Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan peningkatan signifikan dalam ekspor komoditas unggas pada tahun 2026. Produk ayam dan telur dari Indonesia kini semakin bersaing di pasar internasional, didukung oleh surplus produksi nasional dan strategi ekspansi pasar yang agresif. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari keberhasilan swasembada protein hewani. “Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan seterusnya. Nah ini kita dorong ekspor ke negara-negara lain,” ujar Mentan Amran dalam siaran pers yang diterima pada Selasa (21/4/2026).
Mentan Amran juga menekankan bahwa pasar ekspor terus berkembang. “Sekarang ada 10 tujuan negara langganan ekspor kita,” tambahnya. Data terbaru menunjukkan bahwa pada Maret 2026, Indonesia mengekspor 545 ton produk unggas dengan nilai Rp18,2 miliar ke negara-negara seperti Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Ekspor ini didominasi oleh telur konsumsi sebanyak 517 ton atau sekitar 8,13 juta butir, sementara sisanya berupa daging ayam dan produk olahan bernilai tambah.
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kinerja ekspor unggas menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Pada tahun 2024, ekspor unggas tercatat sekitar 300 ton dengan nilai sekitar Rp10–11 miliar. Tahun 2025 meningkat menjadi 400 ton dengan nilai Rp13–15 miliar. Sementara itu, pada tahun 2026 (Maret) mencapai 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar.
Tidak hanya dari sisi volume, transformasi juga terlihat pada struktur ekspor yang mulai bergeser ke produk olahan seperti nugget dan karaage. Hal ini mendorong peningkatan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing industri perunggasan nasional. Kinerja ekspor ini didukung oleh produksi nasional yang kuat. Indonesia saat ini mencatat produksi daging ayam ras sebesar 4,29 juta ton dengan konsumsi setahun 4,12 juta ton. Untuk produksi telur ayam ras, tercatat 6,54 juta ton dengan konsumsi setahun 6,47 juta ton. Kondisi surplus ini memungkinkan ekspansi pasar tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri.
Kementan juga terus memperkuat sistem kesehatan hewan, biosekuriti, dan sertifikasi veteriner guna memastikan seluruh produk memenuhi standar internasional. Diplomasi perdagangan dan pembukaan akses pasar baru juga terus dilakukan untuk memperluas jangkauan ekspor. Ke depan, Kementan menargetkan ekspor ayam dan telur terus meningkat, baik dari sisi volume maupun nilai, melalui hilirisasi produk dan penguatan industri pengolahan. Langkah ini sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat peternak dan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global.
Dengan tren pertumbuhan yang konsisten, Indonesia kini tidak hanya swasembada, tetapi mulai menegaskan diri sebagai eksportir unggas yang diperhitungkan di pasar dunia.






















