Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Sebuah naskah Injil kuno Ethiopia yang dijarah pasukan Inggris dari koleksi Kaisar Tewodros II pada 1868 memicu sengketa kepemilikan setelah kembali muncul dalam katalog penjualan hampir 160 tahun kemudian. Gondarine Gospel tercantum di antara buku langka terkait Abu Dhabi International Book Fair dengan harga 250.000 dolar AS, mendorong otoritas Ethiopia meminta benda bersejarah itu ditarik dan dikembalikan. Permintaan tersebut didasarkan pada alasan moral dan etika karena naskah itu diketahui berasal dari penjarahan Magdala. Namun, Inlibris, pedagang buku langka berbasis di Wina yang mencantumkan naskah atas nama pemilik pribadi, menyatakan tidak ada dasar hukum yang mewajibkan restitusi.
Kasus tersebut kembali membuka perdebatan mengenai nasib ribuan artefak Ethiopia yang masih berada di luar negeri serta tanggung jawab pemilik dan pedagang benda budaya terhadap koleksi yang diketahui diperoleh melalui penjarahan pada masa konflik. Perselisihan juga menjadi bagian dari perdebatan global mengenai pengembalian benda budaya Afrika yang selama puluhan hingga ratusan tahun berada di museum maupun koleksi pribadi di negara-negara Barat.
Ethiopia Minta Gondarine Gospel Dikembalikan
Kepala Ethiopian Heritage Authority, Abebaw Ayalew, mengirim surat kepada Inlibris untuk meminta naskah tersebut tidak diperjualbelikan. Ia menilai pedagang seni mempunyai tanggung jawab moral ketika asal-usul sebuah benda telah diketahui berkaitan dengan penjarahan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
'Ada dasar moral yang jelas bagi pedagang seni untuk menghindari penjualan benda-benda yang telah diketahui diperoleh melalui penjarahan,' tulis Abebaw Ayalew.
Abebaw juga menyatakan keterlibatan pedagang ternama dalam transaksi benda yang dipersoalkan asal-usulnya dapat menimbulkan persoalan etika dan risiko reputasi. Otoritas Ethiopia karena itu meminta Gondarine Gospel dikembalikan berdasarkan pertimbangan moral meskipun status hukumnya diperdebatkan.
Naskah Bersejarah dari Perpustakaan Kaisar Tewodros
Gondarine Gospel merupakan naskah berlapis kulit mengilap dengan pola emas yang rumit. Naskah tersebut ditulis dalam bahasa Ge'ez, bahasa Semitik Selatan kuno, serta memuat 235 ilustrasi yang menggambarkan Injil Lukas dan Yohanes dengan warna merah, hijau, dan kuning. Naskah itu diperkirakan dipesan dan dibuat antara 1730 hingga 1734 di Gondar.
Profesor sejarah seni Universitas Aksum, Abreha Kiros, menilai nilai Gondarine Gospel tidak hanya berasal dari kaitannya dengan Kaisar Tewodros. Menurut dia, naskah tersebut penting untuk mempelajari budaya manuskrip Ethiopia, sastra Ge'ez kuno, serta tradisi seni Gondar yang pernah dikenal melalui karya seni dan arsitekturnya.
'Ini bukan sekadar buku agama tua, dan signifikansinya juga tidak seharusnya hanya dikaitkan dengan Kaisar Tewodros,' kata Abreha Kiros.
Kiros menambahkan bahwa naskah tersebut juga terkait dengan salah satu periode menyakitkan dalam sejarah Ethiopia. Menurut dia, ketiadaan mekanisme hukum yang jelas tidak serta-merta menghilangkan dasar untuk melakukan dialog maupun membahas pengembalian benda budaya tersebut.
Inlibris Menilai Tidak Ada Dasar Hukum Restitusi
Inlibris menolak permintaan Ethiopian Heritage Authority dengan alasan tidak terdapat dasar hukum untuk restitusi. Perusahaan itu berpendapat tidak ada aturan yang berlaku pada masa sebelumnya yang dapat menjadi dasar untuk mewajibkan pengembalian benda budaya hasil penjarahan dalam konflik, sehingga pemilik naskah saat ini dinilai tidak berkewajiban menyerahkannya.
Kepala Inlibris Hugo Wertscherk tidak mengungkap identitas kolektor yang memiliki Gondarine Gospel. Ia mengatakan penyerahan naskah kepada pemerintah Ethiopia tanpa persetujuan pemilik akan bertentangan dengan kewajiban hukum perusahaan terhadap pemilik tersebut.
'Tentu saja saya ingin melihat semua manuskrip ini kembali kepada pemilik yang berhak, tetapi saya tidak membuat hukum. Saya hanya seorang pengusaha,' kata Wertscherk.
Wertscherk juga membantah bahwa Inlibris berusaha menjual naskah tersebut di Abu Dhabi International Book Fair. Menurut dia, manuskrip itu hanya dicantumkan sebagai bagian dari tampilan. Pernyataan ini berbeda dengan kemunculan Gondarine Gospel dalam katalog yang mencantumkan harga 250.000 dolar AS.
Penjarahan Magdala dan Perjalanan Naskah
Kaisar Tewodros memerintah Ethiopia sejak 1855 hingga meninggal pada 1868 dalam Pertempuran Magdala. Dalam masa pemerintahannya, ia mengumpulkan berbagai benda berharga untuk perpustakaan kekaisaran yang oleh sejumlah sejarawan disebut sebagai museum modern pertama Ethiopia.
Pada pertengahan 1860-an, Tewodros meminta dukungan Ratu Victoria ketika kekuasaannya menghadapi tekanan dari Kekaisaran Ottoman yang berkembang dan para penguasa lokal pesaing. Setelah tidak memperoleh tanggapan, Tewodros menahan diplomat Inggris dan tindakan itu kemudian memicu perang.
Pada 9 April 1868, sebanyak 13.000 tentara yang dikirim dari India Britania menyerbu istana Tewodros di Magdala dan mengalahkan sekitar 4.000 tentaranya. Tewodros memilih menembak dirinya sendiri daripada menyerah. Setelah itu, pasukan Inggris menjarah Magdala dan membawa berbagai artefak, termasuk rambut Tewodros dan Gondarine Gospel.
Komandan Inggris Robert Napier mengambil Gondarine Gospel. Naskah itu kemudian berpindah melalui sejumlah perwira kolonial Inggris dan museum di Inggris sebelum akhirnya masuk ke tangan kolektor pribadi sekitar satu dekade lalu. Ribuan benda lain yang berasal dari Magdala dan periode berbeda juga masih berada di luar Ethiopia.
Peluang Penyelesaian melalui Negosiasi
Di tengah meningkatnya tuntutan pengembalian artefak Afrika, sejumlah negara termasuk Inggris, Jerman, Prancis, dan Belgia telah melakukan pengembalian permanen atau menyepakati skema pinjaman sementara untuk sejumlah benda budaya. Pada Mei, Inggris mengembalikan sehelai rambut yang diyakini milik Kaisar Tewodros serta sepotong kain yang diyakini berlumuran darahnya kepada Ethiopia.
Wertscherk mengatakan Inlibris terbuka terhadap dialog dan bersedia mempertimbangkan penyelesaian melalui harga khusus, tetapi keputusan akhirnya berada pada pemilik sah manuskrip. Ia menyatakan perusahaan siap mempertimbangkan proposal pembelian serius dari institusi, tetapi tidak menerima premis bahwa restitusi merupakan kewajiban.
Sejarawan Inggris Alula Pankhurst, yang pertama kali memberi tahu otoritas Ethiopia mengenai kemunculan manuskrip tersebut, membantah tudingan bahwa komunikasi pemerintah Ethiopia bersifat mengancam. Ia menyatakan surat dari Ethiopian Heritage Authority disampaikan secara sopan dan posisi Ethiopia adalah naskah yang jelas diketahui dijarah seharusnya lebih dahulu ditarik sebelum negosiasi dilanjutkan.
Kiros mendorong kedua pihak memilih jalur konstruktif. Menurut dia, penyelesaian tidak harus dilakukan secara konfrontatif dan dapat berbentuk pengembalian melalui negosiasi, donasi, pinjaman jangka panjang, pengelolaan bersama, atau kesepakatan lain yang diterima kedua pihak.
'Yang penting adalah negara dan komunitas tempat benda budaya itu berasal diperhitungkan secara serius dalam menentukan masa depannya,' kata Kiros.



















