Headline.co.id, Semarang ~ Lina Hidayatul Awaliyah dan Ardiansyah Wahyu Santoso menikah setelah dipertemukan melalui perjodohan oleh kiai di Pondok Pesantren Uswatun Hasanah, Mangkang Wetan, Semarang, Jawa Tengah. Keduanya kemudian mengikuti nikah massal Kementerian Agama bertajuk “Bimas Islam, Pak Yai dan Bu Nyai Mantu Santri” di Masjid Agung Jawa Tengah. Pernikahan itu menjadi kelanjutan dari proses perkenalan yang awalnya berlangsung tanpa kedekatan khusus. Program tersebut memberi jalan bagi keduanya untuk membangun rumah tangga dengan dukungan pesantren dan pemerintah.
Lina dan Ardiansyah sama-sama menimba ilmu di Pondok Pesantren Uswatun Hasanah. Meski berada di lingkungan pendidikan yang sama, keduanya mengaku tidak langsung saling mengenal dekat.
Ardiansyah mengatakan, sebelum melanjutkan pendidikan di pesantren tersebut, ia pernah menempuh pendidikan di Magelang. Setelah kembali ke Semarang, ia bertemu Lina di lingkungan pesantren.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Pertama kan enggak kenal sama sekali. Maksudnya, kita satu sekolahan, tetapi enggak terlalu dekat,” cerita Ardiansyah, Rabu (21/10/2026).
Nikah massal Kemenag berawal dari informasi pesantren
Hubungan keduanya mulai menemukan arah setelah kiai dan nyai di pesantren menyampaikan informasi mengenai program nikah massal Kemenag. Tawaran itu kemudian menjadi kesempatan bagi Lina dan Ardiansyah untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Mereka sepakat mengikuti kegiatan tersebut meski sebelumnya belum memiliki kedekatan khusus sebagai pasangan. Proses itu sekaligus memperlihatkan bahwa perkenalan dan kecocokan dapat tumbuh seiring waktu, bukan selalu hadir sejak pertemuan pertama.
Ardiansyah mengaku, perjodohan tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Menurut dia, pasangan membutuhkan proses untuk saling mengenal dan memahami sebelum mantap membangun rumah tangga.
“Terus, ya, nanti seiring berjalannya waktu lah bisa menemukan cinta,” ujarnya.
Lina menjalani proses tersebut bersama Ardiansyah. Latar belakang pendidikan agama yang mereka peroleh di pesantren menjadi bekal awal untuk memulai kehidupan sebagai pasangan suami istri.
Berharap nikah massal kembali digelar
Bagi Lina dan Ardiansyah, pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua orang. Pernikahan juga menjadi awal perjalanan baru yang disertai tanggung jawab lebih besar.
Keduanya berharap dapat terus belajar bersama, saling memahami, dan membangun keluarga yang harmonis. Mereka juga berharap kegiatan nikah massal seperti itu kembali diselenggarakan pada tahun mendatang dengan jumlah peserta yang lebih banyak dan suasana yang lebih meriah.
“Ya, semoga tahun depan ada acara kayak gini lagi, tapi tambah meriah dari ini. Tambah banyak pesertanya dari ini,” kata Ardiansyah.
Menurut Ardiansyah, kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada para santri untuk menempuh kehidupan pernikahan dengan dukungan dari pesantren dan pemerintah. Ia berharap semakin banyak santri yang mendapat kesempatan serupa, terutama mereka yang telah siap membangun rumah tangga.
Ia dan Lina juga menyampaikan pesan kepada para santri yang belum menikah agar tidak takut menghadapi pernikahan. Namun, kesiapan diri dan bekal ilmu agama tetap menjadi hal penting sebelum mengambil keputusan untuk membangun keluarga.
“Jangan takut menikah. Jangan lupa belajar ngaji dulu, habis itu menikah,” pesan Ardiansyah.
Kemenag dorong kesiapan lahir dan batin
Ardiansyah juga mengingatkan para santri untuk tetap terbuka terhadap arahan dan nasihat para kiai dalam urusan jodoh. Menurutnya, bekal agama serta bimbingan dari orang-orang yang dipercaya dapat membantu calon pasangan mempersiapkan diri menjalani kehidupan rumah tangga.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad mengatakan kegiatan “Bimas Islam, Pak Yai dan Bu Nyai Mantu Santri” merupakan bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pernikahan dan pembangunan keluarga.
“Kementerian Agama sangat bersyukur kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi dan literasi kepada masyarakat. Ini juga merupakan bagian dari upaya Kementerian Agama untuk terus mendorong masyarakat yang sudah siap lahir dan batin untuk segera menikah,” ujar Abu Rokhmad.
Abu Rokhmad berharap kegiatan tersebut memberi manfaat bagi para pasangan yang mengikutinya. Ia juga berharap pernikahan itu menjadi awal terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan penuh rahmat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















