Headline.co.id, Jogja ~ Pengakuan seorang wali murid melalui akun Threads @annisakhaaa menambah sorotan terhadap dugaan kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Unggahan yang dipublikasikan pada Jumat (24/4/2026) itu viral dan hingga berita ini diturunkan telah mendapat 5.400 suka, 1.800 komentar, serta 899 kali dibagikan ulang dan diteruskan lebih dari 3.300 kali. Dalam unggahannya, ia mengaku melihat langsung video yang menunjukkan anaknya diduga menjadi korban kekerasan di daycare tersebut. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan belum memberikan keterangan resmi.
Dalam unggahan tersebut, @annisakhaaa menceritakan kronologi saat dirinya hendak menjemput anaknya yang masih berusia 9 bulan pada Jumat sore sekitar pukul 16.40 WIB. Ia mengaku terkejut melihat kondisi di sekitar daycare yang ramai dan telah dipasangi garis polisi.
“Gak pernah-pernahnya ngebayangin akan ada hari kayak gini. Hal yang paling aku takutin malah kejadian ke anakku,” tulisnya.
Ia kemudian mengaku mendapatkan penjelasan dari seorang anggota polisi wanita di lokasi dan diperlihatkan sebuah video. Dalam video itu, ia menyebut melihat anaknya dalam kondisi diduga diikat.
“Badan gemeter banget pas lihat video, ternyata ada anakku yang diiket sampai nangis sesegukan,” ungkapnya.
Dalam narasinya, ia juga menyebut video tersebut memperlihatkan sejumlah bayi lain dengan kondisi serupa.
“Di video ada 6 bayi berjejer di atas playmate, diikat kakinya tanpa baju hanya pakai diapers, nangis, haus, dingin,” tulisnya.
Ia menambahkan, terdapat pula rekaman yang menunjukkan anak-anak lain dengan usia di atas dua tahun dalam kondisi diduga diikat di beberapa bagian ruangan.
“Di video selanjutnya ada adik-adik yang sudah di atas 2 tahun dengan keadaan sama, diikat di pintu, jendela, di playmate,” lanjutnya.
Unggahan tersebut juga menggambarkan kondisi emosional yang dialami penulis setelah mengetahui dugaan perlakuan terhadap anaknya. Ia menyebut anaknya telah dititipkan di daycare tersebut selama enam bulan.
“Anakku 6 bulan di situ, rasanya nyawaku hampir putus ngebayangin setiap hari dapat perlakuan seperti itu,” tulisnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa para orang tua yang anaknya dititipkan di daycare tersebut telah membentuk grup komunikasi untuk saling berbagi informasi.
Sebelumnya, sejumlah wali murid lain juga mengaku melihat perubahan perilaku anak yang menunjukkan ketakutan saat hendak dititipkan. Salah satunya menyebut anaknya enggan kembali ke daycare dan menyebut pengasuh sebagai sosok yang “galak”.
Hingga saat ini, berbagai informasi yang beredar, termasuk pengakuan di media sosial, masih berstatus dugaan dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak berwenang. Pihak kepolisian disebut masih mengumpulkan keterangan saksi dan alat bukti untuk mengungkap kasus ini.
Belum ada pernyataan resmi dari pengelola Daycare Little Aresha terkait tudingan yang beredar. Kasus ini pun menjadi perhatian luas masyarakat, khususnya para orang tua, yang menunggu kejelasan hasil penyelidikan aparat terkait dugaan kekerasan terhadap anak di fasilitas penitipan tersebut.




















