Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atas saluran irigasi bersama konsorsium Korea Selatan. Teknologi yang disebut canal-top solar photovoltaic itu dibahas Pusat Riset Tenaga Kelistrikan (PRTK) BRIN dan konsorsium Korea Selatan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (5/11/2026). Proyek tersebut diarahkan untuk menguji kesiapan teknologi, model bisnis, dan dukungan regulasi sebelum diterapkan lebih luas di Indonesia. Dalam dua tahun pertama, kegiatan akan berfokus pada riset dan demonstrasi teknologi serta pembahasan regulasi dengan pemerintah pusat dan daerah.
Teknologi canal-top PV menempatkan modul surya di atas saluran irigasi. Pemanfaatan ruang di atas infrastruktur yang telah tersedia berpotensi menghasilkan listrik tanpa membutuhkan lahan khusus dalam jumlah besar.
Meski demikian, penerapannya masih membutuhkan kajian terhadap struktur penyangga, kondisi saluran, akses pemeliharaan, serta dampaknya terhadap operasional irigasi. Keandalan konstruksi, kesesuaian dengan fungsi saluran, dan kelayakan pembiayaan juga menjadi bagian yang perlu diuji.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dukungan Pemda dan Keterlibatan Masyarakat
Perekayasa Ahli Utama PRTK BRIN Kholid Akhmad mengatakan pemerintah daerah di Kabupaten Banyumas mendukung pengembangan proyek tersebut. Pemerintah daerah juga membuka peluang memfasilitasi lahan di sekitar saluran irigasi apabila diperlukan.
“Pemda mendukung kami dalam proyek ini dan akan memfasilitasi lahan di sekitar saluran irigasi jika memang diperlukan. Pemda juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat setempat untuk mendukung keberlanjutan proyek,” jelas Kholid.
Menurut dia, dukungan pemerintah daerah dan keterlibatan masyarakat diperlukan agar pengembangan teknologi tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan wilayah dan aktivitas pertanian.
Pelibatan pemangku kepentingan menjadi bagian dari penjajakan proyek yang kini masih berada pada tahap teknis dan koordinasi. Data dari riset dan demonstrasi akan digunakan untuk menyusun pendekatan teknis serta operasional, sekaligus menilai peluang pengembangan menuju tahap komersial.
Regulasi PLTS di Saluran Irigasi Belum Spesifik
Selain kesiapan teknologi, kepastian regulasi menjadi tantangan dalam penerapan PLTS di atas saluran irigasi. Project Manager sekaligus Perekayasa Ahli Muda PRTK BRIN Dannya Maharani Putri Utami mengatakan diskusi awal dengan pemangku kepentingan di tingkat Provinsi Jawa Tengah pada Oktober 2026 menunjukkan perlunya pembahasan lanjutan dengan pemerintah pusat.
Dannya menyebut belum tersedia regulasi khusus dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang secara spesifik mengatur penerapan PLTS di atas saluran irigasi. Diskusi lanjutan dengan kementerian terkait pun direncanakan untuk membahas kerangka penerapan teknologi tersebut di Indonesia.
“Untuk itu, dua tahun pertama proyek akan difokuskan pada kegiatan riset dan demonstrasi teknologi sembari mendorong pembahasan regulasi bersama pemangku kepentingan,” tegasnya.
Tahap tersebut diharapkan menghasilkan data mengenai kinerja sistem dalam kondisi lingkungan Indonesia. Hasil pengujian juga akan menjadi bahan untuk mengevaluasi desain dan operasional sistem, termasuk kemudahan pemeliharaan serta pengaruhnya terhadap fungsi irigasi.
Konsorsium Bawa Pengalaman dari Kirgizstan
Konsorsium Korea Selatan dalam kolaborasi ini terdiri atas HS Solar Co., Ltd., Lumitech Co., Ltd., REC’s Innovation, Chungbuk Techno Park, dan Far East University. Mereka membawa keahlian di bidang struktur PLTS, pengelolaan energi, pengujian, serta pemantauan kinerja modul surya.
Head of Research Institute HS Solar Co., Ltd. Jeong Deuk-young memaparkan pengalaman perusahaannya mengembangkan berbagai struktur PLTS, mulai dari struktur tetap hingga sistem yang dapat dimiringkan dan teknologi pelacakan arah matahari.
“Kami juga berpengalaman dalam mengembangkan canal-top PV berkapasitas 100 kWp di Kirgizstan sejak 2025,” ungkap Jeong.
Pengalaman tersebut menjadi referensi dalam pengembangan sistem serupa di Indonesia. Namun, desain yang digunakan tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik lokasi, kondisi saluran irigasi, cuaca, dan kebutuhan operasional di lapangan.
Peneliti REC’s Innovation Co., Ltd. Lee Jeong-hun menjelaskan, perusahaannya memiliki kemampuan mengembangkan sistem manajemen energi dan pembangkit, termasuk Energy Management System (EMS), Power Management System (PMS), dukungan operasional berbasis kecerdasan artifisial (AI), serta pemantauan energi secara waktu nyata (real-time).
REC’s Innovation juga memiliki pengalaman dalam pengelolaan PLTS, integrasi Virtual Power Plant (VPP), pengembangan remote terminal unit (RTU), dan demonstrasi PLTS di atas saluran irigasi di Kirgizstan.
Sementara itu, Far East University memiliki kompetensi dalam penelitian kinerja dan keandalan modul surya. Dukungan yang tersedia mencakup kamera electroluminescence (EL), drone dengan pencitraan termal, dan fasilitas pengujian performa modul dalam berbagai kondisi lingkungan.
BRIN Gandeng Universitas Jenderal Soedirman
Kolaborasi Indonesia dan Korea Selatan juga diarahkan untuk membandingkan kinerja teknologi di lingkungan yang berbeda. Indonesia dan Kirgizstan dipilih sebagai lokasi pengembangan karena memiliki karakteristik iklim yang berbeda.
Perbandingan tersebut diperlukan untuk mengevaluasi pengaruh kondisi lingkungan terhadap kinerja modul surya dan keandalan sistem. Temuan riset diharapkan membantu menentukan pendekatan teknologi yang sesuai dengan kondisi saluran irigasi di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, BRIN turut menggandeng Universitas Jenderal Soedirman. Kerja sama itu membuka peluang bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam pengumpulan data serta pengembangan teknologi energi terbarukan.
Selain canal-top PV, diskusi juga menjajaki peluang pengembangan floating PV atau PLTS terapung. BRIN telah memiliki prototipe berkapasitas kecil yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut bersama mitra Korea Selatan.
Kedua teknologi tersebut memperluas pilihan pemanfaatan ruang untuk pembangkit energi surya, baik di atas saluran irigasi maupun di permukaan perairan. Namun, setiap penerapan tetap memerlukan pengujian teknis dan kajian kelayakan berdasarkan karakteristik lokasi.
Melalui kolaborasi ini, BRIN berupaya membawa riset PLTS di atas saluran irigasi menuju demonstrasi teknologi yang terukur. Hasil riset, dukungan regulasi, keterlibatan masyarakat, dan model bisnis yang layak akan menentukan peluang penerapan inovasi tersebut secara berkelanjutan di Indonesia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















![[Siaran Pers] Kolaborasi dalam Inovasi Pelayanan Publik, Wamen Nezar: Daerah Tak Perlu Bangun Sistem Sendiri](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/11/siaran-pers-kolaborasi-dalam-inovasi-pelayanan-publik-wamen-nezar-daerah-tak-perlu-bangun-sistem-sendiri.png)
