Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam kembali menggelar The Wonder of Harmony pada 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama agar masyarakat dapat merasakan langsung makna harmoni melalui interaksi dan kerja sama. Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar menyampaikan hal itu dalam konferensi pers rangkaian The Wonder of Harmony 2026, Senin (26/10/2026).
Menurut Thobib, kerukunan umat beragama tidak cukup dirawat melalui penyampaian pesan dalam bentuk publikasi. Harmoni perlu diwujudkan melalui kegiatan nyata yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk komunitas lintas agama, keluarga, generasi muda, dan kelompok masyarakat lainnya.
“Artinya, masyarakat itu diajak untuk memiliki dan merasakan secara langsung tentang makna dan arti harmoni itu sebenarnya,” ujar Thobib.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
The Wonder of Harmony Perbanyak Ruang Perjumpaan
Thobib menjelaskan, komunikasi mengenai harmoni perlu melampaui penyebaran pesan melalui video, poster, dan media publikasi lainnya. Menurut dia, pesan kerukunan akan semakin bermakna ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk saling bertemu, mengenal, serta bekerja sama.
“Kegiatan The Wonder of Harmony ini juga bagian dari upaya untuk memperbanyak ruang-ruang perjumpaan. Karena harmoni itu biasanya justru dibangun melalui perjumpaan, bukan semata-mata dari apa yang selama ini kita sebut sebagai sebuah harmoni dari susunan kalimat,” ungkapnya.
Ia menilai, perjumpaan antarmasyarakat dapat memperkuat pengalaman hidup bersama di tengah keberagaman Indonesia. Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan menjelang akhir tahun, ketika masyarakat akan menghadapi berbagai momentum keagamaan dan libur panjang, termasuk perayaan Natal dan Tahun Baru.
Melalui kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, pesan kerukunan tidak berhenti pada tataran wacana. Masyarakat didorong untuk membangun hubungan sosial secara langsung dan menjadikan keberagaman sebagai bagian dari pengalaman hidup bersama.
Kerukunan Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Thobib menegaskan, menjaga harmoni bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau Kementerian Agama. Kerukunan, kata dia, merupakan kewajiban seluruh elemen bangsa.
“Isu soal harmoni itu harus dipahami bukan hanya miliknya pemerintah, tapi adalah milik semua elemen masyarakat,” tegasnya.
Menurut Thobib, keberagaman Indonesia membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat untuk menjaga hubungan sosial, membangun komunikasi, serta menyelesaikan persoalan yang muncul dalam kehidupan bersama. Karena itu, upaya merawat kerukunan perlu dimulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, komunitas, dan masyarakat setempat.
Keterlibatan masyarakat juga menjadi penting agar kerukunan tidak hanya dipahami sebagai pesan yang disampaikan lembaga pemerintah. Harmoni perlu hadir dalam hubungan sehari-hari melalui interaksi dan kolaborasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Peran Media dalam Menguatkan Pesan Harmoni
Dalam kesempatan yang sama, Thobib menyoroti peran media massa dalam memperkuat komunikasi publik mengenai kerukunan umat beragama. Ia mengatakan, media tidak hanya bertugas menyampaikan informasi mengenai kegiatan pemerintah, tetapi juga berkontribusi menghadirkan pemberitaan yang menggali substansi persoalan dan nilai-nilai kehidupan bersama.
“Media bukan hanya sekadar memberitakan apa yang akan disampaikan, tapi media juga punya tanggung jawab untuk bagaimana menceritakan yang lebih esensial, menceritakan yang lebih substansial,” ujarnya.
Thobib menyebut kolaborasi lembaga keagamaan dan media sebagai bagian dari dakwah bil qalam, yakni penyampaian nilai-nilai kebaikan melalui tulisan dan pemberitaan. Ia berharap sinergi tersebut terus diperkuat, termasuk melalui media digital yang menjadi salah satu sumber informasi keagamaan bagi generasi muda.
Menurut dia, pendekatan komunikasi keagamaan juga perlu memperhatikan karakter generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Media dan ruang digital dapat digunakan untuk mengembangkan pesan toleransi dengan bahasa serta pendekatan yang relevan bagi generasi tersebut.
Ukuran Keberhasilan Bukan Sekadar Publikasi
Thobib menegaskan, keberhasilan komunikasi mengenai kerukunan tidak cukup diukur dari banyaknya publikasi yang dihasilkan. Ukuran yang lebih penting, kata dia, adalah semakin luasnya ruang perjumpaan, meningkatnya kolaborasi, dan semakin besar manfaat kehidupan beragama yang dirasakan masyarakat.
“Ukuran yang pentingnya adalah semakin banyaknya ruang perjumpaan, semakin banyaknya kolaborasi yang tinggi, dan masyarakat semakin merasakan manfaat kehidupan keagamaan yang harmoni,” tuturnya.
Dengan demikian, The Wonder of Harmony tidak hanya menjadi sarana penyampaian pesan tentang kerukunan. Kegiatan tersebut juga ditempatkan sebagai ruang bagi masyarakat untuk bertemu, membangun komunikasi, dan memperkuat kehidupan bersama di tengah keberagaman.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















