Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan melalui Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga, Lovely Daisy, menyampaikan keprihatinannya terhadap hasil survei yang dilakukan oleh Universitas Islam Bandung (Unisba). Survei tersebut mengungkapkan bahwa masih banyak orang tua yang memberikan susu kental manis kepada balita sebagai pengganti susu pertumbuhan. Lovely menegaskan bahwa temuan ini menjadi peringatan penting mengenai literasi gizi masyarakat, terutama dalam hal pemenuhan asupan nutrisi anak.
Survei yang dilakukan Unisba melibatkan 2.150 orang tua balita di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa 67,6 persen responden masih menggunakan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi yang salah mengenai fungsi produk tersebut masih ada di masyarakat. Lovely menjelaskan bahwa kandungan gula yang tinggi pada kental manis sengaja ditambahkan sebagai pengawet alami agar produk memiliki masa simpan lebih lama, sehingga sebagian besar kalori yang dihasilkan berasal dari karbohidrat atau gula.
Lovely mengakui bahwa mengubah kebiasaan masyarakat yang telah lama menganggap kental manis sebagai susu pertumbuhan bukanlah hal yang mudah. Ia menyebutkan bahwa masalah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Salah satu faktor utama adalah kuatnya jejak iklan di masa lalu yang menampilkan kental manis sebagai minuman susu yang menyehatkan bagi keluarga dan anak-anak. Selain itu, harga yang relatif murah dan daya simpan yang panjang membuat produk ini tetap menjadi pilihan bagi sebagian keluarga.
Lovely juga menyoroti rendahnya kebiasaan masyarakat dalam membaca label pangan yang turut memperkuat kesalahpahaman tersebut. Banyak konsumen tidak mencermati Tabel Informasi Nilai Gizi sehingga tidak menyadari bahwa kandungan gula dalam kental manis jauh lebih dominan dibandingkan kandungan proteinnya. Menurutnya, edukasi mengenai gizi seimbang dan pemanfaatan pangan lokal perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya bergantung pada persepsi lama.
Survei Unisba juga menemukan bahwa hampir separuh responden merupakan lulusan perguruan tinggi. Lovely menilai bahwa temuan ini menunjukkan bahwa masalah kental manis tidak hanya berkaitan dengan tingkat pendidikan formal, tetapi juga literasi gizi yang belum sepenuhnya dimiliki masyarakat. Oleh karena itu, ia mendorong peran kader Posyandu, Puskesmas, dan tenaga kesehatan untuk terus dioptimalkan sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi mengenai gizi, membiasakan masyarakat membaca label pangan, serta membantu keluarga memahami perbedaan mendasar susu dan kental manis.
“Sebagai garda terdepan untuk melakukan edukasi langsung secara tatap muka kepada para ibu tentang gizi seimbang dan pemenuhannya berbasis makanan lokal yang juga bisa didapat dengan harga terjangkau,” ungkap Lovely.



















