Headline.co.id, Jakarta ~ Harga dollar hari ini 10 Juni 2026 tercatat berada di level Rp17.881 per dolar AS pada awal perdagangan Rabu (10/6/2026). Pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi berbagai sentimen global, mulai dari perkembangan konflik di Timur Tengah hingga arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga mengambil langkah penguatan stabilitas rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan.
Harga dollar hari ini 10 Juni 2026 menjadi perhatian pelaku pasar setelah rupiah menunjukkan penguatan pada perdagangan sebelumnya. Berdasarkan data kurs yang tersedia pada Rabu dini hari, 1 dolar Amerika Serikat setara dengan Rp17.881, menandakan rupiah masih bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Meski demikian, harga dollar hari ini 10 Juni 2026 masih berpotensi bergerak fluktuatif seiring tingginya ketidakpastian ekonomi global. Investor saat ini mencermati perkembangan geopolitik, inflasi global, serta respons bank sentral di berbagai negara terhadap dinamika tersebut.
Rupiah Menguat pada Perdagangan Sebelumnya
Mengutip data RTI Infokom, rupiah ditutup menguat 170 poin atau 0,94 persen ke level Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026).
Penguatan rupiah terjadi bersamaan dengan pergerakan positif sejumlah mata uang Asia. Yuan China menguat 0,19 persen, dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,38 persen.
Selain itu, dolar Singapura tercatat naik 0,16 persen. Sementara yen Jepang turun 0,01 persen, baht Thailand melemah 0,12 persen, dan dolar Taiwan terkoreksi 0,03 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar regional relatif membaik meskipun risiko global masih menjadi perhatian investor.
Meredanya Ketegangan Timur Tengah Beri Sentimen Positif
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sentimen pasar mendapat dorongan positif setelah Iran dan Israel menyampaikan bahwa mereka telah menghentikan serangan satu sama lain.
“Sentimen pasar membaik setelah Iran dan Israel mengatakan mereka telah menghentikan serangan satu sama lain,” kata Ibrahim Assuaibi.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta kedua negara segera menghentikan aksi penembakan. Namun demikian, ketidakpastian masih membayangi karena Teheran menyatakan akan melanjutkan serangan apabila Israel terus menyerang Hizbullah di Lebanon.
Menurut Ibrahim, perkembangan tersebut sempat meningkatkan optimisme pasar dan mendorong minat investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Inflasi dan Kebijakan The Fed Masih Menjadi Sorotan
Di tengah membaiknya sentimen geopolitik, pelaku pasar tetap mewaspadai potensi inflasi global yang dipicu oleh sektor energi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat.
“Pasar juga khawatir bahwa inflasi yang didorong oleh energi dapat tetap tinggi, mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve dan, dalam beberapa kasus, memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut,” ujar Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat sekaligus memperkuat posisi dolar AS di pasar global.
“Hal ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi,” lanjutnya.
BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50 Persen
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Bank Indonesia menilai penguatan instrumen moneter diperlukan untuk meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
“BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing,” demikian pandangan Bank Indonesia.
Dengan kombinasi sentimen global dan kebijakan domestik tersebut, pergerakan harga dollar hari ini 10 Juni 2026 diperkirakan akan terus menjadi perhatian pelaku pasar sebagai indikator penting arah nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.


















