Headline.co.id, Banda Aceh ~ Dinas Kesehatan Aceh mengungkapkan bahwa tingginya kasus campak di wilayah tersebut sangat berkaitan erat dengan rendahnya cakupan imunisasi di masyarakat. Berdasarkan data yang ada, 93,5 persen kasus campak terkonfirmasi terjadi pada anak yang tidak pernah mendapatkan imunisasi campak. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman, menyatakan bahwa kelompok anak yang tidak diimunisasi menjadi sangat rentan terhadap penularan penyakit menular tersebut.
“Ini menunjukkan bahwa kelompok yang tidak diimunisasi menjadi sangat rentan terhadap penularan campak,” ujar dr. Iman di Banda Aceh, Selasa (14/4/2026). Menurutnya, kelompok usia paling terdampak adalah anak usia 1–4 tahun dan 5–9 tahun yang seharusnya sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Rendahnya cakupan imunisasi menyebabkan terbentuknya kantong-kantong populasi rentan di masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa ketika virus campak masuk ke wilayah dengan banyak anak yang belum diimunisasi, penularan dapat terjadi sangat cepat dan berpotensi memicu Kejadian Luar Biasa (KLB). “Campak ini penyakit yang sangat menular. Kalau ada satu kasus masuk ke wilayah dengan banyak anak yang belum imunisasi, maka akan cepat sekali menyebar,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Aceh, cakupan imunisasi campak masih jauh dari target nasional sebesar 85 persen. Pada 2025, imunisasi MR dosis pertama baru mencapai 39,9 persen dan dosis kedua 23 persen. Memasuki 2026, capaian imunisasi masih rendah. Hingga Maret 2026, MR dosis pertama baru mencapai 7,1 persen dan dosis kedua 5,7 persen.
Dinas Kesehatan Aceh mencatat lonjakan kasus campak terjadi pada awal 2025. Pada Januari tercatat 755 kasus suspek dengan 241 kasus terkonfirmasi, sementara Februari mencapai 702 suspek dengan 226 kasus terkonfirmasi. Memasuki 2026, jumlah kasus menunjukkan penurunan. Periode Januari–Maret 2026 tercatat 724 kasus suspek dengan 124 kasus terkonfirmasi, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 1.400 kasus suspek.
“Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Namun demikian, KLB masih terjadi di beberapa daerah sehingga kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” kata dr. Iman. Sejumlah daerah dengan kasus tinggi pada 2025 lain Aceh Besar, Bireuen, Pidie, Aceh Barat Daya, dan Banda Aceh. Kabupaten Pidie bahkan mencatat KLB campak terbanyak hingga tujuh kali dalam setahun. Pada awal 2026, Aceh Besar masih menjadi daerah dengan kasus tertinggi, disusul Aceh Barat Daya dan Aceh Jaya.
Rendahnya cakupan imunisasi dipengaruhi berbagai faktor, termasuk keraguan masyarakat terhadap vaksin, isu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), serta informasi negatif yang beredar. “Keputusan dalam keluarga, terutama dari orang tua, sangat menentukan apakah anak diimunisasi atau tidak,” ujar dr. Iman. Ia menambahkan, keterbatasan kapasitas petugas dan rendahnya pemahaman masyarakat juga menjadi kendala dalam pelaksanaan imunisasi. Kondisi tersebut membuat cakupan imunisasi di Aceh cenderung fluktuatif dan masih rendah. “Situasi ini berpotensi terus memicu terbentuknya kantong-kantong populasi rentan di masyarakat,” tegasnya.





















