Headline.co.id, Jakarta ~ PT MRT Jakarta (Perseroda) mendorong pengembangan kawasan sekitar stasiun melalui konsep transit-oriented development (TOD) dan placemaking untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas. Strategi MRT Jakarta tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan fungsi transportasi, tetapi juga menghidupkan retail, komunitas, pariwisata, UMKM, hingga penyelenggaraan event. Dalam skala tertentu, dampak ekonomi sebuah event di kawasan strategis bahkan diperkirakan dapat mencapai Rp200 miliar.
MRT Jakarta melihat kegiatan yang berlangsung di sebuah kawasan dapat memicu transaksi lanjutan di luar lokasi acara. Pengunjung tidak hanya membeli tiket, tetapi juga menggunakan transportasi, makan di restoran, berbelanja, menginap di hotel, hingga melakukan aktivitas wisata lainnya.
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengatakan MRT Jakarta menggunakan pendekatan placemaking agar sebuah kawasan mempunyai identitas dan daya tarik yang mampu mempertahankan aktivitas masyarakat lebih lama.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Banyak pelaku placemaking kini bergerak untuk menciptakan kawasan dengan suatu jiwa. Jadi tidak cuma membentuk kawasan, tapi di situ harus punya tema dan daya tarik uniknya,” ujar Samuel dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026.
Placemaking Jadi Penggerak Ekonomi Kawasan
Menurut Samuel, placemaking bukan sekadar mempercantik ruang publik.
Konsep tersebut diarahkan untuk menciptakan tempat yang mempunyai fungsi sosial, ekonomi, dan budaya sekaligus.
Sebuah kawasan perlu memiliki identitas sehingga masyarakat mempunyai alasan untuk datang, berkumpul, menghabiskan waktu, dan melakukan transaksi.
“Placemaking ini sebetulnya kata kuncinya a sense of place-nya. Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema, dan harus inklusif, bisa untuk siapa pun,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, kawasan di sekitar stasiun diharapkan berkembang menjadi apa yang disebut sebagai ruang ketiga.
Ruang ini berada di luar rumah dan tempat tujuan utama seperti kantor, tetapi tetap menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
“Ruang ketiga ini sebetulnya tempat kita sehari-hari setelah rumah dan tempat tujuan kita. Jadi setelah kita dari rumah ke kantor, apa nih ruang ketiga supaya kita bisa mengekspresikan diri,” jelas Samuel.
Transaksi Rp10 Miliar Bisa Berdampak hingga Rp50 Miliar
MRT Jakarta memperkirakan kegiatan ekonomi kreatif dan MICE dalam kawasan placemaking dapat menghasilkan multiplier effect yang cukup besar.
Berdasarkan studi Stanford University yang dirujuk perusahaan, dampak ekonomi sebuah kegiatan dapat mencapai sekitar empat hingga lima kali nilai transaksi utamanya.
Dengan asumsi tersebut, apabila sebuah kegiatan menghasilkan transaksi Rp10 miliar, dampak terhadap ekonomi kawasan dapat mencapai sekitar Rp40 miliar hingga Rp50 miliar.
“Pemprov DKI yang menilai dampak dari placemaking ini sebetulnya tidak hanya di kegiatannya, kawasannya, tapi dalam satu kawasan itu transaksinya meningkat seberapa besar,” tutur Samuel.
Dampak ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari aktivitas di dalam lokasi acara.
Perputaran uang dapat menyebar ke sektor transportasi, kuliner, akomodasi, retail, hingga usaha kecil yang berada di sekitar kawasan.
Festival Kawasan Bisa Putar Ekonomi Rp20-Rp30 Miliar
Samuel juga mencontohkan dampak ekonomi dari festival yang digelar dalam satu kawasan.
Menurut perhitungan yang dilakukan MRT Jakarta, satu festival dapat memberikan dampak ekonomi sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar selama berlangsungnya kegiatan.
“Salah satu event festival yang mencakup satu kawasan, kami sudah interpolasi sehingga kurang lebih dampaknya itu sekitar Rp20 miliar sampai Rp30 miliar saat festival itu terjadi,” katanya.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa aktivitas kawasan dapat menghasilkan efek ekonomi di luar transaksi utama penyelenggara.
Pengunjung yang datang dapat memberikan tambahan pendapatan bagi pedagang, restoran, pusat perbelanjaan, transportasi, hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi.
Event GBK Bisa Berdampak hingga Rp100 Miliar
Dampak ekonomi diperkirakan semakin besar apabila event digelar di kawasan yang memiliki infrastruktur dan ekosistem komersial yang kuat.
Samuel mencontohkan kawasan Gelora Bung Karno atau GBK.
Event berskala internasional yang berlangsung di Stadion Utama GBK diperkirakan dapat memberikan dampak ekonomi sekitar Rp70 miliar hingga Rp100 miliar.
“GBK itu karena levelnya event internasional, bahkan bisa Rp70-100 miliar di satu event GBK stadion utama,” ungkap Samuel.
Besarnya nilai tersebut didukung oleh karakter pengunjung yang tidak hanya datang ke lokasi acara.
Kawasan GBK dikelilingi hotel, pusat perbelanjaan, restoran, transportasi publik, hingga berbagai pilihan hiburan yang memungkinkan perputaran uang berlangsung lebih panjang.
Pengunjung Asing Bisa Dorong Dampak hingga Rp200 Miliar
Potensi ekonomi dinilai semakin besar jika sebuah event mampu menarik wisatawan atau penonton dari luar negeri.
Samuel mengatakan pengunjung internasional biasanya memiliki pola konsumsi lebih luas, mulai dari membeli tiket, menggunakan hotel, berbelanja di pusat perbelanjaan, hingga melakukan aktivitas wisata lainnya.
“Kalau artisnya luar negeri lebih besar lagi karena satu tiket konsernya itu udah mahal, menginapnya di hotel mewah, pergi ke mall, bahkan bisa sekitar Rp200 miliar,” katanya.
Samuel kembali menegaskan bahwa nilai tersebut merupakan estimasi dampak ekonomi kawasan berdasarkan riset dan data yang digunakan.
“Kalau melibatkan pengunjung dari luar negeri, itu mungkin bisa berlipat lagi efeknya, sekitar Rp200 miliar. Angkanya kurang lebih begitu berdasarkan riset dan data yang ada. Jadi besar sebenarnya buat pendapatan Jakarta,” ujarnya.
Nilai tersebut merupakan dampak ekonomi keseluruhan, bukan pendapatan langsung yang seluruhnya masuk ke MRT Jakarta.
Perputaran ekonomi dapat dinikmati oleh berbagai sektor yang terhubung dengan aktivitas pengunjung.
Blok M Jadi Contoh Kawasan yang Dihidupkan Kembali
Salah satu kawasan yang menjadi contoh penerapan placemaking oleh MRT Jakarta adalah Blok M.
Perusahaan membangun identitas kawasan tersebut sebagai urban youth hub atau pusat aktivitas anak muda perkotaan.
Setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan aktivitas, Blok M kembali berkembang sebagai kawasan nongkrong, kuliner, komunitas, retail, dan aktivitas kreatif.
Samuel menilai sebuah kawasan perlu memiliki tema yang kuat agar mampu membangun ikatan dengan masyarakat.
Namun, pengembangannya tetap harus mempertahankan prinsip inklusivitas.
“Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema dan harus inklusif, bisa untuk siapapun tidak cuma untuk kaum segmen menengah ke atas, namun menengah ke bawah juga. Dia harus inklusif untuk semua masyarakat,” tegasnya.
Hampir 500 UMKM Terlibat
Efek pengembangan kawasan juga diarahkan agar dapat dirasakan pelaku usaha kecil.
MRT Jakarta menyebut jumlah UMKM yang menjadi tenant di berbagai ruang yang dikelolanya telah mendekati 500.
Keberadaan UMKM menjadi bagian dari strategi untuk memastikan aktivitas ekonomi tidak hanya dinikmati oleh perusahaan atau merek besar.
Konsep kawasan inklusif juga diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara aktivitas komersial dan kepentingan publik.
“Itu memang akan selalu dijaga oleh MRT, bahwa kami adalah placemaking yang inklusif. Prinsip utamanya di MRT juga bahwa semua segmen harus diakomodasi, no one left behind,” ujar Samuel.
Kota Tua dan Glodok Masuk Pengembangan Berikutnya
Setelah Blok M, MRT Jakarta menyiapkan pengembangan serupa di Kota Tua dan Glodok.
Kawasan tersebut akan dikembangkan dengan tetap mempertahankan identitas lokalnya, mulai dari bangunan bersejarah, kawasan pecinan, hingga karakter Glodok sebagai pusat perdagangan elektronik.
“Heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu tidak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas, dan lain sebagainya,” kata Samuel.
MRT Jakarta telah memetakan karakteristik kawasan dalam radius sekitar 800 meter dari stasiun.
“Kita sudah memetakan karakteristik stasiun di saat membuat jalur baru. TOD kami, kan, cakupannya 800 meter, itu sebetulnya sudah terpetakan masing-masing daerah itu karakteristiknya apa,” ungkapnya.
Pengembangan Kawasan Masuk Strategi Bisnis Non-Tiket
Placemaking dan pengembangan TOD juga menjadi bagian dari strategi MRT Jakarta memperluas sumber pendapatan di luar penjualan tiket.
Melalui strategi Business Beyond Normal, perusahaan mengembangkan bisnis retail, kawasan TOD, layanan digital, pembayaran, pariwisata, event, kolaborasi komunitas, hingga konsultasi perkeretaapian.
Sepanjang 2025, PT MRT Jakarta mencatat pendapatan Rp1,5 triliun, meningkat sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut berasal dari peningkatan jumlah pengguna serta kontribusi bisnis non-farebox.
Pada periode 2021-2025, pendapatan tiket MRT Jakarta mencatat rata-rata pertumbuhan 50,4 persen per tahun. Sementara itu, pendapatan perusahaan secara keseluruhan tumbuh rata-rata 2,3 persen per tahun.
Pengembangan kawasan karena itu tidak hanya diposisikan sebagai pelengkap infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari perluasan ekosistem bisnis.
Melalui event, retail, UMKM, komunitas dan aktivitas wisata, kawasan sekitar stasiun disiapkan menjadi ruang yang mampu menciptakan perputaran ekonomi secara berkelanjutan.
Bagi MRT Jakarta, keberhasilan sebuah stasiun pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah penumpang yang naik dan turun. Kawasan di sekitarnya juga diharapkan mampu menjadi ruang hidup yang menghubungkan mobilitas masyarakat dengan kegiatan ekonomi kota.

















