Headline.co.id, Jakarta ~ Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam Kementerian Agama menyiapkan Ruang Inklusif dan Setara (RISE) serta mengembangkan Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (KOSMIN) untuk memperluas akses keagamaan bagi penyandang disabilitas, khususnya teman Tuli. Program tersebut diarahkan untuk membantu teman Tuli memahami ajaran Islam sekaligus meningkatkan kemampuan petugas layanan keagamaan dalam berkomunikasi secara inklusif. Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad menyampaikan hal itu dalam konferensi pers The Wonder of Harmony 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Pengembangan layanan ini dilakukan melalui penyusunan kosakata isyarat, pelatihan petugas, serta kolaborasi dengan komunitas dan perguruan tinggi.
KOSMIN Susun Kesepakatan Isyarat Istilah Keislaman
Abu Rokhmad mengatakan, perluasan akses keagamaan menjadi salah satu fokus pengembangan layanan Kemenag. Upaya tersebut tidak hanya ditujukan kepada penyandang disabilitas, tetapi juga kepada petugas keagamaan agar dapat memberikan pelayanan dengan cara yang lebih setara dan mudah diakses.
Menurut dia, Kemenag telah mengembangkan KOSMIN sebagai upaya menghadirkan kesepahaman mengenai isyarat untuk berbagai istilah keislaman yang belum memiliki padanan yang disepakati bersama oleh komunitas Tuli.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Kami sudah launching KOSMIN, Kosakata Isyarat Keislaman, yang sedang kita susun untuk membantu teman-teman kita yang istimewa itu bisa memahami agama Islam, agama yang mereka anut itu, dengan cara yang lebih baik,” ujar Abu Rokhmad.
Ia menjelaskan, sejumlah istilah dalam ajaran Islam, seperti iman, akhirat, dan fiqih, membutuhkan padanan isyarat yang dapat dipahami secara bersama. Penyusunan kosakata tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan komunikasi dalam pembelajaran dan pembinaan keagamaan.
“Dengan adanya ini, akan ada kesepakatan di mereka isyarat apa yang paling tepat untuk bisa mendapatkan pengganti kosakata-kosakata keislaman,” jelasnya.
Selain mengembangkan kosakata isyarat, Kemenag telah menghadirkan eksibisi cabang bagi peserta Tuli dalam penyelenggaraan MTQ Nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas partisipasi penyandang disabilitas dalam kegiatan keagamaan.
RISE Tingkatkan Kapasitas Pendakwah dan Konselor
Program RISE disiapkan Ditjen Bimas Islam dalam rangkaian The Wonder of Harmony 2026 untuk memperkuat layanan keagamaan yang aksesibel. Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas pendakwah, penyuluh agama, dan konselor keluarga dalam memberikan pendampingan kepada penyandang disabilitas.
RISE dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI). Dalam pelaksanaannya, penyandang disabilitas dilibatkan sebagai penggerak sekaligus sumber pengetahuan mengenai kebutuhan komunitasnya.
Peserta RISE akan dibekali keterampilan komunikasi yang aksesibel, pemahaman mengenai kebutuhan keluarga penyandang disabilitas, serta pendekatan pendampingan yang empatik dan setara. Program tersebut dirancang dalam dua bentuk penguatan kapasitas, yakni Pendakwah Inklusif bagi penyuluh agama dan penggerak dakwah, serta Konselor Keluarga Inklusif bagi tenaga konseling keluarga.
Abu Rokhmad berharap semakin banyak penyuluh agama dan penghulu yang memiliki kemampuan bahasa isyarat sehingga dapat memberikan pelayanan secara langsung kepada teman Tuli.
“Nah, yang terkait dengan RISE ini memang kita berharap ada cukup banyak orang yang bisa menggunakan bahasa isyarat, terutama dari kalangan para penyuluh agama dan penghulu,” ungkapnya.
Menurut dia, kemampuan tersebut penting untuk mendukung pelayanan dalam pembelajaran ajaran Islam, pembinaan keluarga, maupun kegiatan keagamaan di lingkungan masjid.
Kemenag Dorong Layanan Inklusif di Daerah
Abu Rokhmad mengakui jumlah penyuluh agama dan penghulu yang memiliki kemampuan bahasa isyarat masih terbatas. Meski demikian, sejumlah daerah telah mengembangkan inisiatif kerja sama dengan komunitas setempat, termasuk di Kota Malang.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi yang memiliki pusat kajian terkait disabilitas juga mulai dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Surabaya. Kemenag berharap berbagai inisiatif tersebut berkembang sehingga layanan keagamaan yang aksesibel tidak hanya tersedia di kota-kota besar.
“Secara bertahap kami berharap makin banyak teman-teman Tuli yang mendapatkan manfaat dari ini. Terutama kita mendorong agar para penyuluh agama dan juga para penghulu makin banyak yang menguasai bahasa isyarat ini,” katanya.
Kemenag juga berencana mendorong lebih banyak petugas layanan keagamaan mengikuti pelatihan atau kursus bahasa isyarat. Dengan demikian, peningkatan kemampuan komunikasi diharapkan menjadi bagian dari penguatan kapasitas petugas, bukan hanya berlangsung dalam satu kegiatan.
“Saya kira ini inisiatif kecil yang saya berharap bisa memberikan dampak yang nyata bagi kawan-kawan kita. Tentu dengan segala keterbatasan kami akan terus mendorongnya sebesar-besarnya,” ujar Abu Rokhmad.
Melalui KOSMIN dan RISE, Kemenag berupaya memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk memahami ajaran agama, memperoleh pendampingan keluarga, serta berpartisipasi dalam kehidupan keagamaan secara lebih setara.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















