Headline.co.id, Tangerang ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkolaborasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memperkuat pendidikan antikorupsi di sekolah. Langkah ini merupakan bagian dari strategi membangun karakter siswa dan menciptakan budaya sekolah yang berintegritas. Program ini bertujuan untuk mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045 yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kejujuran, dan tanggung jawab.
Penguatan pendidikan antikorupsi ini diwujudkan melalui kegiatan Internalisasi Pendidikan Antikorupsi dan Implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Acara tersebut diselenggarakan oleh Inspektorat Jenderal bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen di Tangerang Selatan, Banten, pada Selasa (28/7/2026). Program ini tidak hanya berfokus pada pencegahan korupsi, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.
Penasehat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter dan berintegritas sejak usia sekolah. Menurutnya, pendidikan memiliki fungsi yang jauh melampaui transfer ilmu pengetahuan. “Sekolah menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kepedulian, keberanian, kesederhanaan, hingga sikap saling menghargai sebagai bekal kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ujarnya.
Masmidah juga menambahkan bahwa pembentukan karakter dimulai dari lingkungan keluarga sebagai sekolah pertama bagi setiap anak. Orang tua, terutama ibu, memiliki peran besar dalam menanamkan kebiasaan hidup jujur, disiplin, sederhana, dan bertanggung jawab melalui keteladanan sehari-hari. Ketika nilai-nilai integritas tumbuh di lingkungan keluarga, fondasi budaya antikorupsi akan semakin kuat dan menjadi modal penting dalam membangun masyarakat yang bebas dari praktik korupsi.
Inspektur Jenderal Kemendikdasmen, Faisal Syahrul, menegaskan bahwa pendidikan antikorupsi merupakan langkah preventif untuk membentuk karakter siswa sekaligus memperkuat integritas seluruh warga sekolah. “Pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun moralitas dan karakter. Karena itu, nilai kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kepedulian harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran,” katanya.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 1.150 peserta melalui skema hibrida, terdiri dari 1.000 peserta daring dan 150 peserta luring. Peserta meliputi kepala sekolah, guru di Kota Tangerang Selatan, pengurus DWP Kemendikdasmen, serta perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen di Jawa Barat dan Banten. Untuk memperkaya perspektif, Kemendikdasmen menghadirkan narasumber dari berbagai lembaga, termasuk KPK, Pusat Penguatan Karakter, Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen, serta psikolog yang membahas strategi pencegahan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan.


















