Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan diplomasi keagamaan atau religious diplomacy dapat menjadi instrumen strategis untuk merespons persoalan kemanusiaan global dan meredakan dinamika geopolitik internasional. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri pembukaan Moroccan Week di Jakarta, Sabtu (30/10/2026). Menag menilai pendekatan berbasis nilai spiritualitas mampu menjembatani perbedaan dan mengatasi kebuntuan dialog formal melalui mediasi serta pembangunan pemahaman bersama.
“Pendekatan diplomasi keagamaan dan nilai spiritualitas memiliki kekuatan mediasi yang esensial untuk menjembatani perbedaan, mengatasi kebuntuan dialog formal, serta membangun pemahaman bersama,” tegas Nasaruddin.
Menurut Nasaruddin, penguatan diplomasi keagamaan relevan untuk menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan dan tantangan geopolitik yang berkembang. Gagasan tersebut sebelumnya juga ia sampaikan dalam konferensi internasional di Vatikan yang mempertemukan tokoh lintas agama serta perwakilan negara-negara Muslim dan Kristen.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Indonesia dan Maroko Punya Modal Sosial
Menag mengatakan Indonesia dan Maroko memiliki rekam jejak dalam mengelola kerukunan serta membangun keterbukaan dialog lintas agama. Kondisi itu dinilai menjadi modal sosial penting untuk memperkuat diplomasi perdamaian dunia.
“Hubungan positif seperti inilah yang kita butuhkan untuk membangun harmoni yang lebih damai berdasarkan saling percaya dan komunikasi yang terbuka,” ucapnya.
Ia menambahkan, hubungan tersebut juga mencakup interaksi dengan berbagai komunitas keagamaan minoritas. Menurut dia, keterbukaan, welas asih, dan spiritualitas kemanusiaan menjadi benang merah yang memperkuat karakter keislaman Indonesia dan Maroko.
“Walaupun jaraknya jauh, Indonesia dan Maroko ini seperti negara kembar karena disatukan oleh kedekatan spiritual, tradisi Islam sufistik, tarekat, dan kesenian yang sangat mirip,” ujarnya, mengutip pandangan antropolog Clifford Geertz.
Nasaruddin menilai kesamaan corak keislaman yang moderat dan toleran menempatkan Indonesia dan Maroko pada posisi strategis. Kedua negara, yang masing-masing berada di ujung timur dan ujung barat peradaban Islam, dinilai dapat tampil sebagai bintang baru atau rising stars bagi masa depan dunia Islam.
“Masa depan dunia Islam yang modern dan damai ada di Indonesia dan Maroko. Keduanya memiliki posisi strategis untuk tampil sebagai rising stars di kancah global,” katanya.
Rumah Ibadah sebagai Ruang Perjumpaan
Nasaruddin menjelaskan fondasi diplomasi spiritual juga berkaitan dengan perubahan peran rumah ibadah dalam kehidupan masyarakat modern. Ia merujuk pada pengalaman pengelolaan Masjid Istiqlal di Jakarta untuk menegaskan bahwa rumah ibadah tidak seharusnya hanya dipahami sebagai tempat pelaksanaan ritual keagamaan.
“Rumah ibadah, baik masjid, gereja, maupun tempat ibadah lainnya, tidak boleh hanya dimaknai sebatas tempat peribadatan ritual, tetapi harus mampu menjadi ruang perjumpaan kemanusiaan yang terbuka dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.
Menurut Menag, rumah ibadah semestinya turut menjadi tempat untuk mencari jalan keluar atas berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan. Pengabdian kepada Tuhan, kata dia, perlu diwujudkan melalui pelayanan dan kepedulian terhadap sesama manusia.
Pandangan tersebut menjadi bagian dari gagasan diplomasi keagamaan yang ingin memperluas ruang dialog, membangun saling percaya, dan mendorong penyelesaian persoalan melalui nilai kemanusiaan serta spiritualitas.
Kerja Sama dengan 58 PTKIN
Dalam kesempatan itu, Menag juga menyampaikan rencana kerja sama Kementerian Agama dengan Maroko. Indonesia akan menghadirkan sarjana dan ulama terkemuka asal Maroko dalam konferensi internasional yang digelar di Indonesia pada tahun depan.
Kerja sama tersebut juga akan diarahkan pada perluasan kolaborasi akademik dengan puluhan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
“Tahun depan kami akan menggelar konferensi internasional dengan mengundang para ulama dan akademisi Maroko, sekaligus memperluas kolaborasi akademik dengan 58 PTKIN di Indonesia,” tuturnya.
Nasaruddin berharap sinergi Indonesia dan Maroko dapat menjadi lokomotif utama dalam menyuarakan pesan perdamaian dunia Islam di kancah internasional.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















