Highlight Berita:
Headline.co.id, Batang ~ Dugaan keracunan MBG di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, tidak hanya menimbulkan keluhan pada pelajar penerima Makan Bergizi Gratis, tetapi juga pada sejumlah orang tua yang ikut menyantap makanan yang dibawa pulang anak mereka. Salah satunya Nur Hayati, 43 tahun, yang mengalami diare dan mual setelah mengonsumsi sisa jatah MBG anaknya yang masih duduk di jenjang PAUD. Kasus itu menjadi bagian dari rangkaian keluhan kesehatan yang hingga Rabu malam, 23 September 2026, tercatat dialami 276 warga di wilayah Bawang. Pemerintah Kabupaten Batang masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebabnya dan menghentikan sementara distribusi dari SPPG terkait.
M. Saadullah, suami Nur Hayati, mengatakan keluarganya pada awalnya tidak menghubungkan kondisi istrinya dengan makanan MBG. Anak mereka sebelumnya memperoleh makanan di sekolah, kemudian membawa sisanya ke rumah.
“Bocah itu makan siang sekitar jam 12-an. Pulang dari sekolah dimakan sisanya. Habis itu terasa malamnya,” kata Saadullah, Rabu, 23 September 2026.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sisa MBG Dimakan di Rumah
Menurut Saadullah, Nur Hayati mulai mengalami keluhan pada malam hari setelah mengonsumsi sisa makanan tersebut. Kondisinya membuat Nur Hayati berulang kali ke kamar mandi. Keluarga pada awalnya mengira keluhan itu hanya masuk angin atau gangguan pencernaan biasa.
“Ke kamar mandi terus, terus sampai saya kerokin, tak kira masuk angin,” ungkap Saadullah.
Keesokan paginya, Saadullah bahkan sempat membeli obat di apotek karena belum mengetahui adanya laporan dugaan keracunan MBG yang dialami sejumlah warga di Kecamatan Bawang.
“Terus paginya tak carikan obat ke apotek, dikira tak belikan obat biar enggak menceret-menceret sama mual-mual. Nggak tahunya malah kena MBG ini,” tuturnya.
Kecurigaan keluarga baru muncul setelah informasi mengenai warga lain yang mengalami keluhan serupa beredar melalui grup percakapan warga. Saat itu kondisi Nur Hayati disebut sudah menurun dan lebih banyak beristirahat.
Keluhan Muncul Beberapa Jam Setelah Makan
Pola keluhan yang muncul beberapa jam setelah makanan dikonsumsi juga disampaikan Wakil Bupati Batang Suyono. Menurut dia, pelajar penerima manfaat makan sekitar pukul 11.00 WIB dan keluhan mulai dirasakan pada siang hingga sore hari.
“Yang anak sekolah makan jam 11.00 WIB, tapi terasanya sore, jam 01.00 (13.00 WIB) atau jam 02.00 (14.00 WIB),” ujar Suyono.
Selain pelajar dan orang tua, bahan yang tersedia juga mencatat adanya korban dari kalangan balita, ibu menyusui, dan ibu hamil. Warga yang mengalami keluhan tersebar antara lain di Pasusukan, Bawang, dan Purbo.
Keluhan kesehatan yang dilaporkan meliputi mual, pusing, dan pada sebagian warga diare. Sebagian korban mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan dan sebagian lainnya dirujuk sesuai kondisi serta kapasitas pelayanan.
Korban MBG di Bawang Bertambah Menjadi 276 Orang
Jumlah warga terdampak terus diperbarui seiring proses pendataan. Wakil Bupati Batang Suyono menyampaikan pembaruan pada pukul 20.38 WIB bahwa jumlah warga terdampak telah mencapai 276 orang.
“Update jam 20.38 WIB, total 276 (orang) yang terdampak di Bawang. Jadi perkembangan nantinya kita tunggu, saat ini kita perhatian bersama,” kata Suyono.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding data sementara sebelumnya yang mencatat 87 warga mengalami keluhan. Pemerintah menegaskan jumlah korban masih dapat berubah karena verifikasi di lapangan terus dilakukan.
Pemkab Batang menyiapkan sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Puskesmas Batang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari Batang. Dalam pembaruan yang disampaikan Suyono, sebanyak 19 orang dirujuk ke RSUD Kalisari.
Apabila kapasitas rumah sakit tidak mencukupi, pemerintah menyiapkan puskesmas dengan fasilitas rawat inap sebagai alternatif penanganan. “Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap,” kata Suyono.
Semua korban yang tercatat dalam rangkaian kasus tersebut disebut berasal dari wilayah pelayanan SPPG yang sama. Dapur MBG itu melayani sekitar 2.700 penerima manfaat pada 11 titik pendidikan dan lembaga di Kecamatan Bawang.
Namun, angka 2.700 merupakan total penerima manfaat dan tidak boleh dipahami sebagai jumlah korban. Pemerintah juga menegaskan tidak seluruh siswa di 11 titik layanan mengalami keluhan.
Menu yang disebut dibagikan pada Selasa, 22 September 2026, antara lain nasi, telur bolognaise, mix sayur, tahu mendoan, dan anggur. Telur sempat disebut sebagai dugaan awal karena adanya keterangan mengenai rasa yang berbeda, tetapi Pemkab Batang belum menetapkan telur atau menu lain sebagai sumber gangguan kesehatan.
“Telur, makan telur, rasanya beda. Setelahnya menjadi mual. Tadi saya tanya pusing dan mual,” ujar Suyono.
Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah diminta mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. “Kita tunggu bersama, sambil menunggu hasil lab. Tadi saya sudah telepon Dinas Kesehatan agar mengambil sampel,” tuturnya.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan, distribusi MBG dari SPPG tersebut dihentikan sementara. Pemerintah juga akan mengevaluasi penerapan standar operasional prosedur pengolahan dan penyajian makanan.
“Ini rawan sekali. Sekali lagi, para yang mempunyai SPBG, hati-hati. SOP dipegang teguh, jangan sampai menimbulkan keracunan berikutnya yang bahkan bisa mengancam nyawa manusia,” tegas Suyono.
Pemkab Batang belum menetapkan kejadian tersebut sebagai KLB karena menurut Suyono keputusan tersebut memerlukan rapat tersendiri. Pemerintah masih memprioritaskan penanganan warga, verifikasi data, pemeriksaan sampel, serta evaluasi terhadap dapur penyedia MBG.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















