Headline.co.id, Bogor ~ Di sebuah rumah kontrakan sederhana berukuran 4×6 meter di Cileungsi, Bogor, Charoline Sihole (52) menjalankan usaha jual beli gas dan air galon bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Sejak suaminya, Wilmar Siburian, meninggal enam tahun lalu, Charoline mengandalkan usaha ini untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penghasilan dari usaha tersebut tidak menentu, hanya cukup untuk membayar kontrakan setiap bulan. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan,” ujar Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7).
Charoline dan suaminya telah merantau selama 23 tahun di Cileungsi. Mereka bertemu saat sama-sama berjualan koran, majalah, dan novel di kios pinggir jalan. Setelah usaha tersebut meredup, mereka beralih ke usaha jual beli gas dan air galon. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur mendapat bantuan dari teman-teman gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja, dapat beras dan untuk dia (Walmer) dapat uang saku,” jelasnya.
Walmer, yang memahami kondisi ekonomi keluarganya, adalah siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11, ia konsisten masuk lima besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi,” ujarnya. Walmer juga membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke tetangga.
Meskipun hidup dalam keterbatasan, Walmer tetap bertekad kuliah di kampus terbaik. Ia mendaftar ke UGM melalui jalur SNBP tanpa memberitahu ibunya agar tidak khawatir. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin,” katanya. Pada hari pengumuman, Walmer diterima di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia segera mengabari ibunya yang sedang melayat. “Ma, aku diterima di UGM,” tulisnya dalam pesan.
Charoline awalnya bingung dengan pesan tersebut, namun setelah dijelaskan oleh temannya, ia merasa haru dan bahagia. “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” ujar temannya. Charoline dan Walmer berpelukan penuh haru saat bertemu di rumah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama,” kenang Walmer.
Beberapa hari kemudian, Walmer mengabarkan bahwa ia mendapatkan beasiswa kuliah gratis di UGM. “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” lanjutnya. Charoline merasa terharu dan bersyukur atas karunia Tuhan. “Saya menangislah di rumah orang,” ujarnya. Charoline berharap Walmer dapat menjalani hari-harinya dengan baik di Yogyakarta dan mencapai cita-citanya. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua,” harapnya.


















