Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendorong kesiapan migrasi kriptografi pasca-kuantum (PQC) untuk menghadapi ancaman Q-Day, yakni masa ketika komputer kuantum mampu mematahkan algoritma kriptografi konvensional. Strategi tersebut dibahas melalui lokakarya perlindungan kuantum di Jakarta pada pertengahan Oktober dan perhelatan Bali Tech Week (BTW) serta AI & Cybersecurity Executive (AICX) Forum di Sanur, Bali, Selasa (20/10/2026). Langkah ini ditempuh karena peretas berpotensi mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk dipecahkan pada masa mendatang melalui metode Harvest Now, Decrypt Later. Selain migrasi PQC, BSSN mendorong penguatan kedaulatan teknologi nasional untuk melindungi infrastruktur vital, layanan publik, dan data negara.
Ancaman tersebut muncul seiring perkembangan komputer kuantum yang diperkirakan dapat meruntuhkan algoritma pertahanan konvensional dalam hitungan detik. Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Marsekal Muda TNI Tjahjo Khurniawan, menyampaikan risiko itu di hadapan teknokrat dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan IBM dalam kegiatan di Jakarta.
Menurut Tjahjo, ancaman tidak hanya berupa pencurian data dalam jangka panjang. Negara juga menghadapi risiko Trust Now, Forge Later yang menyasar pemalsuan sistem autentikasi dan tanda tangan digital tingkat tinggi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Perkembangan komputasi kuantum berpotensi mematahkan algoritma kriptografi kunci publik yang saat ini kita gunakan. Migrasi ke PQC bukan lagi sebuah pilihan, melainkan agenda strategis nasional yang harus dipersiapkan seefektif dan sedini mungkin sebagai upaya preventif menghadapi Q-Day,” kata Tjahjo.
Peta jalan migrasi kriptografi pasca-kuantum
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah menyiapkan Peraturan Presiden terkait Peta Jalan Migrasi Kriptografi Pasca-Kuantum Nasional 2027–2035. Peta jalan itu memuat enam prioritas strategis, lain penyelarasan regulasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan penciptaan ekosistem pelindungan data yang adaptif atau crypto-agility.
Pelaksanaan peta jalan tersebut dikawal Gugus Tugas Nasional Penyiapan Migrasi Kriptografi Tahan Kuantum. Gugus tugas itu dinakhodai pakar lintas disiplin, yakni Kalamullah Ramli, Pratama Dahlian Persadha, dan Ricardo Irwan Rei.
Gugus tugas bertanggung jawab memetakan titik rentan aset kriptografi pada jaringan pemerintahan esensial. Mereka juga mengeksplorasi manajemen kriptografi hibrida yang memadukan algoritma klasik dan kuantum secara bersamaan.
Pendekatan tersebut ditujukan untuk memastikan layanan publik tetap berjalan selama masa transisi menuju sistem kriptografi yang tahan terhadap ancaman kuantum.
Kedaulatan teknologi dan keamanan sistem
Dalam forum BTW 2026 di Sanur, Wakil Kepala BSSN A. Rachmad Wibowo menyoroti pentingnya kedaulatan sandi kriptografi sebagai lapis pertahanan negara. Kemandirian teknologi dinilai penting untuk memutus rantai ketergantungan terhadap entitas asing dan sejalan dengan visi Asta Cita terkait penguatan pertahanan nasional.
Tantangan keamanan juga semakin kompleks karena berlangsung bersamaan dengan perkembangan kecerdasan buatan. Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, mendorong penerapan prinsip perlindungan sistem sejak tahap perancangan atau security by design.
BSSN menempatkan kesiapan sistem tahan kuantum sebagai kewajiban investasi dasar bagi seluruh pelaku ekonomi digital. Dengan demikian, pengamanan tidak hanya dilakukan setelah sistem berjalan, tetapi dipertimbangkan sejak awal pembangunan teknologi.
Perhelatan di Bali tersebut turut dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, serta delegasi menteri sektoral dari Malaysia dan Singapura.
BSSN menilai evolusi ancaman dari mesin komputasi super perlu diantisipasi melalui migrasi kriptografi pasca-kuantum dan penguatan kemandirian arsitektur teknologi. Strategi itu diarahkan untuk menjaga ekosistem ekonomi serta kedaulatan data agar tetap aman di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















