Headline.co.id, Jakarta ~ PT MRT Jakarta (Perseroda) mengungkap potensi efek berganda dari pengembangan kawasan berbasis placemaking di sekitar stasiun dan kawasan transit. Berdasarkan studi yang dirujuk perusahaan, kegiatan ekonomi kreatif maupun MICE dalam kawasan tersebut dapat menghasilkan multiplier effect sekitar empat hingga lima kali dari nilai transaksi utamanya. Artinya, kegiatan dengan nilai transaksi Rp10 miliar berpotensi memberikan dampak ekonomi sekitar Rp40 miliar hingga Rp50 miliar bagi kawasan.
MRT Jakarta menilai besarnya dampak tersebut muncul karena belanja pengunjung tidak berhenti pada aktivitas utama sebuah acara. Kehadiran masyarakat dapat menggerakkan sektor transportasi, makanan dan minuman, retail, hotel, pusat perbelanjaan hingga berbagai aktivitas lain di sekitar lokasi.
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengatakan pengukuran dampak placemaking tidak hanya melihat transaksi yang terjadi di dalam sebuah kegiatan. MRT Jakarta juga memperhatikan peningkatan aktivitas ekonomi yang berlangsung di kawasan secara keseluruhan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Pemprov DKI yang menilai dampak dari placemaking ini sebetulnya tidak hanya di kegiatannya, kawasannya, tapi dalam satu kawasan itu transaksinya meningkat seberapa besar,” tutur Samuel dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026.
Efek Ekonomi Bisa Empat hingga Lima Kali Lipat
Berdasarkan studi Stanford University yang dirujuk MRT Jakarta, kegiatan ekonomi kreatif dan MICE di kawasan placemaking diperkirakan dapat menciptakan multiplier effect sekitar empat hingga lima kali dari nilai ekonomi kegiatan utama.
Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa nilai transaksi sebuah event tidak dapat dilihat hanya dari penjualan tiket atau transaksi langsung di lokasi acara.
Sebagai ilustrasi, apabila transaksi utama sebuah kegiatan mencapai Rp10 miliar, efek ekonomi yang terbentuk di kawasan berpotensi mencapai Rp40 miliar hingga Rp50 miliar.
Dampak tersebut dapat berasal dari pengeluaran tambahan pengunjung untuk transportasi, kuliner, penginapan, belanja hingga aktivitas rekreasi.
Dengan pola tersebut, semakin lengkap ekosistem yang tersedia di sebuah kawasan, semakin panjang pula rantai belanja yang berpotensi terbentuk.
Placemaking Tak Sekadar Percantik Kawasan
Samuel menjelaskan placemaking pada dasarnya bukan hanya konsep untuk memperbaiki tampilan fisik ruang publik.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk membentuk kawasan yang mempunyai identitas, aktivitas dan keterikatan emosional dengan masyarakat.
“Placemaking ini sebetulnya kata kuncinya a sense of place-nya. Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema, dan harus inklusif, bisa untuk siapa pun,” katanya.
Menurut Samuel, sebuah kawasan perlu memiliki “jiwa” agar masyarakat tidak hanya datang untuk berpindah moda atau melakukan satu aktivitas, kemudian langsung meninggalkan lokasi.
Kawasan perlu menawarkan pengalaman yang mendorong masyarakat menghabiskan waktu lebih lama.
“Banyak pelaku placemaking kini bergerak untuk menciptakan kawasan dengan suatu jiwa. Jadi tidak cuma membentuk kawasan, tapi di situ harus punya tema dan daya tarik uniknya,” ujar Samuel.
Ruang Ketiga Dorong Aktivitas Masyarakat
Salah satu konsep utama dalam placemaking adalah penciptaan ruang ketiga.
Samuel menggambarkan ruang ketiga sebagai tempat masyarakat menjalankan aktivitas setelah rumah dan tempat tujuan utama seperti kantor.
“Ruang ketiga ini sebetulnya tempat kita sehari-hari setelah rumah dan tempat tujuan kita. Jadi setelah kita dari rumah ke kantor, apa nih ruang ketiga supaya kita bisa mengekspresikan diri,” jelasnya.
Kehadiran ruang tersebut membuat kawasan transit tidak hanya menjadi tempat orang datang dan pergi.
Masyarakat dapat berkumpul, berbelanja, menikmati kuliner, mengikuti kegiatan komunitas hingga menghadiri berbagai event.
Semakin beragam aktivitas yang tersedia, semakin besar pula peluang terjadinya transaksi tambahan di sekitar kawasan.
Festival Kawasan Bisa Berdampak Rp20-Rp30 Miliar
MRT Jakarta juga telah menghitung dampak ekonomi dari penyelenggaraan festival dalam suatu kawasan.
Samuel mengatakan salah satu festival yang mencakup satu kawasan diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar selama kegiatan berlangsung.
“Salah satu event festival yang mencakup satu kawasan, kami sudah interpolasi sehingga kurang lebih dampaknya itu sekitar Rp20 miliar sampai Rp30 miliar saat festival itu terjadi,” katanya.
Perhitungan tersebut mencerminkan perputaran ekonomi yang tidak hanya terjadi di lokasi penyelenggaraan acara.
Pengunjung yang datang berpotensi membelanjakan uang pada merchant, restoran, pedagang, transportasi maupun pelaku UMKM yang berada di sekitar kawasan.
Event Besar di GBK Bisa Tembus Rp100 Miliar
Skala dampak ekonomi dapat meningkat apabila kegiatan digelar di kawasan yang memiliki ekosistem perdagangan dan pariwisata yang lebih lengkap.
Samuel mencontohkan penyelenggaraan event internasional di kawasan Gelora Bung Karno.
Menurut perkiraan yang disampaikan MRT Jakarta, satu event di Stadion Utama GBK dapat memberikan dampak ekonomi sekitar Rp70 miliar hingga Rp100 miliar.
“GBK itu karena levelnya event internasional, bahkan bisa Rp70-100 miliar di satu event GBK stadion utama,” ungkap Samuel.
Besarnya efek ekonomi tersebut berkaitan dengan berbagai kebutuhan pengunjung sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan.
Mereka dapat menggunakan transportasi, makan di restoran, mengunjungi pusat perbelanjaan hingga menginap di hotel sekitar kawasan.
Pengunjung Luar Negeri Bisa Naikkan Dampak hingga Rp200 Miliar
Dampak ekonomi diperkirakan dapat meningkat lagi ketika sebuah event mampu menarik penonton atau wisatawan dari luar negeri.
Samuel menjelaskan pengunjung internasional cenderung menghasilkan rantai belanja yang lebih luas karena membutuhkan akomodasi dan berbagai layanan selama berada di Jakarta.
“Kalau artisnya luar negeri lebih besar lagi karena satu tiket konsernya itu udah mahal, menginapnya di hotel mewah, pergi ke mall, bahkan bisa sekitar Rp200 miliar,” katanya.
Samuel kembali menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan riset dan data yang digunakan.
“Kalau melibatkan pengunjung dari luar negeri, itu mungkin bisa berlipat lagi efeknya, sekitar Rp200 miliar. Angkanya kurang lebih begitu berdasarkan riset dan data yang ada. Jadi besar sebenarnya buat pendapatan Jakarta,” ujarnya.
Nilai tersebut menggambarkan dampak ekonomi di kawasan secara keseluruhan dan bukan seluruhnya menjadi pendapatan langsung MRT Jakarta.
Blok M Jadi Contoh Kawasan yang Kembali Hidup
MRT Jakarta menggunakan Blok M sebagai salah satu contoh pengembangan kawasan melalui placemaking.
Kawasan tersebut diarahkan memiliki identitas sebagai urban youth hub atau pusat aktivitas anak muda perkotaan.
Blok M yang sebelumnya sempat kehilangan sebagian aktivitasnya kembali berkembang sebagai tempat berkumpul, menikmati kuliner, berbelanja dan mengikuti beragam kegiatan komunitas.
Samuel menilai identitas tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam menarik masyarakat kembali ke sebuah kawasan.
Namun, sebuah kawasan juga harus tetap dapat diakses berbagai kelompok masyarakat.
“Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema dan harus inklusif, bisa untuk siapapun tidak cuma untuk kaum segmen menengah ke atas, namun menengah ke bawah juga. Dia harus inklusif untuk semua masyarakat,” tegasnya.
Hampir 500 UMKM Jadi Bagian Ekosistem MRT Jakarta
MRT Jakarta menyebut jumlah UMKM yang menjadi tenant di berbagai ruang yang dikelolanya telah mendekati 500.
Keberadaan pelaku usaha kecil menjadi bagian dari konsep kawasan yang inklusif.
Dengan demikian, peningkatan kunjungan ke kawasan tidak hanya memberikan peluang bagi bisnis besar, tetapi juga dapat menciptakan pasar bagi UMKM.
Samuel menegaskan prinsip tersebut akan terus dipertahankan dalam pengembangan kawasan.
“Itu memang akan selalu dijaga oleh MRT, bahwa kami adalah placemaking yang inklusif. Prinsip utamanya di MRT juga bahwa semua segmen harus diakomodasi, no one left behind,” katanya.
Kota Tua dan Glodok Disiapkan Jadi Kawasan Berikutnya
Setelah pengembangan di Blok M, MRT Jakarta menyiapkan konsep placemaking untuk kawasan Kota Tua dan Glodok.
Karakter kawasan yang telah terbentuk akan tetap menjadi fondasi utama.
Kota Tua memiliki identitas sejarah dan bangunan kolonial, sedangkan Glodok dikenal dengan kawasan pecinan serta aktivitas perdagangan elektronik.
“Heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu tidak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas, dan lain sebagainya,” ujar Samuel.
MRT Jakarta telah memetakan karakteristik wilayah dalam cakupan TOD sekitar 800 meter dari stasiun.
“Kita sudah memetakan karakteristik stasiun di saat membuat jalur baru. TOD kami, kan, cakupannya 800 meter, itu sebetulnya sudah terpetakan masing-masing daerah itu karakteristiknya apa,” ungkapnya.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kawasan tidak menggunakan satu konsep yang sama untuk seluruh stasiun.
Identitas lokal akan menjadi basis untuk menentukan aktivitas, komunitas dan fungsi komersial yang sesuai dengan masing-masing wilayah.
TOD Jadi Bagian Strategi Bisnis di Luar Tiket
Pengembangan kawasan juga menjadi bagian dari strategi MRT Jakarta untuk memperluas bisnis di luar penjualan tiket.
Melalui strategi Business Beyond Normal, perusahaan mengembangkan bisnis TOD, retail, layanan digital, pembayaran, pariwisata, event hingga kolaborasi komunitas.
Sepanjang 2025, PT MRT Jakarta mencatat pendapatan Rp1,5 triliun, meningkat sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan jumlah pengguna dan kontribusi bisnis non-farebox.
Pada periode 2021-2025, pendapatan tiket MRT Jakarta mencatat rata-rata pertumbuhan 50,4 persen per tahun. Sementara itu, pendapatan perusahaan secara keseluruhan tumbuh rata-rata 2,3 persen per tahun.
Melalui pengembangan kawasan, fungsi MRT Jakarta pada akhirnya tidak berhenti sebagai penyedia perjalanan kereta. Stasiun dan kawasan sekitarnya diarahkan menjadi simpul aktivitas yang mempertemukan transportasi, komunitas, perdagangan, UMKM dan kegiatan kreatif.
Efek berganda dari aktivitas tersebut menjadi salah satu alasan placemaking dikembangkan. Ketika transaksi utama Rp10 miliar dapat berpotensi menciptakan dampak ekonomi hingga Rp50 miliar, keberhasilan sebuah kawasan tidak lagi hanya diukur dari berapa banyak orang yang datang, tetapi juga seberapa panjang aktivitas ekonomi yang terbentuk setelah mereka tiba.



















