagai posisi pemerintah Iran, sementara temuan misi tetap menyoroti dugaan pelanggaran yang dilakukan aparat negara.
Misi PBB Dorong Penghentian Permusuhan
Dalam rekomendasinya, misi pencari fakta PBB mendesak Iran dan Amerika Serikat segera mengakhiri permusuhan dan menyediakan reparasi bagi para korban. Misi juga mendorong penyelesaian melalui jalur diplomatik sebagai upaya menuju perdamaian permanen. Temuan mengenai dua serangan Amerika Serikat serta dugaan pelanggaran oleh pemerintah Iran akan menjadi bagian dari laporan yang disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa.


















