Headline.co.id, Bangunan ~ Peristiwa longsornya tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang pada 8 Maret lalu menelan 7 korban jiwa, mengungkap kelemahan sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Insiden ini menegaskan bahwa masalah sampah bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan manusia. Penumpukan sampah dalam jumlah besar di tempat pembuangan akhir berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik, sehingga mendorong berbagai pihak untuk menyoroti perlunya perubahan dalam pendekatan pengelolaan sampah perkotaan.
Menanggapi kejadian tersebut, Prof. Ir. Wiratni, S.T., M.T., Ph.D., IPM, Guru Besar Program Studi Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada dan pemerhati lingkungan, menyatakan bahwa akar masalah terletak pada cara pandang terhadap pengelolaan sampah. Menurutnya, praktik yang ada saat ini lebih berfokus pada pembuangan sampah daripada pengolahannya. Akibatnya, volume sampah terus menumpuk di tempat pembuangan akhir tanpa proses pengurangan yang memadai. “Akar permasalahannya itu sebetulnya karena pengelolaan sampah masih dianggap pembuangan, bukan upaya pengolahan,” ujarnya pada Kamis (12/3).
Wiratni menjelaskan bahwa meskipun praktik landfill masih memiliki peran dalam sistem pengelolaan sampah modern, seharusnya menjadi tahap terakhir setelah berbagai proses pengolahan dilakukan. Pengolahan dapat dimulai dari pemilahan sampah di sumber, composting untuk sampah organik, hingga proses termal bagi material anorganik. Dengan sistem tersebut, hanya sebagian kecil residu yang akhirnya masuk ke landfill. “Dalam pengelolaan sampah yang ideal, landfill memang masih diperlukan tapi hanya sebagai tahapan terakhir dalam sistem pengolahan sampah,” jelasnya.
Menurutnya, praktik di banyak tempat pembuangan akhir di Indonesia masih jauh dari standar pengelolaan yang seharusnya. Penimbunan sampah sering dilakukan tanpa memperhatikan kaidah desain landfill yang aman, seperti pengaturan kemiringan lereng, batas ketinggian tumpukan, serta sistem pengelolaan air lindi yang baik. Tanpa pengelolaan tersebut, risiko longsor dan pencemaran lingkungan semakin besar. “Yang terjadi di Indonesia justru landfill itu hanya dimanfaatkan untuk menumpuk sampah tanpa memerhatikan standard yang seharusnya,” tutur Wiratni.
Wiratni juga menyayangkan bahwa banyak pihak menilai persoalan sampah sering kali dipersepsikan sebagai masalah teknologi semata. Padahal, akar persoalan justru berkaitan dengan perilaku masyarakat dalam menghasilkan dan mengelola sampah. Oleh karena itu, pendekatan sosial dan humaniora menjadi faktor penting dalam mencari solusi yang efektif. Setiap wilayah memiliki kondisi sosial ekonomi yang berbeda sehingga pendekatan teknologi perlu disesuaikan dengan konteks masyarakatnya. “Masalah sampah ini menjadi berlarut-larut, ya karena perilaku masyarakat yang belum mau berubah,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi pengolahan sampah sering terhambat karena tidak didukung rekayasa sosial yang memadai. Tanpa perubahan perilaku dan sistem pengelolaan yang tepat, teknologi yang tersedia sulit memberikan dampak nyata. Hal ini menjelaskan mengapa berbagai teknologi pengolahan sampah belum sepenuhnya berhasil diterapkan di banyak daerah. Menurutnya, integrasi teknologi dan rekayasa sosial menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah.
Wiratni menekankan bahwa dalam konteks pencegahan bencana serupa di masa depan, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai ruang uji coba berbagai inovasi. Kampus dapat menjadi laboratorium hidup yang mengintegrasikan pengembangan teknologi dengan pendekatan sosial. Hasil pengujian tersebut kemudian dapat menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi pemerintah. Pendekatan tersebut diyakini memungkinkan solusi yang dihasilkan lebih kontekstual dan mudah diterapkan. “Sebagai contoh, UGM mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis komunitas di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT),” jelasnya.
Berlokasi di Berbah, Sleman, PIAT mengolah sekitar 8 hingga 10 ton sampah yang berasal dari kampus dan kawasan pemukiman sekitarnya. Sistem yang dibangun di fasilitas tersebut memadukan pengolahan sampah dengan pendekatan sosial untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat. Menurut Wiratni, pendekatan skala mikro seperti ini dapat mengurangi ketergantungan pada landfill besar. “Di PIAT kami membangun ekosistem pengolahan sampah yang terintegrasi dengan berbagai pemanfaatan produk hasil olahan,” katanya.
Sebagai bagian dari pengembangan sistem tersebut, UGM membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi di lingkungan kampus. Teknologi timbangan berbasis Internet of Things digunakan untuk memantau timbulan sampah sekaligus memotret perilaku warga kampus dalam menghasilkan sampah. Produk hasil pengolahan seperti kompos, maggot, dan material bangunan kemudian dihubungkan dengan berbagai inovasi lain di lingkungan kampus sehingga memiliki nilai guna. Menurut Wiratni, pendekatan ini menjadi wahana pembelajaran bagi masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. “Secara keseluruhan yang dibangun UGM bukan sekadar teknologi pengolahan sampah, tetapi ekosistem ekonomi sirkuler yang menjadi showcase kontribusi seluruh bidang kepakaran di UGM,” pungkasnya.








