Headline.co.id, Semarang ~ MTQ Nasional XXXI resmi dibuka di Lapangan Pancasila, Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu malam (12/9/2026). Pembukaan MTQ Nasional tersebut dilakukan oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno melalui pemukulan bedug. Kegiatan yang berlangsung hingga 20 September 2026 itu diikuti kafilah dari 37 provinsi dengan total 2.242 peserta. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut MTQ Nasional memiliki makna sosial dan kebangsaan karena mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berkompetisi sekaligus memperkuat persaudaraan.
Hadir dalam pembukaan tersebut Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, para gubernur, wakil gubernur, serta Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi dari berbagai daerah di Indonesia. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah juga memadati Lapangan Pancasila.
MTQ Nasional Jadi Ruang Persaudaraan
Dalam sambutannya, Nasaruddin mengatakan kafilah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara membawa bahasa, budaya, dan tradisi yang beragam. Menurut dia, pertemuan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk kompetisi, tetapi juga menjadi ruang membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Menag.
MTQ Nasional XXXI juga memuat pesan inklusivitas melalui cabang ekshibisi Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas sensorik tuli dan penggunaan mushaf Al-Qur’an isyarat. Nasaruddin mengatakan penyelenggaraan itu menegaskan bahwa Al-Qur’an ditujukan bagi semua orang.
“Ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur’an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” paparnya.
Menag berharap MTQ menjadi momentum untuk menyelaraskan bacaan dengan tindakan, hafalan dengan pengamalan, serta pengetahuan dengan keteladanan. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an perlu dibaca, dipahami, dan ditadaburi pesan-pesannya.
Nilai Al-Qur’an dalam Kehidupan
Nasaruddin menyampaikan nilai-nilai Al-Qur’an perlu hadir dalam berbagai ruang kehidupan. Dalam keluarga, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan sikap saling menghormati.
Sementara dalam lingkungan kerja, nilai Qurani dapat diterapkan melalui amanah, kedisiplinan, profesionalisme, dan pelayanan yang adil. Menag juga mengingatkan pentingnya integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan kewenangan, termasuk dengan menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta menjaga kepercayaan masyarakat.
Di tengah masyarakat, ia mendorong sikap saling mengenal dan saling menolong dalam kebaikan. Masyarakat juga diingatkan untuk memeriksa informasi sebelum menyebarkannya guna mencegah fitnah, hoaks, ujaran kebencian, serta tindakan yang dapat merusak kehormatan dan persaudaraan.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Nasaruddin menekankan pentingnya keadilan, persatuan, perlindungan terhadap kelompok yang lemah, penghormatan terhadap kemajemukan, dan kepentingan bersama.
“Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh pihak menjadikan MTQ sebagai momentum perubahan.
“Mari kita jadikan MTQ ini sebagai momentum untuk berhijrah. Semoga Allah SWT meridai seluruh ikhtiar kita dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menuntun bangsa Indonesia menuju kehidupan yang rukun, maju, adil sejahtera, dan berkeadaban,” ajak Menag.
Diikuti Kafilah dari 37 Provinsi
MTQ Nasional XXXI mempertandingkan delapan cabang lomba yang terbagi dalam 24 golongan dan 48 kategori. Peserta berasal dari kategori anak-anak hingga dewasa, dengan cabang yang meliputi tilawah, tafsir dalam tiga bahasa, serta hafalan dari satu juz hingga 30 juz.
Untuk mendukung pelaksanaan kompetisi, Menag telah mengukuhkan tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim. Seluruh perlombaan dilaksanakan secara serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang, ditambah satu titik registrasi kafilah.
Nasaruddin meminta seluruh peserta mengikuti musabaqah dengan sungguh-sungguh, jujur, dan menjunjung sportivitas. Kepada dewan hakim dan perangkat penyelenggara, ia berpesan agar menjaga marwah MTQ melalui penilaian yang objektif, profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
MTQ Akan Digelar Setiap Tahun
Dalam pembukaan MTQ Nasional ke-31 di Semarang, Menag mengumumkan perubahan pola penyelenggaraan MTQ. Jika sebelumnya MTQ berlangsung dua tahun sekali dan bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ), ke depan MTQ akan digelar setiap tahun.
“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegas Menag.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi selaku tuan rumah mengatakan MTQ tidak hanya berkaitan dengan kompetisi membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang kebersamaan masyarakat dengan latar belakang yang beragam.
Jawa Tengah menjadi tuan rumah MTQ tingkat nasional untuk kali kedua. Provinsi tersebut pertama kali menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada 1979.
Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional sekaligus Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad melaporkan, rangkaian MTQ Nasional XXXI dipersiapkan melalui kerja sama Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, LPTQ, Kantor Wilayah Kementerian Agama, pemerintah daerah, dewan hakim, serta panitia pusat dan daerah.
Abu berharap MTQ Nasional tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan kecintaan terhadap Al-Qur’an dengan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sekaligus memperkuat persaudaraan dan persatuan masyarakat Indonesia.

















