Headline.co.id, Jakarta ~ Harga bahan baku plastik di pasar global dan domestik mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh tekanan harga minyak, gangguan rantai pasok, serta ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini berdampak pada industri manufaktur dan kemasan, termasuk produsen makanan dan minuman serta pelaku usaha UMKM yang mulai merasakan dampak kenaikan harga kemasan plastik.
Di sisi lain, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia tengah menghadapi persoalan pengelolaan sampah yang volumenya terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan konsumsi. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat bahwa timbunan sampah plastik mengalami kenaikan yang konsisten. Pada 2019, terdapat 9–10 juta ton sampah plastik, yang meningkat menjadi 10,8 juta ton pada 2020, 11,6 juta ton pada 2022, 12 juta ton pada 2023, dan diperkirakan mencapai 12,4 juta ton pada 2025. Artinya, timbunan sampah plastik meningkat sekitar 20–30 persen dalam lima tahun.
Pertumbuhan sampah plastik lebih cepat dibandingkan dengan sistem pengelolaannya. Secara keseluruhan, data SIPSN menunjukkan bahwa pengelolaan sampah baru mencapai 25 persen dari 524 TPA yang tercatat, sementara 75 persen lainnya belum terkelola. Di tengah situasi ini, kemasan guna ulang seperti galon guna ulang atau kemasan isi ulang untuk produk kebutuhan rumah tangga menjadi alternatif yang dipilih karena harganya cenderung stabil. Penggunaan galon isi ulang dinilai lebih hemat dan tidak menimbulkan sampah plastik karena lebih ramah lingkungan dibanding galon sekali pakai.
“Penggunaan galon guna ulang dinilai menjadi solusi bagi kondisi yang terjadi saat ini,” kata Praktisi Komunikasi dan Dosen Periklanan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), Andre Donas, dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/4/2026). Konsumen saat ini tidak hanya ingin air minum yang aman dan higienis tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Peningkatan preferensi pemakaian galon guna ulang sejalan dengan survei Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG). Peneliti Senior Lembaga PRKG, Aan Rusdianto, mengungkapkan bahwa kepercayaan masyarakat untuk memakai galon guna ulang berbahan polikarbonat semakin meningkat karena dianggap lebih ramah lingkungan. Hasil survei menunjukkan tingkat pemakaian galon guna ulang di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang mencapai 89,36 persen, sementara hanya 5,32 persen yang masih menggunakan galon sekali pakai.
“Harga plastik di Indonesia melonjak drastis hingga 50-100 persen per April 2026,” kata Aan. Kenaikan tersebut berdampak pada biaya produksi barang yang berujung pada harga bagi konsumen. Beberapa pedagang sudah berupaya mengalihkan kemasan pangan mereka ke yang lebih ramah lingkungan.
Pemerintah Provinsi DIY, misalnya, melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan. Langkah ini mencakup skema pembelian kolektif langsung ke produsen lokal untuk memotong rantai distribusi serta pemanfaatan serat alam lokal seperti mendong, pandan, dan kelapa. “Kami mendukung pelaku UMKM untuk beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati.








