Headline.co.id, Semarang ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong peningkatan kualitas pengkajian Al-Qur’an dalam rangkaian pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang. Pesan itu disampaikan saat menghadiri Khataman Akbar dan Silaturahmi Ahlul Quran se-Jawa Tengah di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Sabtu (12/9/2026). Menag menilai pemahaman Al-Qur’an perlu dikembangkan dari sekadar membaca teks hingga memahami makna, menghayati kandungan, dan menangkap hakikat pesannya. Dorongan tersebut disampaikan karena ketertarikan masyarakat global terhadap Al-Qur’an terus meningkat, baik dari sisi keagamaan maupun ilmu pengetahuan.
Kegiatan Khataman Akbar dan Silaturahmi Ahlul Quran digelar menjelang pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang. Dalam kesempatan itu, Nasaruddin meminta peningkatan pembacaan dan pendalaman Al-Qur’an dilakukan secara berkelanjutan.
“Semakin hari semakin banyak orang yang tertarik untuk mengkaji dan mendalami Al-Qur’an. Maka dari itu, mari kita terus meningkatkan pembacaan dan pendalaman kita,” ujar Nasaruddin Umar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pemahaman Al-Qur’an Memiliki Empat Lapisan
Menag menjelaskan, pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Menurut dia, terdapat beberapa lapisan yang perlu dilalui agar seseorang dapat memahami kandungan Al-Qur’an secara lebih utuh dan komprehensif.
Lapisan tersebut dimulai dari membaca teks, memahami makna, menghayati kandungan, hingga memahami hakikat pesan yang terdapat di dalamnya.
“Pemahaman Al-Qur’an itu berlapis, mulai dari ibaratul quran (membaca teks), isyaratul quran (memahami makna), lathaiful quran (menghayati), hingga haqa’iqul quran (memahami hakikat),” terangnya.
Dalam proses pendalaman tersebut, Nasaruddin menekankan pentingnya membekali para ahli Al-Qur’an dengan ilmu Ushul Fiqh. Penguasaan ilmu itu dinilai diperlukan agar pemahaman keagamaan tidak berhenti pada pembacaan secara harfiah.
Ia juga menyebut pendekatan keilmuan yang kuat dibutuhkan untuk mencegah munculnya pemahaman keagamaan yang sempit dan radikal. Karena itu, pemahaman Al-Qur’an perlu dibangun melalui perangkat ilmu yang dapat memperdalam penafsiran dan penerapannya.
Menag Tekankan Keseimbangan Hukum Syariat dan Alam
Nasaruddin menjelaskan, kehidupan manusia perlu memahami dua hukum yang saling berkaitan, yakni hukum tasyri’ dan hukum takwini. Hukum tasyri’ berkaitan dengan hukum syariat yang bersumber dari Al-Qur’an, sedangkan hukum takwini berkaitan dengan hukum alam atau natural sciences.
Menurut dia, kedua hukum tersebut perlu diterapkan secara bersamaan dan tidak boleh berjalan timpang. Pemahaman terhadap Al-Qur’an, kata Nasaruddin, tidak dapat dilepaskan dari ilmu yang membantu manusia membaca hubungan ajaran agama dan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Dua hukum ini perlu kita terapkan dalam diri kita secara bersamaan. Tidak boleh timpang satu sama lain. Tidak bisa memahami Al-Qur’an secara harfiah tanpa ilmu alat yang memperdalam pemahaman kita,” urainya.
Keseimbangan pemahaman keagamaan dan ilmu pengetahuan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman Al-Qur’an yang utuh serta relevan dengan perkembangan zaman.
MTQ Nasional XXXI Diikuti 2.242 Peserta
Selain menjadi ruang penyampaian pesan tentang pendalaman Al-Qur’an, kegiatan di Unissula juga memperkuat sinergi pemerintah, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan organisasi keagamaan dalam pembinaan masyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat ekosistem pendidikan dan pengkajian Al-Qur’an. Sinergi kelembagaan juga dipandang penting karena MTQ tidak hanya membutuhkan kesiapan teknis penyelenggaraan, tetapi juga pembinaan berkelanjutan bagi masyarakat dan generasi yang memiliki kemampuan di bidang Al-Qur’an.
MTQ Nasional XXXI di Semarang diikuti 2.242 peserta dari 37 provinsi. Para peserta mengikuti berbagai cabang musabaqah, mulai dari tilawah, tafsir, hingga hafalan Al-Qur’an.
Menag berharap penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI tidak hanya dinilai dari keberhasilan teknis maupun seremoni. Ia berharap ajang tersebut memberikan manfaat spiritual dan sosial bagi masyarakat serta bangsa Indonesia.
“Semoga penyelenggaraan MTQ ini juga sekaligus berfungsi sebagai tolak bala. Kita berdoa agar musibah-musibah yang terjadi di Indonesia dapat berhenti, serta membawa keberkahan yang membasahi ladang para petani kita,” tutup Menag.
Rangkaian kegiatan di Unissula diakhiri dengan doa bersama untuk para guru dan ulama pendahulu. Setelah itu, MTQ Nasional XXXI resmi dibuka di Lapangan Pancasila, Semarang, pada Sabtu malam (12/9/2026).
MTQ Nasional XXXI berlangsung pada 11–20 September 2026 dengan mengusung semangat menjadikan Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dan dihafalkan, tetapi juga dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


















