Headline.co.id, Aceh Tamiang ~ Aktivitas masyarakat di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, mulai kembali normal setelah bencana yang memaksa ratusan keluarga meninggalkan rumah mereka. Kini, harapan untuk pemulihan mulai terlihat dengan adanya hunian sementara. Danantara Indonesia telah menyerahkan 600 unit rumah hunian sementara (huntara) kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra.
Penyerahan hunian ini dilakukan secara bertahap sejak 8 Januari 2026. Langkah ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak, yaitu menyediakan tempat tinggal yang aman dan layak, sehingga warga dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari selama masa transisi menuju hunian permanen. Program huntara di Aceh Tamiang merupakan hasil kolaborasi Danantara Indonesia, BP BUMN, pemerintah daerah, dan BUMN konstruksi PT Adhi Karya (Persero) Tbk, yang membangun 80 unit dari total hunian. Kerja sama ini dirancang agar penanganan bencana dapat dilakukan secara terkoordinasi dan terukur.
Direktur Utama PT Adhi Karya, Moeharmein Zein Chaniago, menegaskan bahwa pembangunan hunian dilakukan dengan cepat namun tetap memperhatikan standar keselamatan dan kenyamanan warga. Hunian dirancang agar masyarakat dapat kembali beraktivitas tanpa risiko kesehatan dan keamanan. “Pembangunan huntara di Aceh Tamiang kami laksanakan secara cepat dan terukur sebagai bagian dari kolaborasi Danantara, BP BUMN, dan pemerintah daerah, agar masyarakat terdampak bisa segera kembali beraktivitas,” ujar Moeharmein, Selasa (13/1/2026).
Lebih dari sekadar tempat berteduh, kawasan huntara dirancang sebagai ruang hidup sementara yang mendukung pemulihan sosial. Setiap unit dilengkapi dengan struktur bangunan yang aman, akses air bersih, sanitasi memadai, serta listrik tanpa biaya. Fasilitas ini menjadi fondasi penting untuk menjaga kesehatan warga di tengah kondisi pascabencana.
Untuk mendukung kehidupan komunal, kawasan huntara juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Klinik kesehatan disiapkan untuk layanan dasar, taman bermain menjadi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anak, sementara musala dan dapur umum berfungsi sebagai simpul kebersamaan warga. Akses internet turut disediakan agar aktivitas pendidikan dan komunikasi tetap berjalan.
Secara keseluruhan, bantuan di Aceh Tamiang mencakup 600 unit rumah, 120 unit toilet, dan 14 fasilitas komunal. Seluruhnya dirancang agar warga dapat menjalani masa transisi dengan lebih manusiawi, sekaligus menjaga keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi keluarga terdampak.
Bagi Danantara Indonesia, program huntara ini tidak berhenti di Aceh Tamiang. Dalam beberapa bulan ke depan, Danantara menargetkan pembangunan hingga 15.000 unit hunian sementara di berbagai wilayah terdampak bencana lainnya. Target ini menjadi bagian dari komitmen memperkuat respons cepat negara dalam situasi darurat.
Hunian sementara diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga jembatan pemulihan menuju kehidupan yang lebih stabil. Dengan tempat tinggal yang aman dan fasilitas dasar yang terpenuhi, masyarakat memiliki ruang untuk bangkit, menata ulang penghidupan, dan secara bertahap memulihkan kondisi sosial serta ekonomi pascabencana.





















