Headline.co.id, Jakarta ~ MALANG – Iwan Budianto, CEO Arema FC, akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi terkait Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Dalam sebuah podcast di kanal YouTube resmi Arema FC, Iwan menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada semua pihak yang terdampak oleh insiden tersebut.
“Pertama-tama, dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan permohonan maaf yang paling dalam dari lubuk hati saya, baik atas nama pribadi, atas nama manajemen Arema, maupun atas nama PSSI,” ujar Iwan Budianto, yang akrab disapa IB. Ia menyampaikan permintaan maafnya kepada keluarga korban, warga Malang Raya, serta seluruh pemangku kepentingan sepak bola di Indonesia yang terkena dampak luas dari tragedi tersebut.
Menanggapi pertanyaan publik mengenai posisinya saat tragedi terjadi, Iwan menjelaskan bahwa ia sangat menghormati tatanan legal formal. Ia menegaskan bahwa sejak 2019, ia telah menarik diri dari manajemen harian Arema FC. Sebagai Wakil Ketua Umum PSSI saat itu, Iwan harus fokus menjalankan tugas organisasi di Jakarta, terutama di tengah situasi federasi yang rentan terhadap sanksi. Ia juga terlibat aktif dalam korespondensi dengan FIFA dan AFC untuk menyelamatkan sepak bola Indonesia dari sanksi berat, serta menjalani serangkaian proses pemeriksaan hukum.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Iwan juga mengungkapkan bahwa sempat terlintas di pikirannya untuk membubarkan Arema FC pasca-tragedi. Keputusan tersebut dipertimbangkan akibat kelelahan menghadapi proses hukum, hujatan, dan penyerangan terhadap kantor Arema. Namun, niat tersebut diurungkan setelah menerima dukungan dari salah satu keluarga korban yang memintanya agar Arema tetap berdiri. “Begitu ada salah satu perwakilan keluarga korban yang memberi motivasi, saya benar-benar meneteskan air mata. Saya merasa zalim jika membubarkan Arema sementara ada orang yang berharap klub ini tetap ada,” tutur Iwan.
Tragedi Kanjuruhan, meskipun menyisakan luka, telah menjadi katalisator bagi transformasi positif dalam industri sepak bola nasional. Iwan menyoroti perubahan signifikan dalam standar keamanan dan keselamatan di stadion-stadion seluruh Indonesia yang kini lebih ketat dan mengikuti aturan FIFA serta Polri. “Mau diakui atau tidak, ada sekian puluh stadion dibangun semenjak kejadian itu yang menyesuaikan standar safety,” jelasnya. Iwan menutup pernyataannya dengan komitmen bahwa manajemen akan terus berbenah dan berusaha berbuat yang terbaik ke depan, meskipun ia menyadari bahwa bagi sebagian orang, rasa benci mungkin sulit untuk dihapuskan.
















