Headline.co.id, Dalam Menghadapi Berbagai Isu Yang Berkembang Di Masyarakat ~ pengamat sosial menekankan pentingnya membangun sikap tenang dan ketahanan emosional, dimulai dari lingkungan keluarga. Hal ini disampaikan oleh Dr. Rina Suryani, seorang pengamat sosial dari Universitas Indonesia, dalam sebuah diskusi yang diadakan pada Jumat, 31 Juli 2026. Diskusi ini bertujuan untuk memberikan pandangan mengenai bagaimana masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai isu yang sering kali menimbulkan keresahan.
Dr. Rina menjelaskan bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai unit terkecil dalam masyarakat untuk membentuk sikap tenang dan bijaksana dalam menghadapi isu. “Keluarga adalah tempat pertama di mana individu belajar tentang nilai-nilai dan bagaimana merespons situasi yang menantang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dengan membangun komunikasi yang baik dan saling mendukung di dalam keluarga, anggota keluarga dapat lebih siap menghadapi tekanan dari luar.
Menurut Dr. Rina, ketahanan emosional yang dimulai dari keluarga dapat menjadi fondasi yang kuat bagi individu untuk menghadapi berbagai tantangan di luar rumah. “Ketika individu memiliki dukungan emosional yang kuat dari keluarga, mereka cenderung lebih mampu mengelola stres dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang beredar,” jelasnya. Dengan demikian, keluarga berperan sebagai benteng pertama dalam membentuk individu yang tangguh secara emosional.
Selain itu, Dr. Rina juga menyoroti peran penting pendidikan dalam membentuk karakter dan sikap masyarakat. Menurutnya, pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan emosional dan sosial. “Pendidikan harus mampu membekali individu dengan kemampuan untuk berpikir kritis dan mengelola emosi, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar,” jelasnya. Pendidikan yang komprehensif dapat membantu individu mengembangkan kemampuan untuk menilai informasi secara kritis dan meresponsnya dengan bijaksana.
Dalam konteks yang lebih luas, Dr. Rina mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima informasi, terutama dari media sosial. Ia mengingatkan bahwa tidak semua informasi yang beredar di media sosial dapat dipercaya. “Masyarakat harus lebih bijak dalam menyaring informasi dan tidak langsung bereaksi terhadap isu yang belum jelas kebenarannya,” tambahnya. Dengan maraknya informasi yang beredar di era digital ini, kemampuan untuk memilah informasi menjadi semakin penting.
Diskusi ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat dan praktisi media yang sepakat dengan pandangan Dr. Rina. Mereka menekankan pentingnya peran media dalam menyajikan informasi yang akurat dan tidak memicu kepanikan. “Media memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga ketenangan masyarakat dengan menyajikan berita yang berimbang dan berdasarkan fakta,” kata salah satu peserta diskusi. Media diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya dan membantu masyarakat dalam memahami isu-isu yang kompleks.
Sebagai langkah tindak lanjut, Dr. Rina mengusulkan adanya program pelatihan untuk meningkatkan literasi media dan keterampilan emosional di kalangan masyarakat. Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi berbagai isu yang muncul, baik di tingkat lokal maupun nasional. “Dengan literasi media yang baik, masyarakat dapat lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh berita yang menyesatkan,” tutup Dr. Rina. Program pelatihan ini diharapkan dapat memberikan masyarakat alat yang diperlukan untuk menavigasi dunia informasi yang semakin kompleks.
Melalui upaya bersama dari keluarga, pendidikan, dan media, diharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih tenang dan bijaksana dalam menghadapi berbagai isu yang berkembang. Sikap tenang dan ketahanan emosional ini penting untuk menjaga stabilitas sosial dan mencegah terjadinya kepanikan yang tidak perlu. Dengan demikian, masyarakat dapat berkontribusi pada terciptanya lingkungan yang lebih harmonis dan stabil.





















