Headline.co.id, Jakarta ~ Jakarta. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengonfirmasi bahwa pasokan cabai rawit nasional tetap stabil, menyebabkan harga mulai menurun pada pekan pertama Mei 2026. Hal ini didukung oleh peningkatan produksi di sentra utama dan distribusi antardaerah yang semakin lancar. “Pasokan dari sentra produksi dan penguatan distribusi antardaerah membuat harga cabai rawit di pasar mulai bergerak stabil,” ujar Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, Rabu (13/5/2026).
Menurut pantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 12 Mei 2026, rata-rata harga cabai rawit merah nasional berada di kisaran Rp63.252 per kilogram. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode menjelang Lebaran 1447 Hijriah/2026 ketika harga sempat mencapai Rp120.000 per kilogram di sejumlah pasar. Deputi Astawa menjelaskan bahwa pergerakan harga cabai rawit mulai lebih terkendali setelah pasokan dari sentra produksi kembali mengalir ke pasar, dan distribusi yang lancar membantu menurunkan tekanan harga yang sempat meningkat pada periode Lebaran.
“Cabai rawit merah memang kalau hari hujan kemudian ada beberapa titik yang mengalami kena hama OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) dan lain sebagainya itu agak sedikit mengganggu,” ujar Deputi Astawa. Namun, secara keseluruhan, pasokan cabai rawit nasional masih relatif aman dan harga di tingkat konsumen telah mengalami penurunan signifikan dibandingkan masa puncak permintaan sebelumnya. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Harga Produsen (IPH) cabai rawit kini turun menjadi 91 daerah pada minggu pertama Mei 2026, setelah sebelumnya mencapai 127 daerah pada minggu ketiga April.
Secara prinsip, pasokan cabai rawit sudah turun banyak. “Pada saat menjelang lebaran itu kan menjelang bulan puasa sampai lebaran itu harga cabai rawit merah itu sudah di posisi Rp 120.000-an di pasar. Sekarang sudah turun jauh,” jelas Deputi Astawa. Penurunan harga cabai rawit ini turut memberikan dampak positif terhadap pengendalian inflasi pangan nasional. “Artinya secara inflasi dia sudah turun banyak. Kemudian di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) memang oke, tapi secara harga relatif sudah sangat banyak turun,” tambahnya.
Untuk menjaga tren perbaikan ini, Bapanas terus berkoordinasi dengan sentra produksi dan para petani penggerak hortikultura guna memastikan pasokan cabai tetap lancar di semua wilayah. “Sehingga kami akan terus memantau. Kemudian kita juga berkoordinasi dengan para champion-champion cabai. Bagaimana pasokan dan lain sebagainya, itu yang kita lakukan sekarang,” jelas Deputi Astawa.
Kondisi pasokan cabai rawit nasional hingga akhir tahun 2026 masih berada dalam posisi aman. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Bapanas per 5 Mei 2026, total produksi cabai rawit tahun ini diperkirakan mencapai 1,59 juta ton dengan total kebutuhan nasional sebesar 913,6 ribu ton. Dari proyeksi tersebut, stok akhir tahun diperkirakan masih tersisa sekitar 60,5 ribu ton. Sementara itu, khusus periode Mei 2026, ketersediaan cabai rawit diproyeksikan mencapai 168,1 ribu ton, sementara kebutuhan nasional berada di kisaran 78 ribu ton.
Neraca pasokan pada Mei diperkirakan masih surplus sekitar 90,1 ribu ton, sehingga menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas harga di pasar konsumen. Perbaikan kondisi pasokan cabai rawit saat ini ditopang produksi dari berbagai sentra hortikultura yang mulai masuk panen. Distribusi antardaerah pun terus diperkuat agar pasokan cabai di wilayah konsumsi tetap lancar dan tidak terjadi kekosongan pasokan di pasar rakyat. Pemerintah terus memantau pergerakan harga cabai rawit di pasar dan mempercepat distribusi dari daerah produksi ke wilayah konsumsi tetap mengalir. “Kami akan terus memantau dan mempercepat distribusi,” tutur Deputi Astawa.





















