Headline.co.id, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Dari Fakultas Kedokteran ~ Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK KMK UGM) mengadakan kegiatan penyuluhan untuk menangani kasus stunting di Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul. Acara ini dilaksanakan di Balai Desa Selopamioro dan bertujuan untuk memperkuat kerja sama dalam pencegahan dan penanganan stunting secara berkelanjutan.
Ketua Tim Pengabdian, dr. Ade Febrina Lestari, M.Sc., Sp.A Subs TKPS (K), menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kolaborasi lintas sektor yang melibatkan keluarga, kader kesehatan, puskesmas, pemerintah desa, dan universitas. “Kita menggandeng para kader kesehatan dan balita yang sebelumnya sudah teridentifikasi mengalami stunting,” ujar Ade dalam keterangan yang dikirim pada Rabu (22/7).
Sebanyak 40 kader posyandu dan 37 balita terlibat dalam kegiatan penyuluhan ini. Ade menekankan pentingnya peran kader dalam deteksi dini gangguan pertumbuhan anak, sehingga pelatihan yang diberikan bertujuan meningkatkan kompetensi mereka dalam memantau pertumbuhan anak di masyarakat.
Para kader mendapatkan pelatihan pengukuran antropometri yang langsung dipraktikkan pada balita dengan pendampingan tim pengabdian. Semua balita menjalani pemeriksaan fisik diagnostik dan skrining tumbuh kembang, sementara para ibu mendapatkan edukasi tentang pemberian makan yang sesuai dengan usia anak. “Yang menarik, tidak semua anak yang sebelumnya didiagnosis stunting benar-benar mengalami stunting. Sebagian di antaranya justru tergolong perawakan pendek,” kata Ade.
Sebagai tambahan edukasi, tim membagikan buku saku berjudul “Cegah Stunting dari Rumah: Kehamilan Sehat, Pola Asuh Tepat, dan MPASI Bergizi” kepada kader dan tenaga kesehatan. Selain itu, telur bebek juga dibagikan kepada kader dan ibu balita sebagai dukungan pemenuhan gizi keluarga.
Kepala Puskesmas Imogiri, drg. Imung, melaporkan bahwa angka stunting di wilayah tersebut terus menurun, tercatat sebesar 12,7 persen pada 2026. Sementara itu, Danang Kumorojati, S.Pd., Kamituwo Desa Selopamioro, menyatakan bahwa penyebab stunting di desanya kini lebih banyak dipicu oleh pola asuh yang keliru, bukan lagi didominasi faktor ekonomi. “Dalam pemberian makan anak, seiring makin banyaknya orang tua yang bekerja dan menitipkan anak kepada anggota keluarga lain,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Ade menekankan bahwa aktivitas makan pada anak semestinya menjadi momen yang menyenangkan, dan pemberian MP-ASI merupakan fase penting bagi anak untuk belajar hal baru dengan cara yang menyenangkan dan tidak terburu-buru.
Melalui kegiatan ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat FK KMK UGM berharap sinergi akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader, dan keluarga dapat semakin diperkuat. Penanganan stunting dinilai tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat demi memastikan setiap anak mendapat kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.



















