Headline.co.id, Batang ~ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan dukungannya terhadap peningkatan kualitas kelengkeng khas Batang. Hal ini diwujudkan melalui kerja sama dengan Badan Pengelola Kampus di Luar Kampus Utama (BPK2U) Universitas Diponegoro Batang yang mengadakan workshop bersama petani milenial. Para peneliti BRIN siap memberikan solusi untuk memperbaiki tampilan kelengkeng hasil panen petani lokal Batang.
Arief Arianto, peneliti dari BRIN, mengapresiasi potensi buah kelengkeng sebagai komoditas unggulan lokal Kabupaten Batang yang memiliki peluang besar di pasar hortikultura nasional. “Inovasi riset dan teknologi sangat diperlukan untuk memperbaiki penampilan serta meningkatkan produktivitas buah kelengkeng. Misalnya melalui penerapan teknik penanganan pascapanen dan budidaya yang tepat, sehingga dihasilkan buah kelengkeng berkualitas,” ujarnya saat dihubungi melalui gawai, Kamis (14/5/2026).
Menurut Arief, penerapan pola tersebut akan menghasilkan tampilan buah yang cerah dan mengilap, rasa yang legit, serta daya simpan dan masa kesegaran yang lebih lama. “Dengan demikian, buah dapat didistribusikan ke berbagai daerah dalam kondisi tetap baik,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan baru seperti bioekonomi sirkular dapat mendukung pengelolaan kebun kelengkeng yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Aditya Reza Kusuma, perwakilan petani kelengkeng milenial, mengakui bahwa meskipun rasa kelengkeng Batang manis dan ukuran buahnya cukup besar, warna kulitnya masih kalah bening dibandingkan kelengkeng impor. Hal ini menjadi perhatian para petani milenial karena warna kulit kelengkeng Batang cepat menghitam. “Dan tentu kurang menarik ketika dipajang di minimarket. Alhamdulillah kami didukung Undip, BRIN, dan Indomaret, yang memberi solusi mencelupkan kelengkeng usai dipanen ke zat khusus yang aman bagi buah, supaya tampilannya jadi bersih harganya pun lebih bersaing,” terangnya.
Saat ini, terdapat delapan ribu pohon kelengkeng lokal Batang yang tersebar di beberapa titik, di antaranya dua ribu di Kuripan Subah, dua ribu di Timbang Subah, dua ribu di Tersono, dan dua ribu di Ngadirejo Reban. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)





















